Tips Memelihara Binatang bagi Si Kecil

Binatang peliharaan memang menambah suasana semarak di rumah. Lebih dari itu, binatang peliharaan juga membangun rasa belas kasih anak. Namun hidup berdampingan dengan binatang peliharaan di rumah, ada pengaruh bahaya terhadap kesehatan anak.

1. Tidak semua binatang aman untuk dipelihara. Di luar yang lazim dipelihara di rumah, beberapa jenis binatang terlarang juga sering hidup bersama manusia. Khususnya jenis binatang buas, yang masih liar dan belum jinak, serta jenis binatang yang berisiko menularkan penyakit kepada manusia (zoonosis).

Ada cukup banyak jenis binatang yang bisa menularkan penyakit pada manusia. Selain yang lazim dipelihara di rumah, sebagian berada di alam bebas. Penyakit rabies atau gila anjing jarang ditularkan dari anjing peliharaan. Lebih sering oleh anjing liar. Namun anjing peliharaan bisa tertular dari luar rumah jika berkontak dengan sumber penularnya di luar rumah. Tertular sebab kontak gigitan dengan penular lainnya, seperti dari monyet, kelelawar, dan anjing lain, perlu diamati.

2. Maka bila ada kecurigaan itu, dan rabies sedang mewabah, tindakan memberi vaksinasi rabies, suatu keharusan. Gigitan, dan cakaran, dari binatang rumah yang bertabiat aneh, selagi rabies mewabah, perlu dipastikan, benar tidak tertular.

Kalau mencurigai sebuah gigitan atau cakaran kemungkinan rabies, tentu harus ke dokter hewan untuk memastikan kemungkinan rabies. Orang yang digigit harus segera ke dokter untuk mendapatkan suntikan khusus antirabies jika ternyata positif rabies.

3. Binatang peliharaan yang mengidap rabies umumnya berubah tabiatnya menjadi pendiam, dan bersifat menyerang kendati tidak diprovokasi. Selain takut terhadap air, liurnya lebih mengucur, dan sikapnya tak bersahabat. Semua gigitan atau cakaran dari binatang di luar rumah, apalagi yang liar, harus dicurigai berisiko tertular rabies.

4. Selain anjing, kucing peliharaan juga bisa berperan menjadi pembawa parasit toxoplasma. Kista parasit ini tersebar di mana-mana di sekitar rumah, termasuk di kotoran kucing, dan wadah makannya.

Bagi si pemelihara kucing yang berpenyakit toxoplasmosis, perlu mewaspadainya. Memang penyakitnya sendiri sering tidak begitu nyata, dan biasanya berlalu begitu saja, tanpa menyisakan bekas atau komplikasi. Namun bekas itu muncul di dalam darah. Reaksi antibodi terhadap toxoplasma meningkat jika darah diperiksa.

Tubuh anak perempuan atau wanita pranikah yang mengidap toxoplasma berisiko mengandung bayi cacat jika hamil sebelum penyakitnya disembuhkan. Maka pemeriksaan pranikah wajib memeriksa kemungkinan positif toxoplasma. Jika kedapatan positif, sembuhkan dulu toxoplasmosis-nya sebelum mulai hamil agar bayi yang dikandung tidak sampai cacat.

5. Paling rawan penyakit yang berasal dari burung peliharaan ketika wabah flu burung sudah beredar ke mana-mana. Benar burung peliharaan kecil kemungkinan tertular apabila jauh dari lokasi sumber penularan, seperti dari area peternakan ayam, misalnya.

Namun kemungkinan tertular dari burung liar yang sering hinggap dan ikut makan pakan di sangkar burung peliharaan perlu diwaspadai. Burung peliharaan tertular lantaran pakan dan air minumnya sudah tercemar virus dari burung liar yang datang. Termasuk dari burung gereja yang habibatnya di atap bubungan rumah.

6. Kesulitan membatasi penjalaran tularan jangkitan flu burung lantaran orang-orang memelihara ayam di pekarangan rumah. Ayam peliharaan sama halnya dengan burung peliharaan, berisiko tercemar virus dari burung liar juga, selain dari sesama ayam di sekitarnya. Kalau biosecurity tidak sepenuhnya terjamin, maka jangkitan virus dari area peternakan dari area yang jauh sekalipun, tetap berisiko terbawa oleh sepatu petugas peternakan dan ban mobil dari peternakan yang berpenyakit yang bisa tiba ke pasar, dan rumah-rumah juga, karena dibiarkan bebas keluar masuk.

7. Burung peliharaan juga berisiko menularkan penyakit jamur. Penyakit jamur paru-paru (yang sukar sembuh) dapat ditularkan dari burung peliharaan (jenis berparuh betet), selain dari burung dara juga. Termasuk kemungkinan tertular jamur kulit dari kotoran burung.

8. Sekarang jenis tikus-tikus lucu juga bagian dari binatang yang biasa dipelihara di rumah. Termasuk hamster, marmut, tupai, iguana, dan yang sejenis. Tikus sendiri berisiko membawa bibit penyakit leptospirosis dari kencingnya. Pada musim wabah penyakit lepstospirosis, tikus peliharaan bisa berkontak dengan air kencing tikus liar yang memasuki rumah. Dalam air kencing tikus, bibit penyakit leptospira berbiak.

Jadi sama halnya dengan pemeliharaan burung, dan binatang peliharaan lainnya, kebersihan kandang, sangkar, dan area binatang peliharaan tempatnya bergerak perlu diperhatikan. Jangan sampai berkontak dengan binatang liar dari luar, baik yang sejenis, maupun dengan jenis yang lainnya.

Dari jenis ikan tertentu manusia juga dapat tertular parasit-parasit khusus yang dibawanya. Maka sekali lagi, apa pun jenis ikannya, perlu selalu menjaga kebersihan bak dan akuariumnya, selain selalu harus membasuh tangan setiap kali berkontak dengan binatang peliharaan. Terlebih bila sampai tergigit, bebaskan luka dari ancaman tercemar bibit penyakitnya. Dengan cara membasuh memakai sabun antisepsis, lalu membubuhinya dengan zat antisepsis.

9. Memelihara ular di rumah yang belum jelas muasalnya juga berisiko membawa parasit pada kulit dan kotorannya. Tidak semua bibit penyakitnya membahayakan manusia. Namun kebersihan badan ular, dan menyingkirkan kotorannya perlu tertib dilakukan juga.

Jika memelihara ular yang tergolong berbisa (kepala berbentuk segitiga), risiko tergigit tetap ada. Maka selalu siap dengan alamat rumah sakit, atau layanan kesehatan yang menyediakan vaksin antibisa ular (tetravaccine). Tingkat bahaya gigitan ular berpacu dengan waktu. Semakin segera ditangani, semakin jauh dari risiko kematian.

10. Pastikan binatang piaraan setiap hari diberi pakan sampai "kenyang" agar sifat asli (dasar) tidak keluar. Sejinak apapun binatang terlebih jenis binatang buas (umumnya pemakan daging) apabila kelaparan akan kembali bersifat buas ***


Share artikel ini:

Artikel Terkait