"Anakku lebih Suka Bermain Sendiri, Gejala Antisosial ?"

Saat mencermati kegiatan bermain si kecil, mungkin diantara kita para orangtua, ada yang memiliki balita yang lebih suka bermain sendiri dibandingkan bermain yang melibatkan teman-temannya atau orang lain. Hal ini seringkali menimbulkan kekhawatiran bagi orangtua. Salah satu kekhawatiran yang dilontarkan orangtua melihat prilaku anak yang demikian, adalah yang menyangkut normal atau tidaknya prilaku anak. Tak jarang pula mereka menanyakan, apakah hal tersebut merupakan suatu tanda atau gejala adanya prilaku antisosial di kemudian hari.

Untuk menjawab hal tersebut, sebelumnya marilah kita pahami terlebih dahulu pengertian prilaku antisosial dan ciri aktivitas bermain pada anak usia balita.

Prilaku antisosial adalah prilaku yang membuat anak terlibat konflik dengan lingkungannya, karena ketidakmampuannya untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial yang ada. Contoh prilaku antisosial misalnya mencuri, berbohong, sering bertengkar, berkata buruk, berbuat curang, membangkang, mengamuk, dsb. Beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab misalnya saja karena kurang terpenuhinya kasih sayang dan bimbingan orangtua terhadap anak dalam mempelajari aturan-aturan sosial, serta kurangnya model yang baik bagi anak untuk belajar prilaku yang bisa diterima masyarakat.

Bermain pada seorang anak, berperan cukup besar dalam mengembangkan berbagai kemampuannya, seperti kemampuan bahasa, sosial, emosi, intelektual, dsb. Jauh sebelum ia mulai berteman, bermain menyiapkan anak menghadapi pengalaman sosial. Di dalam bermain, anak bisa menumpahkan seluruh perasaannya, sehingga bermain bisa menjadi sarana penyaluran energi dan relaksasi. Selain itu dengan bermain, anak dapat belajar tentang hukum alam, hubungan antar orang dan hubungan antara orang dan objek. Bahkan mampu mengatur “dunia dalam”nya agar sesuai dengan “dunia luar”.

Ciri aktivitas bermain pada anak usia balita, biasanya masih terfokus pada dirinya sendiri. Sejalan dengan bertambahnya usia dan berkembangnya kemampuan anak, maka tahapan aktivitas bermainnya yang semula hanya bersifat soliter atau tidak ada interaksi dengan orang lain (bermain sendiri), lambat laun juga mampu melakukan interaksi dengan orang lain seperti bekerjasama dan berkoordinasi (bermain sosial).

Penerimaan sosial dan pengaruh dari orangtua, guru atau teman sebaya sangat mempengaruhi kecenderungan anak untuk bermain sosial atau bermain sendiri, atau melakukan keduanya secara seimbang. Bermain sendiri maupun bermain sosial, sama-sama diperlukan untuk perkembangan penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Keduanya sama pentingnya. Anak yang terlalu banyak bermain sendiri bisa kurang terlatih ketrampilan sosialnya. Ia bisa menjadi anak yang memiliki konsep diri yang rendah karena merasa “berbeda” atau “aneh” sebagaimana orang lain menganggap dirinya. Sebaliknya, anak yang terlalu banyak bermain sosial, dapat merasa tidak siap atau stress untuk bermain sendiri seandainya kondisi menuntutnya demikian, misalnya karena sakit atau pindah ke lingkungan baru

Dengan melihat beberapa penjelasan tersebut, maka dapatlah ditarik kesimpulan untuk menjawab pertanyaan judul diatas, yaitu:

  1. Kecenderungan balita untuk lebih menyukai bermain sendiri, belum tentu merupakan gejala prilaku antisosial di kemudian hari. Sejauh anak tidak menunjukkan gejala-gejala lain yang menjurus pada tingkah laku yang bertentangan dengan norma-norma sosial yang ada dan merugikan orang lain, maka prilakunya tersebut, kurang tepat bila disebut sebagai gejala prilaku antisosial.
  2. Kecenderungan balita untuk lebih menyukai bermain sendiri, masih belum dapat dikatakan sebagai gejala antisosial mengingat usia anak, masih berada pada tahap egosentris atau cenderung masih terfokus pada dirinya sendiri.
  3. Bila kecenderungan bermain sendiri, bersifat menetap sejalan dengan pertambahan usia anak, maka perlulah dicermati lebih lanjut, kemungkinan adanya gejala dari suatu kelainan, seperti autisme. Namun untuk bisa memastikan bahwa seorang anak itu menderita autisme, perlu didukung oleh adanya bukti-bukti atau gejala-gejala lain, seperti anak terlihat kehilangan kontak dengan realitas, kurang mampu berespon secara adekuat terhadap stimulus yang diberikan, tidak ada kontak mata, dsb. Dalam hal ini, diperlukan bantuan ahli untuk dapat mendiagnosa secara tepat kelainan yang diderita anak dan membantu penanganannya.
Berikut ini, beberapa tips untuk memberikan keseimbangan pada anak yang lebih suka bermain sendiri :
  1. Orangtua bisa mulai memperkenalkan anak untuk bermain sosial, misalnya dengan mengajak anak berkumpul dan bermain bersama saudara-saudaranya, mengundang teman-temannya atau tetangga untuk bermain bersama di rumah.
  2. Kurangi pemberian atau batasi penggunaan alat-alat permainan yang bersifat individualistik yang sangat populer saat ini seperti computer games, menonton vcd, menonton televisi di kamarnya sendiri, membaca komik, dsb. Keasyikan pada permainan individualistik ini mengurangi minat anak untuk bermain dengan anak-anak lain.
  3. Berikan bimbingan dan model yang baik bagi anak dalam mengajarkan aturan-aturan sosial dan cara berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak adalah “peniru ulung” yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan terdekatnya. Manfaatkan sifat ini dengan menunjukkan bahwa orangtua juga memiliki minat yang besar untuk bergaul atau melibatkan orang lain dalam aktivitas sehari-hari.

Share artikel ini:

Artikel Terkait