Stimulasi Bijak Awal Anak Cerdas

Demi kecerdasan putri saya (12 bulan), seorang rekan mengatakan saya bisa mulai mengajarinya membaca. Apakah ini langkah yang tepat? Apakah anak bisa menerima stimulasi ini? Saya tidak mau hal ini nantinya akan menjadi beban buat putri saya. (Ny. Laras – Semarang)

Mengapa Si Kecil Butuh Stimulasi?
Ibu Laras yang terhormat, setelah lahir sel-sel otak si Kecil yang telah terbentuk selama ia dikandung akan terus bertambah dan mencapai puncaknya di usia tiga tahun. Inilah sebabnya usia 0-3 tahun disebut merupakan masa keemasan perkembangan otak si Kecil (the golden age), sehingga orang tua sangat dianjurkan untuk memaksimalkan stimulasi di masa tersebut.

Untuk itu, disarankan jadilah orang tua bijak yang tahu stimulasi yang tepat dan terbaik di tiap tahap tumbuh kembang si Kecil.

Stimulasi Membaca. Tepatkah di Usia Dini?
Saat ini mengenalkan huruf atau mengajari anak membaca di usia dini bukanlah hal aneh. Namun harus diingat bahwa orang tua harus melihat kemampuan dan minat si Kecil. Jangan sampai memaksakan atau membebaninya, karena dapat menimbulkan dampak negatif.

Yang paling banyak terjadi akibat dari memaksakan si Kecil mempelajari sesuatu yang sesungguhnya di luar kemampuannya adalah ia menjadi frustasi, murung, dan bingung. Lebih jauh lagi, meski akhirnya bisa membaca, tapi si Kecil memiliki kesulitan dalam memahami tulisan atau buku yang dibacanya.

Sebaliknya proses belajar harus berupa kegiatan yang menyenangkan dan dilakukan melalui proses sosialisasi. Misalnya, anak mengenal huruf dari benda yang sering dilihat dan ditemui.

Cara lainnya adalah dengan mengenalkan anak dengan buku dan membuat mereka tertarik dengan ceritanya. Untuk anak usia 1-2 tahun, bacakan cerita dengan pengulangan dan kata berirama, sedang anak usia 2-3 tahun mulai menyukai cerita dengan kalimat pendek dan sederhana.

Stimulasi Sesuai Usia
Meski bertujuan mencerdaskan si Kecil, stimulasi disarankan tidak dilakukan secara berlebihan. Stimulasi harus diberikan sesuai tahapan usia, secara proposional, dan dapat merangsang seluruh indera, serta berbagai aspek kecerdasannya. Antara lain kecerdasan berkomunikasi, emosi, gerak motorik baik kasar dan halus, visuo-spasial, dan lain-lain.

Usia 12–18 bulan:

  • Latih si Kecil memegang pensil, mencoret-coret kertas dengan pensil warna, menyusun kubus
  • Ajari menggunakan peralatan makan
  • Mulai berjalan tanpa pegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola.
  • Mengerti dan melakukan perintah sederhana
  • Menyebutkan nama dan menunjukkan benda-benda

Usia 18-24 bulan:

  • Rangsang anak menyebut dan menunjukkan bagian-bagian tubuh, menyebutkan nama-nama binatang dan benda di sekitar rumah
  • Latihan menggambar garis
  • Mencuci tangan, memakai celana dan baju

Usia 2-3 tahun:

  • Ajari si Kecil mengenal warna, menggambar lingkaran dan manusia
  • Menghitung benda
  • Latih sikat gigi, juga membuang air kecil dan besar di toilet

Usia 3 tahun ke atas:

  • Stimulasi mengarah pada pengembangan kemampuan untuk kesiapan sekolah. Mulai dari memegang pensil, menulis, mengenal huruf dan angka, dan berhitung sederhana.
  • Belajar berbagi dengan teman dan belajar mandiri

Mulai sekarang, luangkanlah waktu untuk membacakan buku-buku bagi si Kecil. Tidak hanya ia dapat mengenal huruf dan benda, tapi juga dapat memperluas wawasannya.

Tahukah Bunda?
Bermain adalah hal alamiah bagi si Kecil, dan penting untuk perkembangan motorik kasar, halus, dan kemampuan berpikirnya. Mengajari membaca pun dapat Bunda lakukan melalui bermain.

(PT Nestlé Indonesia bekerjasama dengan GRAMS 2008)

Share artikel ini:

Artikel Terkait