Supaya Anak Bisa Terbuka Pada Orang Yang Tepat

Siapakah orang yang tepat bagi anak untuk seharusnya bisa terbuka? Yang pertama tentu orang tua, lalu keluarga besar. Pihak lain yang juga sangat tepat adalah gurunya. 

Memfasilitasi anak supaya bisa terbuka pada orang-orang yang tepat menjadi penting agar dia tidak memendam perasaan, dipenuhi tanda tanya atau juga jangan sampai dia menyembunyikan masalah yang berpotensi kurang baik.

Misalnya saja anak mengalami perlakuan kurang baik dari orang dewasa atau anak lain yang lebih senior. Jika dia tidak terbiasa difasilitasi untuk terbuka, mungkin dia akan merasakannya seorang diri yang menimbulkan perasaan tertekan atau ketakutan. 

Pertanyaannya adalah, fasilitas seperti apa yang mendorong anak untuk bisa terbuka pada orang-orang yang tepat? Dari pengalaman sehari-hari, ada beberapa hal yang dibutuhkan anak agar terbiasa untuk terbuka, antara lain:

  • Ciptakan hubungan yang hangat. Misalnya sering bercanda atau mengajak anak ke suatu tempat atau keadaan yang membuat dia bisa berdialog dengan kita. Hubungan yang seperti atasan-bawahan di rumah sangat tidak mendukung anak untuk terbuka.
  • Hindari sikap reaktif yang berlebihan. Misalnya anak mengadu temannya begini dan begitu, lalu kita langsung menghubungi gurunya untuk mengeluhkan persoalan tersebut, atau memarahi temannya itu. Sikap demikian bisa membuat anak kapok untuk terbuka.
  • Kemampuan mendengarkan juga penting. Memotong anak saat dia berbicara, bersikap cuek, maupun langsung memarahi si anak atas kesalahannya, tidak mendukung anak untuk bersikap terbuka. Mendengarkan yang diperlukan adalah emphatic listening, mendengarkan dengan penuh empati.
  • Selain itu, kemampuan bertanya juga sangat penting. Ajukan pertanyaan yang membuat anak terdorong untuk bercerita atau bereksplorasi. Untuk mudahnya, gunakan saja rumus 5W+1H (What, Why, Where, When, Who, dan How). Hindari pertanyaan yang menghakimi atau yang memojokkan agar dia tidak kapok untuk terbuka.
  • Menunjukkan keakraban dengan guru juga sangat mendukung karena si anak akan berpikir bahwa gurunya adalah orang tuanya juga atau orang yang aman untuk berbicara terbuka.
  • Memotivasi anak dengan memberi reward setelah dia terbuka juga menjadi fasilitas yang sangat bagus. 

Di luar dari poin-poin di atas,  satu hal lagi yang paling mendasar di sini adalah pola pengasuhan. Pengasuhan yang paling mendukung si anak untuk terbuka adalah pengasuhan yang memberikan kebebasan berekspresi dan bereksperimen, dibarengi dengan pembekalan nilai-nilai ajaran dan tatakrama (otoritatif).

Semoga bermanfaat. 

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait