Apa yang perlu kita ajarkan pada anak saat lebaran?

Lebaran di kita memang bukan semata ritual keagamaan, tetapi sudah menyatu dengan budaya bangsa kita. Karena itu, akan sayang bila momen ini hanya kita lewati begitu saja, tanpa kita jadikan ajang untuk memberi edukasi.

Apa yang bisa kita edukasikan ke anak-anak? Sesungguhnya sangat banyak. Yang simpel adalah menjadikan lebaran sebagai momen untuk berubah, misalnya, dari sifat atau sikapnya yang menurut kita perlu diperbaiki.

Bisa juga kita menggunakannya sebagai momen untuk meningkatkan ketaatannya terhadap ajaran tertentu dari agama kita, entah yang wajib atau yang sunnah.

Namun ada syaratnya untuk mendorong perubahan tersebut, yaitu, SMART:

  • Specific [satu-satu, jelas]
  • Measurable [bisa diukur, wujudnya nyata]
  • Attainable [bisa dicapai oleh kemampuannya]
  • Relevant [sesuai usia]
  • Time [setahap demi setahap]

Maksudnya, jangan semata mengharapkan anak menjadi lebih baik setelah lebaran tapi tidak jelas dalam hal apa, bentuknya apa, sesuai apa tidak dengan usianya.

Nah, khusus yang terkait dengan nilai-nilai sosial, kita bisa mengajarkan banyak hal. Yang mendasar adalah memiliki jiwa untuk meminta maaf dan memaafkan. Jiwa ini sangat dibutuhkan anak kita sekarang ini dan nanti. Jangan sampai kapasitasnya untuk meminta maaf/ memaafkan menjadi kecil karena tidak kita ajarkan. Bisa-bisa dia gampang bentrok atau kurang bisa bertoleransi terhadap keadaan.

Yang juga penting adalah menanamkan jiwa yang suka berbagi kepada pihak yang kurang mampu atau kepada pihak yang sama-sama mampu untuk mengakrabkan hubungan.

Terlepas kita mudik atau tidak, lebaran adalah momen pas untuk menjalin silaturrahim dengan orang yang masih ada hubungan darah atau yang kedekatannya khusus, misalnya sahabat kental.

Bila ada tetangga yang beda agama, ini sangat bagus untuk menanamkan kebhinekaan demi persatuan Indonesia, misalnya memberi hidangan/ kue lebaran ke tetangga atau yang lain.

Tapi, yang paling mendasar adalah mengajarkan kepada anak bahwa semua itu kita lakukan bukan semata untuk alasan-alasan duniawi, tetapi untuk memenuhi panggilan keimanan. Kita berbuat baik karena Tuhan menyuruh kita begitu. Titik.

Kalau dalam teori psikologi dikatakan bahwa motif kebajikan yang paling tinggi adalah didasarkan pada panggilan keimanan.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait