©shutterstock

Mengenal Budaya Menumbuk Padi, “Rantok Lombok“ yang Masih Lestari

Salah satu budaya tradisional yang mulai punah di tanah Indonesia ini adalah kesenian Rantok Lombok asal Desa Nyiur Lembang, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Setelah tahun 1975, tepatnya dengan adanya mesin penggilingan yang hemat tenaga manusia, menumbuk padi dan ketan dengan rantok jarang dilakukan. Hanya beberapa desa di Lombok Barat dan Utara yang masih mengadakannya, terutama saat ada acara budaya seperti gawe belek. Rantok juga digelar saat ritual Maulid Adat masyarakat Desa Bayan, Lombok Utara.

Rantok adalah seni memukulkan antan pada lesung secara ritmis sehingga menimbulkan bunyi mirip gamelan. Biasanya dimainkan oleh 10 orang yang memukul bagian pinggir rantok, dua diantaranya bertugas sebagai dirigen atau yang disebut juga dengan pemugah. Rantok sebenarnya adalah alat kerja tradisional yang digunakan untuk menumbuk pagi dan ketan hingga berbentuk beras atau tepung, yang kemudian diolah menjadi kue wajik atau dodol. Menu makanan ini biasanya dihidangkan saat puncak acara gawe urip, seperti pernikahan atau khitanan.

Dalam beberapa desa di Lombok Barat, apabila seorang warga mempunyai acara, beberapa hari sebelum acara puncak, epen gawe (tuan rumah) didatangi para tetangga untuk ikut membantu. Tuan rumah akan menyiapkan bahan-bahan kuliner sedangkan para tetangga akan memukul rantok dengan irama tertentu yang disebut rangsangan untuk mengundang warga berkumpul. Setelah acara ritual yang dipimpin oleh kiai, dimulailah acara menumbuk rantok untuk menghibur dan meramaikan suasana di rumah.

Penumbukan rantok oleh ibu-bu berusia lanjut juga dilakukan untuk menyambut gerhana bulan dan matahari yang disebut budaya Samawa. Selain untuk melestarikan budaya, penumbukan rantok juga dipercaya membantu bumi dan langit yang mengalami ‘kesakitan’ akibat gerhana tersebut.

Untuk tradisi Maulid Nabi ala adat Bayan ini berjalan selama 2 hari, dan rantok  juga ambil bagian pada hari pertama. Sejak pagi masyarakat berbondong-bondong menuju desa yang didiami suku sasak Islam Bayan untuk menyerahkan sebagian hasil bumi seperti padi, beras, ketan, sayur, buah, dan hewan ternak. Selanjutnya, dilakukan ritual membersihkan tempat sekam atau dedak (Balen Unggun), tempat alat penumbuk padi (Balen Tempan), dan rantok. Sore harinya, para perempuan memulai melakukan rantok atau Menutu Pare bersama-sama membentuk irama.

Uniknya budaya tradisional Rantok Lombok ini banyak dinikmati wisatawan lokal maupun mancanegara. Yuk tumbuhkan rasa cinta pada Indonesia dengan mengenalkan budaya ini pada si Kecil ya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait