Sudahkah Kita Menang Terhadap Diri Sendiri?

Tradisi keagamaan yang setiap tahun kita rayakan adalah Idul Fitri. Idul artinya kembali, sedangkan Fitri artinya suci atau juga menang. Kalau meminjam penjelasan ilmu kesehatan, semua orang yang lahir ke dunia ini sebetulnya adalah pemenang atau memiliki keunggulan yang paling banyak ketimbang benin-benih janin lainnya dalam perut sang ibu yang tak terhitung jumlahnya.

Meski kita memiliki potensi keunggulan, tapi kita juga diuji dengan kekuatan negatif lain untuk membuktikan apakah kita ini benar-benar unggul atau tidak. Kekuatan itulah yang kita kenal dengan istilah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah keinginan-diri yang subyektif yang kerap membuat kita keliru dalam mengambil keputusan atau dalam melangkah.

Dari penjelasan yang sudah umum dikatakan bahwa di antara keinginan-diri yang berbau nafsu itu adalah:

  1. Kedengkian. Kita tidak rela melihat prestasi orang lain atau mempunyai keinginan agar nikmat hidup orang lain itu pindah ke kita. Cara mengalahkannya adalah dengan membiasakan sikap belajar dari siapa saja, kapan saja, dan dimana saja serta menyayangi orang yang  jadi sasaran kedengkian itu.
  2. Kecenderungan pada yang negatif (pikiran, ucapan, sikap, dan tindakan). Pikiran negatifakan menjadi penghalang untuk meraih prestasi, bahkan menjadi sumber penyakit yang paling besar. Karenanya, perlu kita kalahkan dengan menghentikannya dengan menciptakan agenda hidup positif.
  3. Bersikap pesimis terhadap diri sendiri. Misalnya, kita sebetulnya punya kesempatan, peluang, dan kemampuan untuk memperbaiki diri, namun itu tidak kita lakukan, karena kita selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Ini jelas menganiaya diri dan perlu kita hentikan dengan merebut tanggung jawab: kitalah yang harus memperbaiki diri sendiri lebih dulu, tanpa menunggu dukungan orang lain atau keadaan.
  4. Keculasan ketika bergaul. Ketika kita bersosialisasi dengan orang lain, kita harus saling memberi energi positif agar kita menjadi sering dan banyak bertemu dengan orang positif.
  5. Kesombongan. Tanda kesombongan itu adalah penolakan terhadap hal- kebaikan, kebenaran karena ego dan sikap yang merendahkan orang lain. Kesombongan bisa muncul karena merasa mempunyai kelebihan. Kesombongan membuat kita sulit berkembang karena pikiran kita dipersempit oleh nafsu.
  6. Sifat yang kikir. Jiwa yang kikir dapat membuat kita sulit membantu, menolong, atau bakhil terhadap orang lain. Selain dibenci oleh naluri universal manusia, hal ini pun dibenci oleh Tuhan. Karenanya, kita perlu belajar menjadi pemurah.

Semua orang pasti menginginkan prestasi setinggi mungkin, sesuai ukurannya. Hanya, seringkali bukan prestasi itu yang tidak sanggup kita raih, melainkan hawa nafsu yang belum sanggup kita kalahkan, sehingga keinginan itu gagal atau terhambat proses pencapaiannya. Karena itu, mengalahkan nafsu itu menjadi penting. Caranya adalah dengan puasa yang tidak sekedar kita jalankan dengan tidak makan dan minum, melainkan juga dengan puasa jiwa supaya kita meraih Idul Fitri atau kembali menjadi suci, seperti pada saat kita bayi. 

Share artikel ini:

Artikel Terkait