Bagaimana Melatih Motorik Bayi?

Aktivitas motorik adalah pergerakan bagian tubuh "di bawah" kemauan. Artinya gerakan yang berurusan dengan susunan saraf pusat atau otak dan otot. Kemampuan motorik bayi berkembang secara bertahap, dari belum bisa menjadi bisa. Dari gerakan sederhana ke arah lebih kompleks. Selain perlu fungsi otak dan otot yang utuh, peranan latihan dan pengasuhnya ikut menentukan.

Awalnya bayi hanya berbaring saja. Kemampuan motorik pada bulan-bulan pertama kehidupan ketika ketajaman penglihatannya belum penuh barulah meraba apa saja menjadi bagian dari kegiatan motoriknya. Gerakan bola-mata mengikuti benda bergerak muncul di awal kehidupan anak.

Bukti bahwa fungsi otak dan otot anak dinilai normal, terlihat dari adanya refleks muncul saat kita memberi tepukan ringan tempat bayi berbaring sudah membangkitkan refleks kaget. Kedua lengannya akan terangkat. Amati juga apakah anak sudah mulai dan mau diajak senyum menandakan ketajaman matanya meningkat selain bisa berinteraksi dengan lingkungan.

Kegiatan meraba, disusul kemudian dengan aktivitas meraih, menjawil, dan memegang apa saja yang ada di dekatnya. Maka memberikan benda-benda kecil, termasuk mainan yang dapat dipegang dan digenggam, selama bersifat aman, perlu lebih sering dilakukan. Memegang dan menggenggam jari ibu, misalnya atau anak memasukkan ibu jari kaki kedalam mulutnya. Amati juga adakah anak dapat memindah mainan yang dipegang dari tangan satu ke tangan lain, bahkan memasukkanya ke dalam mulut.

Di bulan keempat rata-rata bayi sudah mampu tengkurap. Pada bulan berikutnya selain mahir tengkurap, mampu pula berbalik kembali terlentang. Kemampuan tengkurap dapat dipercepat dengan membantu membiasakan anak berguling-guling di ranjang. Mengajaknya bermain, memanggil agar mendekat, akan membuatnya lebih aktif berguling, lalu tengkurap.

Bayi yang dibiasakan tidur tengkurap, biasanya lebih cepat mencapai kemampuan tengkurap, maupun berbalik dari tengkurapnya. Dalam kegiatan tengkurap, otot-otot leher perlu sudah kuat. Anak dengan gangguan otot leher, biasanya terganggu proses menjadi mampu tengkurapnya.

Pada umur tujuh bulan, bayi sudah mulai bisa duduk berpegangan. Bantu topang dengan lengan guna menegakkan punggungnya setiap bangun tidur. Sebulan kemudian bayi sudah mampu duduk sendiri tanpa berpegangan lagi. Di umur sembilan bulan umumnya sudah mampu duduk sempurna, kemudian mulai belajar merangkak.

Kegiatan merangkak, awal dari proses mulai berdiri, yakni ketika anak berumur delapan bulan. Maka sering-seringlah mengajak bermain yang akan merangsangnya agar lebih sering merangkak. Main kejar-kejaran di ruang yang aman dan lapang, berlomba mengambil barang atau mainan, misalnya.

Dengan merangkak berarti melatih otot-otot lengan dan tungkainya untuk bergerak, selain menjadi bertambah kuat. Pada masa ini perlu waspada, karena bayi tidak bisa ditinggal bersendiri. Bayi sudah mulai menjelajah ke mana-mana, bila pergerakannya tidak dipagari awasi senantiasa keamanannya.

Pada bulan kesepuluh, bayi sudah mulai merambat berdiri. Untuk itu kemampuan motorik harus sudah lebih matang. Untuk memikul beban tubuh, perlu otot yang kokoh. Pada masa ini perlu ditumbuhkan rasa percaya diri. Sering anak menjadi kapok dan takut untuk berdiri setiap kali terjatuh. Dukung untuk terus mau mengulangi kemampuan berdirinya.

Semakin sering mengulangi belajar berdiri, semakin cepat mampu berdiri sendiri. Kalau awalnya masih berpegang sesuatu, pada bulan kesebelas, anak sudah mampu berdiri tanpa pegangan lagi, kemudian memasuki kemampuan berjalan.

Saat mulai melangkah pun perlu dukungan dan ajakan untuk tidak kapok dan takut terjatuh. Kalau perlu ganjal bokongnya dengan popok tebal, agar sekiranya terjatuh tidak menimbulkan nyeri berlebih.

Dalam kegiatan belajar berjalan, awalnya perlu dituntun dengan dua tangan (titah), kemudian gandeng salah satu tangannya. Setelah lewat umur setahun, rata-rata anak sudah mampu berjalan sendiri. Berjalan merupakan kegiatan motorik paling kompleks.



Aktivitas motorik adalah pergerakan bagian tubuh "di bawah" kemauan. Artinya gerakan yang berurusan dengan susunan saraf pusat atau otak dan otot. Kemampuan motorik bayi berkembang secara bertahap, dari belum bisa menjadi bisa. Dari gerakan sederhana ke arah lebih kompleks. Selain perlu fungsi otak dan otot yang utuh, peranan latihan dan pengasuhnya ikut menentukan.

Awalnya bayi hanya berbaring saja. Kemampuan motorik pada bulan-bulan pertama kehidupan ketika ketajaman penglihatannya belum penuh barulah meraba apa saja menjadi bagian dari kegiatan motoriknya. Gerakan bola-mata mengikuti benda bergerak muncul di awal kehidupan anak.

Bukti bahwa fungsi otak dan otot anak dinilai normal, terlihat dari adanya refleks muncul saat kita memberi tepukan ringan tempat bayi berbaring sudah membangkitkan refleks kaget. Kedua lengannya akan terangkat. Amati juga apakah anak sudah mulai dan mau diajak senyum menandakan ketajaman matanya meningkat selain bisa berinteraksi dengan lingkungan.

Kegiatan meraba, disusul kemudian dengan aktivitas meraih, menjawil, dan memegang apa saja yang ada di dekatnya. Maka memberikan benda-benda kecil, termasuk mainan yang dapat dipegang dan digenggam, selama bersifat aman, perlu lebih sering dilakukan. Memegang dan menggenggam jari ibu, misalnya atau anak memasukkan ibu jari kaki kedalam mulutnya. Amati juga adakah anak dapat memindah mainan yang dipegang dari tangan satu ke tangan lain, bahkan memasukkanya ke dalam mulut.

Di bulan keempat rata-rata bayi sudah mampu tengkurap. Pada bulan berikutnya selain mahir tengkurap, mampu pula berbalik kembali terlentang. Kemampuan tengkurap dapat dipercepat dengan membantu membiasakan anak berguling-guling di ranjang. Mengajaknya bermain, memanggil agar mendekat, akan membuatnya lebih aktif berguling, lalu tengkurap.

Bayi yang dibiasakan tidur tengkurap, biasanya lebih cepat mencapai kemampuan tengkurap, maupun berbalik dari tengkurapnya. Dalam kegiatan tengkurap, otot-otot leher perlu sudah kuat. Anak dengan gangguan otot leher, biasanya terganggu proses menjadi mampu tengkurapnya.

Pada umur tujuh bulan, bayi sudah mulai bisa duduk berpegangan. Bantu topang dengan lengan guna menegakkan punggungnya setiap bangun tidur. Sebulan kemudian bayi sudah mampu duduk sendiri tanpa berpegangan lagi. Di umur sembilan bulan umumnya sudah mampu duduk sempurna, kemudian mulai belajar merangkak.

Kegiatan merangkak, awal dari proses mulai berdiri, yakni ketika anak berumur delapan bulan. Maka sering-seringlah mengajak bermain yang akan merangsangnya agar lebih sering merangkak. Main kejar-kejaran di ruang yang aman dan lapang, berlomba mengambil barang atau mainan, misalnya.

Dengan merangkak berarti melatih otot-otot lengan dan tungkainya untuk bergerak, selain menjadi bertambah kuat. Pada masa ini perlu waspada, karena bayi tidak bisa ditinggal bersendiri. Bayi sudah mulai menjelajah ke mana-mana, bila pergerakannya tidak dipagari awasi senantiasa keamanannya.

Pada bulan kesepuluh, bayi sudah mulai merambat berdiri. Untuk itu kemampuan motorik harus sudah lebih matang. Untuk memikul beban tubuh, perlu otot yang kokoh. Pada masa ini perlu ditumbuhkan rasa percaya diri. Sering anak menjadi kapok dan takut untuk berdiri setiap kali terjatuh. Dukung untuk terus mau mengulangi kemampuan berdirinya.

Semakin sering mengulangi belajar berdiri, semakin cepat mampu berdiri sendiri. Kalau awalnya masih berpegang sesuatu, pada bulan kesebelas, anak sudah mampu berdiri tanpa pegangan lagi, kemudian memasuki kemampuan berjalan.

Saat mulai melangkah pun perlu dukungan dan ajakan untuk tidak kapok dan takut terjatuh. Kalau perlu ganjal bokongnya dengan popok tebal, agar sekiranya terjatuh tidak menimbulkan nyeri berlebih.

Dalam kegiatan belajar berjalan, awalnya perlu dituntun dengan dua tangan (titah), kemudian gandeng salah satu tangannya. Setelah lewat umur setahun, rata-rata anak sudah mampu berjalan sendiri. Berjalan merupakan kegiatan motorik paling kompleks.


Share artikel ini:

Artikel Terkait