Biar Sehat, Mulai Batasi Makanan Manis Pada Anak

Pada umumnya, semua anak-anak menyukai makanan manis. Namun, taukah Ibu jika lebih baik menghindari makanan manis?

Menurut Dr. Handrawan Nadesul bahan kimiawi semakin membanjiri industri makanan dunia. Industri makanan dituntut untuk memproduksi makanan secara masal, oleh karena itu sumber bahan makanan dari alam saja tidak mencukupi. Industri makanan membutuhkan bahan pengawet dan bahan kimiawi lainnya untuk mengemas dan memproduksi makanan dan minuman, termasuk dalam pembuatan gula pasir.

Tidak semua industri makanan memikirkan tingkat keamanan bahan kimiawi yang dipakainya. Beberapa jenis zat tambahan makanan (adiktif) masih dipakai padahal sudah dilarang. Sebenarnya, bukan air tebu sebagai bahan utama pembuat gula pasir yang tidak dianggap aman. Melainkan, bahan kimiawi yang mengubah air tebu menjadi kristal gula pasir.

Makanan manis umumnya berasal dari gula buatan, maka lebih bijak jika membatasi pemakaiannya. Kalaupun membutuhkan rasa manis, sebaiknya memilih gula merah saja yang lebih alami. Selain itu, sumber pemanis alami yang lain dapat kita peroleh dari madu. Makanan  ini lebih menyehatkan karena terbuat dari bahan alam yang tidak tercemar proses kimia apapun. Selain manis alami, madu juga kaya akan kandungan vitamin, mineral, dan enzim yang menyehatkan.

Gula dan makanan serba manis tidak memberi sumbangan zat gizi sebaik telur, ikan, dan tempe. Orang bisa tetap sehat tanpa mengonsumsi gula. Sebaliknya, jika terlalu banyak mengonsumsi gula dapat menambah asupan  kalori tubuh. Gula selain membuat kegemukan, juga buruk bagi kesehatan kandung kemih. Oleh karena itu, membatasi konsumsi makanan manis pada anak adalah cara bijak untuk menjaga kesehatan anak.

Share artikel ini:

Artikel Terkait