©shutterstock

Mengulik Batu Antik di Bengkulu

Akhir-akhir ini, tren batu akik kembali menghangat di masyarakat. Tidak sedikit orang-orang dari berbagai kalangan usia dan tingkat sosial rela mengeluarkan uang untuk mendapatkan batu antik dan memburunya hingga ke beberapa daerah.

Provinsi Bengkulu tidak mau kalah dengan daerah lain di Indonesia jika berkaitan dengan keberadaan bongkahan batu akik. Terkenal dengan jenis cempaka yang disebut dengan Rafflesia, batu akik ini terdiri dari 4 jenis yaitu batu akik merah (Red Rafflesia), kuning (Yellow Rafflesia), kinyang bening (White Rafflesia), dan cempaka limau manis (Orange Rafflesia). Bongkahan batu ini memiliki harga yang lumayan tinggi lho, per kilogram dibanderol harga 500 ribu hingga 5 juta rupiah.

Ciri khas batu kinyang, yang terbentuk dari batu cadas, memiliki kandungan air tinggi sehingga mudah pecah. Selain itu, memiliki warna putih bening seperti es, namun jika terkena sinar atau cahaya muncul kilau pelangi di dalamnya. Batu ini cukup populer di kalangan kolektor dan banyak diminati karena keindahannya dan kualitas kristal yang tinggi serta bersih. Di pasaran, batu kinyang terdiri dari beberapa jenis dengan berbagai corak dan warna, misalnya kinyang air pelangi, air laut, es, emas, asap, badur, dan embun yang sudah terkenal di seluruh Indonesia bahkan ke mancanegara.

Selain batu kinyang, jenis batu lainnya yang menjadi primadona di Bengkulu adalah batu satam. Termasuk langka, batu ini berwarna hitam dan memiliki urat-urat yang khas. Batu satam terbentuk dari alam atas reaksi tabrakan meteor dengan lapisan bumi yang mengandung timah tinggi jutaan tahun yang lalu. Karena proses inilah, batu satam menjadi batu yang diburu para kolektor batu di seluruh dunia. Batu satam memiliki ciri-ciri fisik seperti bulat, lonjong, ada juga yang berbentuk tak beraturan, atau dalam bentuk yang sudah pecah yang sering dsebut dengan suiseki. Tanda khas yang membedakan batu ini dengan batu akik lainnya adalah goretan yang terukir secara alami, karena gesekan arus air dan tanah.

Selain menjadi cinderamata, batu kinyang dan satam juga banyak digunakan sebagai perhiasan seperti cincin, anting, dan liontin.

Share artikel ini:

Artikel Terkait