Uniknya Belajar Matematika Lewat Mandi

Kebanyakan anak akan mengatakan Matematika, saat ditanya apa pelajaran yang paling sulit untuk dipahami. Walau hal itu juga tidak terjadi pada semua anak, realita di lapangan membuktikan hampir rata-rata anak Indonesia sukar memahami matematika pada mulanya. Metode pembelajaran yang kurang atraktif dan selalu mengacu pada teori diduga menjadi alasan utamanya.

Di samping itu, sikap yang serius saat belajar matematika menjadi penyebab lain anak mudah jenuh untuk mempelajarinya. Padahal, jika diaplikasikan dalam kegiatan yang lebih santai, matematika bisa dipahami dengan lebih mudah dan menyenangkan. Nah, salah satu momen yang bisa Anda manfaatkan untuk mengajarkan matematika pada si kecil adalah saat mandi.

Menurut Sahabat Nestle, sisi kognitif anak akan lebih mudah menerima pemahaman jika dijelaskan dengan menggunakan benda sebagai medianya. Selain itu juga, lewat media pembelajaran yang atraktif, anak juga akan lebih kreatif untuk mengembangkan pola pikirnya.

Kamar mandi bisa menjadi media yang cukup efektif. Misalnya, Anda bisa menanyakan berapa jumlah gayung atau sikat gigi, berapa kali harus membasuh muka sampai bersih, hingga mengajaknya bernyanyi yang berhubungan dengan hitung-menghitung.

Dr. Vernon A. Magnesen, seorang praktisi sekaligus peneliti pendidikan, pada tahun 1983 menyimpulkan bahwa persentase keberhasilan yang akan diperoleh anak ketika memahami suatu pelajaran ternyata hanya sekitar 10 persen. Dari hasil mendengarkan sebesar 20 persen, melihat 30 persen dan kombinasi keduanya menghasilkan pemahaman sekitar 50 persen. Sementara, pemahaman yang akan diperoleh dengan berkata sebesar 70 persen. Sedangkan, yang paling efektif dalam meningkatan pemahaman adalah dengan mengatakan sekaligus mengerjakan langsung sebesar 90 persen.

Meskipun pada prakteknya tidak harus se-teknis demikian, namun pada kenyataannya anak akan lebih mudah memahami segala hal dengan cara mempraktikkan atau menggunakan media pembelajaran langsung. Termasuk juga, soal berhitung matematika. Jadi, mulailah untuk mengajarkan matematika dengan cara yang lebih mudah ya, Bu.

Share artikel ini:

Artikel Terkait