Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga?

Dewasa ini peran ibu tak hanya sebagai penggerak kegiatan rumah tangga. Ibu juga andil dalam bagian profesi atau karir yang sebelumnya didominasi oleh kaum Ayah. Tuntunan ekonomi yang semakin meningkat membuat beban hidup kadang semakin berat. Mau tidak mau hal ini melibatkan ibu untuk turun tangan membantu menggerakkan roda perekonomian rumah tangga. Meski begitu, hal ini masih  menuai pro dan kontra, utamanya di kalangan masyarakat Indonesia yang cukup kental dengan budaya ketimurannya.

Keadaan ini mulai mencair saat banyak wanita yang kini berpendidikan tinggi. Perusahaan juga banyak menawarkan beragam posisi, sehingga membuat wanita dan tidak sedikit para ibu untuk memilih bekerja. Ada yang hanya sebatas paruh waktu, mengisi waktu luang serta ada juga yang bekerja penuh waktu hingga lembur layaknya para lelaki. Hal ini senada dengan hasil ulasan Cheryl Buehler, profesor pengembangan sumber daya manusia dan keluarga asal University of North Carolina.

Meski demikian, hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Family Psycology menyebutkan ibu yang bekerja cenderung menjadi wanita yang bahagia dibandingkan dengan yang hanya di rumah. Hal ini didasarkan pada pola pikir wanita karir lebih bebas dan tidak hanya terpetakan dengan urusan rumah tangga saja. Selain itu, wanita karir juga memiliki beban stres yang lebih rendah, karena bisa berbagi kisah dengan rekan kerja dan tidak hanya menyimpannya sendiri di rumah.

Walau demikian dampak yang perlu diketahui, yaitu anak dan keluarga. Ibu memang menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam membina keutuhan keluarga. Jika jarang ada di rumah, hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan kelangsungan hidup dengan keluarga pun ikut terganggu. Apalagi jika buah hati masih kecil dan memerlukan banyak kasih sayang pada orang tuanya. Bila sering ditinggalkan sendirian akan membuat proses tumbuh kembang anak kurang optimal.

Dia cenderung menutup diri dan kurang suka bergaul dengan lingkungan sosial. Dampak jangka panjangnya akan membuat anak tumbuh dalam kesepian dan bisa berpengaruh pada kualitas belajarnya di sekolah. Pada akhirnya, yang dibutuhkan anak adalah kehadiran orang tua bukan lagi uang yang bisa dia gunakan untuk membeli berbagai macam barang. Maka dari itu, jika ingin menjadi wanita karir pertimbangkan usia anak dan kesepakatan bersama anggota keluarga. Demikian yang disampaikan oleh Cheryl Buehler dalam ulasannya di TIME.

Share artikel ini:

Artikel Terkait