Zat Besi dan Kapasitas Belajar Anak

Acara talkshow yang diadakan oleh Dancow Parenting Center dengan radio Delta 99.1 FM Jakarta, Kamis, 22 November 2007 jam 11 – 12 siang pada Acara Indonesia Siesta yang dipancarkan ke 21 kota, kali ini menampilkan Profesor DR. dr. Moeslichan, SpAK ahli hematologi anak dan praktisi gizi dari Nestle Dra. Rienani Mahadi atau mbak Ririen yang dipandu oleh Shahnaz Haaque dan Gilang Pambudi. Topik bahasannya “zat besi”

Zat besi sangat esensial untuk kemampuan intelektual dan kesehatan anak karena merupakan unsur utama pembentuk hemoglobin dalam sel darah merah. Hemoglobin mengangkut oksigen dalam sirkulasi darah ke sistem tubuh dan otak. Kalau suplai oksigen ke otak kurang maka akan mempengaruhi kinerja/kesehatan otak dan tubuh. Itulah yang dikatakan oleh Prof.Dr. Muslichan SpAK

Dijelaskan oleh mbak Ririen (praktisi Gizi Nestle) sumber-sumber zat besi antara lain: daging-dagingan berwarna merah (daging sapi, kambing, kerbau, hati dll) serta sayuran (zat besi dalam sayuran lebih sulit diserap). Namun sayuran tetap diperlukan karena mengandung serat larut yang membantu penyerapan mineral lain. Zat besi juga sudah terdapat dalam semua varian Dancow.

Kalau kurang zat besi anak menjadi pucat, lesu, kurang bermain susah tidur serta daya tahan tubuhnya bisa menurun. Zat besi yang diperlukan tubuh hanya 1-2 mg per hari namun karena penyerapan dari bahan makanan hanya 10 % maka asupan yang diperlukan 1-20 mg/hari. Bila dari bayi sampai usia 1 tahun anak kekurangan zat besi dalam jangka waktu lama, maka akan mengurangi kemampuan kognisi (pemahaman akademik) pada anak.

Dengan minum susu 2-3 gelas setiap hari dapat memenuhi sekitar 20-40% kebutuhan zat besi, sisanya bisa didapat dari konsumsi menu sehari-hari. Bila anak tidak suka daging, daging bisa dicincang dimasukan dalam lemper atau bentuk lain dengan kombinasi resep yang berbeda (mengenai macam-macam resep bisa dilihat di http://www.sahabatnestle.co.id/).

Zat besi dalam pangan hewani seperti daging tidak banyak terpengaruh dengan proses pemasakan, namun untuk sayuran kualitas zat besinya bisa berkurang karena proses itu.

Zat besi diperlukan seumur hidup. Zat besi dalam tubuh bisa hilang melalui pendarahan, menstruasi, pergantian kulit dan adanya cacing tambang yang menghisap darah serta mengakibatkan luka pada usus. Ada kondisi “Iron deficiency stage”, yaitu belum terlihat pucat tapi sudah kekurangan zat besi dimana kadar feritin dalam darah sudah rendah. Hal ini bila berlangsung lama berdampak negatif pada kekebalan tubuh, kapasitas belajar dan kognisi anak.

Kelebihan zat besi bisa berbahaya, namun hal ini terjadi hanya bila ada penyakit (contohnya thalasemia) dimana besi terus diabsorbsi/diserap tubuh. Dalam kondisi sehat tubuh memiliki mekanisme hanya menyerap zat besi sesuai kebutuhan saja. Demikian ungkap Prof. DR. Moeslichan

Kebutuhan zat besi untuk anak laki-laki umur 10-12 tahun sekitar 13 mg/hari, untuk anak perempuan pada umur yang sama kebutuhannya 20 mg/hari. Untuk 1 – 9 tahun tak berbeda laki dan perempuan yaitu: antara 7 – 10 mg/hari. Papar mbak Ririen.

Pesan dari Prof. Dr. Muslichan SpAK: Zat Besi jangan sampai kurang sejak bayi dilahirkan. Begitu anak dilahirkan dari ibunya sudah dibekali kecukupan zat besi sampai umur 6 bulan. Karena itu jangan sampai kekurangan, karena bila kekurangan zat besi berlanjut dapat mengganggu system syaraf dan otak yang dampaknya tidak dapat diperbaiki.

Mbak Ririen juga mengingatkan bahwa upaya orang tua sangat penting. Zat besi bisa didapat dari pangan hewani dan sayuran hijau. Penyerapan zat besi juga difasilitasi oleh protein yang juga terdapat dalam susu DANCOW baik 1+, 3+ dan 5+. Anak mesti tetap diberikan aneka ragam makanan disamping susu DANCOW 2-3 saji setiap hari.

Nara sumber: Prof. DR. Dr. Moeslichan SpAK dan Dra. Rienani Mahadi (Praktisi Gizi Nestle)
Dirangkum oleh : TB Budi Kusumawijaya/Nutritionist

Share artikel ini:

Artikel Terkait