Jika Si Kecil Tumbuh Di Tengah Orang Dewasa

P>Di tahun 70-an, cukup sedikit pasangan yang memiliki anak hanya 2, rata-rata 3-5, bahkan tidak sedikit yang lebih dari 6. Tapi, memasuki era 90-an, keadaan seperti itu mungkin jarang kita temukan. Banyak keluarga muda sekarang ini yang anaknya hanya 1 atau 2 dan maksimalnya 3.

 

Dengan kesibukan orangtua yang harus bekerja di luar rumah, tidak sedikit anak yang harus tumbuh-kembang di tengah orang dewasa, misalnya kakek-neneknya, bibinya, atau susternya di rumah. Apakah ini akan memberikan pengaruh tertentu bagi perkembangan jiwanya?

Pengaruhnya pasti ada, misalnya lahirnya stereotype kolektif tertentu. Tapi ini tidak otomatis terkait dengan soal baik-buruk. Untuk soal yang ini, sebagian besarnya ditentukan oleh kualitas pengasuhan, bukan oleh keadaan eksternal tertentu, meski harus kita akui ada sumbangannya.

Satu dari sekian indikasi kualitas pengasuhan itu adalah kedekatan anak pada orang dewasa tertentu, dari orangtuanya, kakek-neneknya, bibinya, susternya, dan lain-lainnya. Secara umum, anak-anak punya kebutuhan untuk membangun kelekatan khusus dengan orang dewasa di sekitarnya.

Motif mereka adalah untuk keamanan (security) dan kenyamanan (comfort). Yang perlu kita pastikan di sini adalah anak-anak kita mendapatkan perasaan kedekatan yang aman, dimana ia merasa terpenuhi kebutuhan baik secara fisiologis maupun psikologisnya.

Kajian psikologi (Judith R. Harris: The Child: 1991) mengungkap, anak yang mendapatkan kedekatan yang aman cenderung lebih periang, bersahabat, kompeten, mentalnya lebih bagus saat menghadapi perbedaan atau kegagalan, lebih percaya diri dan lebih bahagia. Kecenderungan ini kerap menjadi kebalikan dari anak yang tidak mendapatkannya.

Nah, terlepas kita bekerja dua-duanya atau salah satunya, yang paling inti  di sini adalah menyadari pentingnya menciptakan budaya orang dewasa yang bersahabat dengan anak-anak., dari mulai ucapan, sikap, dan perlakuan. Khusus untuk kita yang kebetulan bekerja dua-duanya, pendekatan spiritual menjadi penting.

Maksudnya, kalau kita memperlakukan orang yang kita amanati untuk menjaga anak itu secara bersahabat, maka orang itu pun akan cenderung mengeluarkan pendekatan yang bersahabat juga pada anak kita. Tapi ini tidak berarti kita lepaskan begitu saja tanpa pengawasan dan percaya sepenuhnya 100%. Pengarahan dan pengawasan tetap dibutuhkan untuk memastikan adanya kedekatan yang aman.  

Yang juga tidak bisa kita abaikan adalah kebutuhan anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya ketika menjelang 2 tahun, misalnya bermain, bertukar cerita, dst. Bermain punya efek yang bagus bagi perkembangan anak. Caranya bisa melalui playgroup, kursus, atau cara alamiah, ini hanya soal cara yang bebas kita pilih.

Intinya, selain mereka punya kebutuhan kedekatan terhadap orang dewasa, mereka juga punya kebutuhan untuk eksplorasi ke luar terutama dengan teman sebayanya. Semoga bermanfaat.

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait