Asyiknya Berhitung Bersama Si Kecil

Setiap anak sebenarnya dapat belajar dari lingkungan sekitar dan kegiatan sehari-harinya. Seringkali orang tua tidak sadar bahwa yang dilihat oleh si kecil merupakan suatu informasi yang merupakan materi pelajaran yang dapat diserap oleh si kecil. Sehingga, Henny Supolo, yang berprofesi sebagai seorang pendidik, mengatakan bahwa seorang anak harus memperoleh informasi tersebut dengan cara yang menyenangkan.

Pada acara talkshow yang diadakan Dancow Parenting Center dan Delta Radio 99.1 FM pada hari Kamis, 26 Februari 2009 dikemukakan mengenai proses pembelajaran yang harus mengasyikkan buat si kecil.

JANGAN DIPAKSA
Henny menekankan bahwa setiap proses pembelajaran hendaknya tidak memaksa anak. Semua stimulasi yang dapat merangsang kecerdasan si kecil harus diberikan dalam ”dunia” si kecil. Dunia mereka adalah dunia bermain, sehingga alangkah baiknya bila segala sesuatunya disampaikan melalui bermain dan permainan.

Begitu pula dengan kemampuan berhitung si kecil. Kemampuan berhitung si kecil dapat dikembangkan sesuai dengan usia mereka. Setiap orang tua hendaknya menyadari bahwa mencetak anak yang cerdas itu tidak selalu harus dengan metode pemaksaan.

Sebelum mengajarkan berhitung pada si kecil, orang tua hendaknya mengetahui perkembangan setiap buah hati mereka.

”Anak usia 1 tahun baru mencoba mengenal benda-benda di sekeliling mereka. Sehingga, orang tua sebaiknya membantu mereka untuk mengenal benda-benda tersebut melalui buku atau gambar. Di usia ini, anak biasanya juga dapat dikenalkan dengan anggota tubuh mereka sendiri. Pada saat mengenalkan, kita dapat menyisipkan bunyi setiap angka,” demikian jelas Henny.

”Pada anak usia 3 tahun, kita mulai dapat menghitung benda-benda tersebut, walaupun masih menggunakan angka yang rendah. Anak seusia ini biasanya sudah bisa menyebut angka walaupun belum paham. Sedangkan unutk anak usia 5 tahun, kemampuan berhitungnya sudah lebih baik,” lanjutnya.

Untuk mengajarkan si kecil berhitung, orang tua sebaiknya menggunakan alat peraga. Gunakanlah alat peraga dengan menggunakan benda-benda yang biasa dilihat oleh si kecil. Ini dimaksudkan agar anak tidak merasa ”asing” dengan benda-benda tersebut.

Henny menekankan bahwa untuk memberikan stimulasi berhitung tetap harus diperhatikan minat anak. Bila anak sudah terlihat bosan, maka kita harus menghentikan atau mengganti metode yang kita gunakan. Nah, disinilah dibutuhkan kreativitas dari orang tua.

BERHITUNG DARI MAKANAN
Belajar berhitung juga dapat diperoleh dari kegiatan makan si kecil. Dra. Rienani Mahadi, seorang nutrisionist dari PT. Nestle Indonesia menyatakan bahwa tanpa disadari seorang ibu sudah memperkenalkan istilah-istilah dalam berhitung melalui kegiatan makan.

Ketika kita mengambil makanan dari piring si kecil, kita dapat melakukannya sambil berhitung, misalnya satu sendok, dua sendok, dst. Atau misalnya si kecil minta tambah makanannya, kita dapat bertanya,” oh...adik kurang ya makannya?” Atau sebaliknya, bila si kecil sudah menolak makanannya, kita juga dapat memberi komentar,” sudah cukup ya Dik?”

Alat peraga juga dapat menggunakan makanan si kecil, misalnya biskuit, finger food atau alat makannya. Pada anak usia 1 tahun, kita hanya dapat mengenalkan benda-benda tersebut. Namun, pada anak usia 3 tahun, kita mulai dapat mengajarinya berhitung, dan pada anak usia yang lebih besar, kita mulai dapat mengajarinya berhitung yang lebih rumit, misalnya proses penjumlahan atau pengurangan.

PERAN NUTRISI
Dalam menyerap informasi dan stimulasi yang diberikan, si kecil membutuhkan tubuh dan otak yang sehat. Dengan tubuh dan otak yang sehat, maka semua informasi yang diberikan oleh orang tua dan lingkungan akan dapat diserap dengan baik.

Dan untuk menciptakan hal tersebut, maka diperlukan nutrisi yang lengkap dan seimbang. “ Lengkap, maksudnya adalah mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan oleh tubuh si kecil, yakni karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Dan seimbang, maksudnya adalah sesuai dengan kebutuhan si kecil, “ demikian papar Rienani.

Rienani menjelaskan bahwa tidak ada satu zat gizipun yang lebih penting dari zat gizi lainnya. Semua zat gizi mutlak diperlukan oleh si kecil dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.

Protein dan lemak adalah salah satu zat gizi yang dibutuhkan oleh si kecil untuk tumbuh kembang otaknya. Asam lemak, khususnya asam lemak essential, yakni asam lemak yang tidak dapat dibuat oleh tubuh, sangat dibutuhkan oleh otak.

Asam lemak essensiel contohnya seperti Linoleic Acid (LA), Alpha Linoleic Acid (ALA), Docosahexaenoic Acid (DHA) atau yang sering disebut Omega-6 dan Omega-3. Menurut Reinani, makanan yang mengandung protein dan asam lemak ini antara lain adalah susu sapi, lauk pauk, minyak ikan, lemak nabati seperti minyak jagung, minyak kedelai.

Oleh sebab itulah, selain tetap memberikan stimulasi dan kasih sayang kepada sang buah hati, memberikan makanan 4 sehat 5 sempurna, yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah dan 3 gelas susu perhari diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil, sehingga pertumbuhan dan perkembangan si kecil dapat optimal.

Share artikel ini:

Artikel Terkait