Tanda Anak Kreatif dan Tips Memfasilitasi

Kreativitas itu pilihan, bukan bakat. Setiap anak berpotensi menjadi kreatif. Kreativitas dapat dipupuk dan dibentuk sehingga setiap anak memiliki peluang menjadi kreatif.

Kreativitas = Seni?
Saat bertanya siapa contoh tokoh kreatif, banyak orang menyebutkan, Leonardo da Vinci, Basuki Abdullan, Melly Goeslow, Ramli, Peter Saerang, Deddy Mizwar, dan beberapa artis lainnya. Kreativitas tak hanya sebatas pada bidang seni, tetapi merupakan sikap (attitude) yang tak hanya melibatkan pola pikir melainkan kemampuan anak menyelesaikan masalah.

Banyaknya orang meraih kesuksesan karena kreativitas selain di bidang seni, misalnya Bill Gates contoh pengusaha kreatif yang bermula dari mimpi, di setiap rumah tangga selayaknya ada personal komputer. Kreatif tak hanya memiliki dan menjalankan ide, namun juga mampu mencari keunggulan dari kreativitas itu. Misalnya berani mengganti bumbu resep masakan dan akhirnya menemukan rasa masakan yang unik.

Fasilitasi anak belajar menemukan solusi sendiri dengan mempertimbangkan beberapa kemungkinan dan berani mengambil resiko atas pilihannya. Ia juga berani menunjukkan bahwa dirinya bisa berteman dengan masalah serta mampu melihat peluang, memiliki ide orisinil dan independen. Ajarkan anak menjadikan masalah layaknya sebuah bisnis, seni, atau ilmu pengetahuan. Sehingga sikap kreatif menjadi suatu kebiasaan.

Kreativitas adalah pilihan, bagaimana seseorang mampu menanggapi situasi juga bisa dikatakan kreatif. Setiap anak berpotensi menjadi kreatif, seperti yang dikatakan seorang pendidik kenamaan dari Inggris, Arthur J Cropley, bahwa tak seorang pun yang tidak memiliki kreativitas, karena jika demikian sama seperti tidak memiliki kepintaran sama sekali. Tidak kreatif berarti anak tidak berpikir dan tidak melakukan apa-apa. Sebab itu, sangat kecil kemungkinannya orangtua tak mampu membentuk kreativitas anak.

Orangtua bisa menjadi contoh bagi anak berlaku kreatif. Coba pikirkan kembali tindakan Anda saat menghadapi beberapa masalah. Apakah Anda melupakannya, atau mengandalkan orang lain menghadapi masalah, atau mencoba menarik diri saat tidak bisa menemukan solusi? Melalui pertanyaan ini, orangtua bisa menilai sendiri, kesiapan menjadi contoh bagi anak. Langkah pertama yang dapat orangtua lakukan yaitu mengenali dan mengembangkan kreativitas diri sebelum mengembangkan kreativitas anak.

Kreativitas di Kehidupan Sehari-hari
Dalam keseharian orangtua bisa memberi contoh kreatif pada anak. Misalnya, ketika menyusuri perjalanan pulang sekolah, Anda menemukan seorang pria duduk di sudut jalan berjualan nasi kotak. Ajak anak melihat kondisi dari perspektif yang berbeda, yaitu cara menjual makanan di jalanan merupakan salah satu solusi mendapatkan uang.

Kita sering melihat tukang sampah, mengangkut gerobak yang berat dengan menggunakan prinsip kuda menarik beban, sehingga beban dapat menjadi lebih ringan. Dengan menggunakan imajinasinya dan menggunakan prinsip yang ada, tukang sampah tersebut dapat mencari solusi dalam pekerjaannya.

Atau sekelompok anak yang memiliki ide untuk menciptakan jenis pena baru. Usaha pertama dilakukan dengan mengisi sedotan dengan tinta yang ditutup dengan kain pada satu sisi. Usaha ini tidak berhasil karena diameter sedotan terlalu kecil, lalu mereka mencoba dengan menggunakan selang yang lebih besar. Kelihatannya lebih baik, tetapi ternyata tinta cepat habis. Mereka tidak putus asa, akhirnya mereka menemukan cara dengan menutup kedua ujung selang dengan kain. Mereka menamai pena temuan baru ini lipstick pen.

Ciri-ciri Hal-hal yang bisa orangtua lakukan
Sadar bahwa dirinya kreatif.
  1. Jangan pernah mengatakan “Saya tidak kreatif”.
  2. Bagikan cerita kepada anak anda tentang problem yang anda hadapi dan bagaimana cara anda mengatasinya.
  3. Pada saat anak anda menghadapi masalah, katakan kepadanya “Mama yakin kita bisa mengatasi persoalan ini, kita hanya perlu berpikir.”
Berpikiran terbuka untuk ide-ide baru dan menolak penilaian yang premature.
  1. Dengarkan anak anda sebelum membuat komen apapun.
  2. Pada saat anak memberi ide, berikan komen yang positif terlebih dulu sebelum mengkritiknya.
Selalu penasaran menemukan solusi yang tepat.
  1. Pada saat memikirkan solusi, dorong dan bantulah anak untuk memikirkan paling tidak 2 alternatif solusi, kemudian tanyakan solusi yang mana yang lebih disukai. Atau tanyalah, "Kamu punya ide apa lagi ?"
Berani mengambil risiko dalam mencoba sesuatu yang baru.
  1. Pada saat anak ragu-ragu, katakan kepadanya, "Kamu tidak akan pernah tahu kalau tidak mencoba."
  2. Bila anakmencoba sebuah ide tetapi tidak berhasil sesuai harapan, tanyalah, "Apa yang dapat engkau pelajari dari ini ? Paling tidak kita telah tahu apa yang seharusnya tidak kita lakukan lain kali."
Tidak takut kepada problem yang sulit dan tidak mempunyai jawaban yang pasti
  1. Mengerti bahwa problem yang terbuka (open ended) adalah problem yang tidak memiliki satu jawaban yang benar.
  2. Berikan kepada anak setiap hari sebuah problem yang open ended, misalnya kita hari ini tidak punya air untuk memasak nasi, apa yang harus kita lakukan?
Orisinil, berpikir sesuatu yang baru dan tidak umum.
  1. Pada saat bermain game, katakan kepada anak "Mari kita memikirkan permainan yang belum pernah kita lakukan."
  2. Pada waktu memikirkan ide untuk projek di sekolah, katakan kepada anak "Ayo kita pikirkan sesuatu yang belum pernah dipikirkan orang lain. Kita buat sesuatu yang menarik dan lain dari yang lain."
Independen yakni percaya akan pemikirannya.
  1. Hindari steriotype anak anda (misalnya apa yang harus dilakukan oleh anak laki atau perempuan).
  2. Bangunlah rasa percaya diri anak.
Mampu memotivasi diri
  1. Berikan anak berbagai pengalaman yang berbeda untuk membantunya menemukan apa yang ia sukai dan tidak ia sukai.
  2. Mengidentifikasi minat anak dan membantunya mengembangkan minat tersebut.
Berpikir “Bagaimana jika…”, “Bagaimana cara lain untuk … ?”, “Mengapa … ?”
  1. Bermain “Bagaimana jika ?” dengan anak anda. Bergiliran bertanya “Bagaimana jika … ?, kemudian bersama-sama berimaginasi dan menggambarkan situasi dalam pertanyaan “bagaimana jika ?”.
  2. Pada malam hari, beritahu anak anda tentang apa yang anda ingin tahu selama hari ini. Kemudian meminta anak untuk sharing juga tentang apa yang ingin dia ketahui hari itu.
Memiliki rasa humor, mampu tertawa di saat gagal dan tetap semangat sesudahnya
  1. Tertawa akan kesalahan kita sendiri dan beritahu anak apa yang kita pelajari dari kesalahan.
  2. Ceritakan tentang cerita-cerita di mana orang membuat kesalahan, tetapi belajar dari kesalahan tersebut dan akhirnya berhasil sukses.

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan majalah Inspired Kids)

Share artikel ini:

Artikel Terkait