Urutan Kelahiran & Karakter Anak

Anak bungsu pasti manja, anak sulung lebih mandiri… Benarkah demikian?

“Ohh..anak paling kecil ya? Pasti dimanja deh! Begitu reaksi sebagian besar orang setelah tahu kalau saya anak bungsu. Sebel rasanya. Semua anak, bahkan semua orang pasti tidak suka label anak manja. Tetapi apa benar urutan kelahiran membawa pengaruh tersendiri?"

Urutan kelahiran sesungguhnya tidak memberikan pengaruh langsung pada kepribadian dan perilaku seorang anak. Tidaklah benar mengikuti stereotipe bahwa anak pertama pasti berkepribadian dominan dan si bungsu pastilah anak manja yang egois.

Pengaruh urutan kelahiran ditentukan oleh bagaimana orangtua memberi makna pada urutan kelahiran tersebut. Biasanya juga terkait dengan jenis kelamin si anak, pengalaman, latar belakang budaya dan sosial-ekonomi orangtua

Si Sulung kurang disiplin?
Anak sulung biasanya adalah anak yang sangat dinanti-nantikan. Apalagi bila ia cucu pertama bagi kedua keluarga, dan laki-laki pula! Tidak terbayangkan besarnya perhatian, kasih sayang yang tercurah, kemudahan dan toleransi yang akan ia dapatkan. Bisa jadi, setiap hari ada hadiah baru. Kalau tidak dikontrol bisa jadi menghambat perkembangan kedisiplinan, kemandirian dan kedewasaan. Ujung-ujungnya bisa merambat ke masalah belajar di sekolah.

Sekian tahun menjadi anak tunggal, sekarang tibalah waktunya memiliki adik. Si sulung pun memperoleh pembelajaran tentang berbagi, mengalah, berkorban, dan juga memimpin. Dari sebagian besar orangtua yang berbagi pengalaman, saya menemukan bahwa mereka cenderung menuntut anak yang lebih besar untuk mengalah. Benar atau salah, harus mengalah! Dimana prinsip keadilan? Si sulung pun mulai uring-uringan. Orangtua menjadi bingung. Keras dilawan keras. Protes si sulung diredam sedemikian rupa, sehingga bila terus berlanjut akan membawa pengaruh yang kurang baik.

Kakak dan adik bertengkar sudah biasa terjadi. Bila disikapi dengan bijaksana, membuat anak belajar manajemen konflik dan jiwa kepemimpinan. Beberapa teman saya yang punya sifat sangat mengayomi dan punya jiwa kepemimpinan yang baik adalah anak sulung.

Di sisi lain, anak sulung diasuh dalam kondisi orangtua belum memiliki pengalaman. Berbagai informasi didapat kakek-nenek, suster, teman, bahkan ada yang mempercayai buku 100%. Saya pernah bertemu seorang ibu yang menerapkan mentah-mentah isi buku pada cara mengasuh anak. Apesnya, salah paham lagi! Alhasil, yang ada adalah ibu robot yang kaku, karena hanya dituntun oleh logika yang tidak diimbangi empati.

Repotnya lagi, kalau terjadi keterlambatan perkembangan. Terlambat bicara, misalnya. Karena tidak memiliki pembanding, orangtua biasanya baru sadar keterlambatan anak sulungnya setelah punya adik.

Si Bungsu, di bawah bayang-bayang Kakak
Bagi si bungsu sebagian besar barang adalah warisan kakak. Di buku cetak (buku paket pelajaran) ada bekas-bekas jawaban kakak. Baju kakak yang masih bagus pun bisa jadi diturunkan buat adik.

Tidak enaknya lagi, anak bungsu biasanya banyak diperintah-perintah. Berada di hierarki keluarga terbawah, membuat si bungsu tidak tahu harus ke mana lagi melampiaskan kekesalan. Saat bermain, kakak pegang kendali, apa-apa maunya duluan begitu sudah bosan bermain baru diserahkan ke adik. Setelah itu dia memutuskan untuk stop bermain. Maka terjadilah pertengkaran.

Anak bungsu biasanya berada di bawah bayang-bayang kakak. Minatnya, gayanya, perilakunya. Akan lebih stress lagi kalau si kakak adalah anak gifted, yang berprestasi pada banyak bidang. Seringkali terdapat anak-anak yang memiliki masalah perilaku, karena orangtua menuntut mereka menekuni bidang yang tidak mereka sukai, karena saudara mereka berprestasi di bidang tersebut.

Sisi positifnya, anak bungsu juga banyak memperoleh bantuan. Misalnya saja saat menggarap tugas prakarya dari sekolah. Orangtua juga menjadi lebih berpengalaman. Mereka tidak terlalu bingung sewaktu mengurus proses perkuliahan, karena sudah ada pengalaman sebelumnya dengan si sulung.

Si Tengah, Kurang Percaya Diri
Anak tengah memiliki stereotipe sebagai si terjepit. Hal ini erat kaitannya dengan persaingan antar saudara (sibling rivalry). Tidak bisa menang berkompetisi dengan kakak, tetapi juga tidak bisa memperoleh hak istimewa selayaknya anak bungsu.

Namun sesungguhnya posisi anak tengah adalah posisi yang dipersepsi dan terkait pula dengan jenis kelamin. Seseorang cenderung merasa dirinya sebagai anak tengah, bila memiliki jenis kelamin yang sama dengan kakak dan adik. Sebagai contoh: Posisi anak laki-laki, laki-laki, perempuan –maka cenderung membuat anak tengah memiliki persepsi sebagai anak bungsu. Baginya tidak masalah bila kalah berkompetisi dengan kakak laki-laki karena lebih kecil. Tidak masalah pula bila tidak memperoleh hak istimewa, karena sang adik perempuan (dipersepsi sebagai berbeda, bukan rival).

Asuhlah dengan baik
Tulisan ini hanya gambaran yang biasanya terjadi atau kecenderungan. Seperti yang telah disebutkan di awal, urutan kelahiran tidak memberikan pengaruh langsung. Faktor temperamen anak juga berpengaruh. Contohnya, tidak selalu anak bungsu yang diatur-atur oleh kakaknya, tetapi ada pula kakak yang selalu didikte oleh adik.

Urutan kelahiran juga merupakan persepsi. Contoh nyatanya begini. Ada dua keluarga yang tinggal di satu rumah, katakanlah pasangan A dan pasangan B. Anak sulung dari pasangan B tidak pernah merasakan posisi sebagai anak sulung, karena anak sulung dari pasangan A berusia lebih tua. Alhasil ia pun tidak menampilkan peran dan tanggung jawab sebagai kakak sulung pada adiknya, karena selalu ada kakak sepupu yang memegang “komando tertinggi”.

Jadi, apapun urutan kelahiran anak, asuhlah mereka dengan kasih sayang dan kedisiplinan yang berimbang. Tunjukkan empati dan kenali kebutuhan-kebutuhannya. Niscaya, ia akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Jika Anda masih memiliki luka batin sehubungan urutan kelahiran, selesaikan lah terlebih dahulu, sebelum menjadi orangtua yang baik. Ingat, bukan pengalaman hidup (yang terkait dengan urutan kelahiran) yang membentuk Anda, tetapi bagaimana Anda memaknai pengalaman tersebut yang akan membentuk Anda.

Referensi:
The process of Parenting 2nd ed, Jane B Brooks. Mayfield Publishing Company, 1993
Human Development 7th ed Diane E Papalia, Sally W Olds, Ruth feldman. Boston: McGraw Hill 1998

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Anakku)

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait