Bahagia Dengan Satu Orangtua

Kalau digunakan standar yang umum, pastinya tidak ada orang yang ingin menjadi single parent (orangtua tunggal), kecuali karena alasan-alasan yang sifatnya sangat memaksa, semacam force major dalam istilah hukumnya. Ini karena menjadi single parent itu seringkali terkait dengan persoalan yang menjadi konsekuensinya, misalnya masalah ekonomi, manajemen rumah tangga, pengasuhan anak, interaksi sosial, dan lain-lain.

Tapi tentunya ini tidak bisa dipakai untuk membuat judgment bahwa anak yang tumbuh-kembang bersama orangtua tunggal lantas sudah pasti tidak akan lebih berhasil melebihi anak yang diasuh oleh orangtua lengkap. Karena masa depan anak kita dan masa depan kita juga bukan tergantung pada apa yang kita alami hari ini, tetapi tergantung pada ke arah mana kaki ini akan kita langkahkan.

Kembali ke soal konsekuensi di atas, mungkin masalah umum yang dihadapi orangtua tunggal akibat perceraian adalah bagaimana menjelasakan kepada anak tatkala muncul pertanyaan kok tidak seperti keluarga temannya yang ayah-ibunya satu rumah. Atau pada orangtua tunggal yang pasangannya meninggal dunia, bagaimana menjelaskan kepada anak usia dini yang belum paham sepenuhnya mengenai konsep ini.

Apa yang perlu dilakukan orangtua? Haruskah menciptakan penjelasan yang bohong? Atau, haruskah menolak menjelasakan dengan bersembunyi di balik kalimat “Nanti kamu tahu sendiri”?   

Nah, kalau bicara penjelasan, memang mestinya kita perlu menjelaskan fakta yang terjadi ketika anak sudah mulai bisa mengerti. Tapi, semangat, motif, dan bahasanya harus benar-benar kita pilih sepositif mungkin dan harus mengajak  anak untuk berpikir positif tentang kehidupan ini.

Misalnya kita menjelaskan bahwa ayah atau ibu sudah tidak tinggal serumah lagi karena ada kesepakatan yang telah kami buat bersama dan itu sebabnya bukan karena kamu. Semua ini tujuannya agar keadaan menjadi lebih baik. Tapi ayah atau ibu berjanji akan tetap menyayangimu.

Yang perlu kita hindari adalah memberikan penjelasan yang malah membebani pikiran anak. Kita beberkan masalah untuk membuktikan kita yang benar dan ayah atau ibunya yang salah lalu kita perpanjang dengan opini-opini yang menyuramkan dan menyeramkan. Anak kita menjadi ikut terbebani berkali-kali oleh tindakan kita. 

Tentu, yang lebih penting lagi adalah bukti. Bukti ini harus menjadi komitmen kita dan pasangan. Jika kita bisa membuktikan mau dan mampu memberikan kebahagiaan kepada anak, maka efek emosi dari perceraian lama kelamaan akan berkurang.  

Bentuknya antara lain: memberikan perlakuan yang penuh kasih sayang, memberi kesempatan berkembang dengan bermain, berinteraksi, mendidik dengan disiplin, tanggung jawab, atau intinya adalah memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan.

Perceraian memang masalah, tapi jika disikapi dengan bijak maka tidak akan menimbulkan lebih banyak masalah dan manajemen hubungan kita dengan anak juga tidak akan  bermasalah. Bukankah seperti yang kita jelaskan kepada anak bahwa langkah ini diambil oleh kedua orangtuanya dengan tujuan agak keadaan menjadi lebih baik. Teladan tentu lebih penting dari sekedar ucapan.  Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait