Berbagi Kebahagiaan Yuk, Nak

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk melatih empati si Kecil. Empati adalah kemampuan sosial yang sangat penting untuk perkembangan anak, juga merupakan bekal bagi anak dalam bermasyarakat di masa depan.

Empati adalah kemampuan untuk bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain dan bertindak sesuatu yang bemanfaat. Empati melahirkan peduli dan berbagi. Empati ini sangat dibutuhkan untuk membangun hubungan.

Ada berbagai kegiatan yang bisa kita lakukan bersama si Kecil untuk melatih rasa empatinya. Berbagi pakaian, makanan, mainan, atau buku-buku kepada anak-anak yang kurang mampu, misalnya kepada mereka yang tinggal di panti asuhan atau di komunitas tertentu adalah contoh kegiatan yang bisa kita lakukan dengan si Kecil.

Namun tentu saja kita tetap perlu mengajarkan rambu-rambu dalam berbagi. Di antaranya adalah tidak memberikan sesuatu yang sudah tidak bermanfaat, latihan menjaga ucapan, serta tidak merendahkan atau menyombongkan diri kepada orang yang menerima.

Kegiatan ini tentu akan membuat si penerima bahagia dengan barang yang diterimanya dan bahagia karena ada yang peduli dan berbagi dengannya, tanpa merasa direndahkan. Bahkan riset mengungkap anak yang menerima pemberian itu juga akan lebih termotivasi untuk memberi lagi kepada yang lain1.  Ternyata ini sangat bagus juga bagi jiwa si penerima di kemudian hari. Si pemberi tentunya juga akan banyak mendapatkan manfaat. Bahkan kalau ‘dijumlahkan’, manfaat yang paling banyak justru akan didapat oleh si pemberi. Berbagi akan membuat si anak menjadi lebih bahagia. Berbagai riset psikologi menyimpulkan bahwa memberi itu akan mendatangkan kebahagiaan2. Tentu saja dengan syarat motifnya positif.  Kalau motifnya negatif, seringkali malah membuahkan rasa kecewa.

Motif positif di sini misalnya memberi dengan niat peduli atau karena mengharapkan ridho Tuhan (ibadah). Sedangkan motif negatif misalnya memberi untuk pamer, untuk memanipulasi atau ada kepentingan tertentu yang merugikan pihak lain. 

Secara sosial, memberi juga punya nilai plus. Bahkan kalau dilarikan ke ajaran agama,  memberi akan mendatangkan berbagai kedahsyatan, antara lain: disayang Tuhan, dijauhkan dari bahaya, dikasih keberlimpahan, dan masih banyak lagi.

Tapi, yang paling penting untuk kita lakukan sebetulnya adalah bagaimana mengubah kegiatan berbagi ini menjadi pengalaman belajar. Belajar dalam arti sebuah proses yang mengantarkan anak untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik atau lebih kuat setelah membaca, memahami, dan melakukan. Jangan sampai kegiatan ini hanya sebatas seremoial, ritual tahunan, atau hura-hura.

Misalnya, melalui kegiatan ini kita mengajak si kecil untuk belajar mengetahui kenyataan yang berbeda, lalu membuat dia belajar untuk  tidak mengandalkan fasilitas saja, tabah dalam menghadapi hidup, senang membatu dan memberi, dan seterusnya. Kita bisa tunjukkan contoh dari anak-anak yang kita datangi, bahwa banyak anak yang tidak bisa memiliki apa yang sudah kita miliki.

Melalui kegiatan ini kita juga perlu mengajak si kecil untuk belajar mensyukuri apa yang sudah dimiliki karena melihat ada anak-anak lain yang tidak memilikinya. Bersyukur adalah kemampuan inti untuk bisa bahagia dan untuk mendapatkan nikmat lain.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

_________________________

1.       Feeling Good about Giving: The Benefits (and Costs) of Self-Interested Charitable

2.       Behavior,Harvard Business School, working paper, 2012

3.       Psychology Today, Charitable Giving Guide: Maximize Both Happiness and Impact,Michal Ann Strahilevitz, Ph.D, published on December 17, 2012

Share artikel ini:

Artikel Terkait