@shutterstock

Bangun Imajinasi Kapal Bajak Laut Lewat Kapal Pinisi

Si Kecil suka berimajinasi menjadi kapten bajak laut? Ibu bisa kok mewujudkan imajinasinya dengan menunjukkan langsung kapal Pinisi yang merupakan kebanggaan Indonesia. Kapal Pinisi merupakan kapal layar tradisional yang dibangun oleh suju Konjo, kelompok sub-etnis Bugis-Makasar dan kebanyakan tinggal di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kapal ini masih digunakan secara luas oleh orang Bugis dan Makasar untuk transportasi antar pulau, membawa muatan, dan mencari ikan.

Ada 2 jenis kapal Pinisi, yaitu Lamba atau Lambo, yang dibangun panjang dan ramping, serta memiliki buritan lurus. Jenis kapal yang satu ini sudah versi bermotor. Sedangkan Palari masih dijalankan secara tradisional dan berukuran lebih kecil dari Lamba. Kapal Pinisi dapat mencapai panjang 20-35 meter dan berbobot 350 ton, sementara tiang-tiangnya dapat mencapai ketinggian 30 meter di atas dek. Beberapa bagian dari kapal Pinisi disebut dengan nama Bugis asli seperti Anjong yang terletak di dek depan (Anjungan), Sombala layar utama terbesar di kapal, Tanpasere layar kecil berbentuk segitiga yang ada di setiap tiang, Cocoro Pantara layar depan tambahan, Cocoro Tangnga layar tengah tambahan, dan Tarengke barisan tambahan layar.

Kapal-kapal Pinisi yang pertama dikabarkan dibangun setelah melihat contoh dari Belanda yang diperkenalkan ke daerah Makassar oleh VOC sekitar tahun 1600. Tapi keberadaannya tidak menonjol hingga sebelum abad ke-19. Naskah lontar tradisional dan cerita Bugis mendokumentasikan penggunaan kapal Pinisi oleh Bugis untuk transportasi dan kapal perang, terutama oleh masyarakat Sulawesi selama perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam masa modern sekarang ini, kapal Pinisi digunakan untuk perdagangan, seperti untuk mengangkut kayu dari Kalimantan ke Jawa atau mengangkut bahan makanan dan barang dari Jawa untuk pelabuhan yang lebih terpencil di kepulauan Indonesia. Kapal Pinisi sering terlihat di pelabuhan tradisional seperti Sunda Kelapa di Jakarta, Surabaya, Banjarmasin, dan Makassar. Seperti banyak jenis kapal tradisional lainnya, Pinisi telah dilengkapi dengan motor sejak 1970. Akan tetapi hal ini mengubah penampilan kapal misalnya tiang-tiang diperpendek, dek crane menghilang sepenuhnya, dan dek yang biasanya memanjang telah diperbesar untuk mengangkut awak dan penumpang. Ada juga Pinisi yang dimodifikasi menjadi perahu sewaan untuk tujuan pariwisata.

Kenalkan budaya asli Indonesia ke si Kecil sejak dini untuk menumbuhkan kecintaannya pada bangsa sendiri ya, Bu.

Share artikel ini:

Artikel Terkait