Biarkan Ia Berani Mengekspresikan Diri, Agar Tumbuh Sikap Asertifnya

Pengasuh rubrik yang terhormat,

Saya memiliki anak kembar yang kini berusia 3 tahun. Meski kembar, keduanya mempunyai sifat yang berbeda. Reva misalnya, ia tampak lebih agresif jika mainannya dipegang anak lain. Tanpa banyak berkata-kata ia langsung merebut. Berbeda dengan Revi, ia cenderung mengalah (pasif). Ia lebih mengikuti apa kata orang lain. Bagaimana saya menyikapi keduanya?. Terimakasih atas penjelasannya.
Ny. Aninda – Merak, Banten

Ny. Aninda yang terhormat,
Anak kembar memang tak harus kembar dalam sikap maupun sifatnya. Untuk anak seusia Reva, bisa jadi ia belum memiliki kemampuan untuk mengutarakan keinginannya dengan kata-kata, karena keterbatasan kosa kata, sehingga untuk mempertahankan mainannya misalnya, ia memilih untuk merebut, meski terkadang sikapnya menyakiti anak lain.

Menghadapi anak seperti ini, peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membantu mengutarakan keinginannya. Caranya, berilah pengertian tentang cara dan perilaku positif dalam mempertahankan hak dan keinginannya, serta cara mengekspresikan keinginannya tanpa menyakiti temannya.

Sementara itu, menghadapi Revi yang lebih pasif orangtua sebaiknya menghargai sikapnya. Namun perlu diingat, karena ia cenderung menerima apa adanya dan bergantung pada orang lain, orangtua tidak boleh tinggal diam. Ajarkan ia untuk tidak selalu menerima apa adanya, karena sikap pasrah ini akan merugikan ia sendiri. Ajarkan untuk bersikap asertif.

Ajarkan Sikap Asertif
Solusi terbaik untuk menangani keduanya adalah dengan mengajarkan anak bersikap asertif. Asertif adalah sikap yang berada diantara sikap agresif dan pasif, atau sikap yang mampu mengkondisikan kedua pihak tidak ada yang dirugikan atau “win-win solution”.

  • Ajari anak untuk bisa mengekspresikan ketidaksukaan, keinginan, kemarahan, kegembiraan, kesedihan dan segala hal yang dirasakannya. Misalnya, “Saya marah karena kamu merebut…”, “Sekarang giliranku untuk main dengan mainanku”, “Saya mau makanan itu, baju yang itu”, serta masih banyak contoh lain.
  • Pertahankan atau terus dorong atas sikap asertif si Kecil. Sebisa mungkin usahakan ia bisa menjelaskan setiap masalah yang dihadapi dengan kata-kata. Hilangkan kebiasaan berkata “terserah aja, deh…” Kata-kata ini membuat anak cenderung bersikap tidak asertif.
  • Jangan lupa, beri pujian atas perilaku asertifnya, misalnya dengan berkata, “Bagus kamu bisa mengutarakan apa yang kamu rasakan.”
  • Ada baiknya juga Anda mengajarkan sikap ofensif (bertahan) bila ada temannya yang berlaku agresif padanya. Dalam hal ini lebih mengutamakan otak daripada otot.
  • Hindari bersikap otoriter atau terlalu mendikte si Kecil, karena hal ini akan membuat anak cenderung menjadi penakut dan menarik diri (introvert).

Pada balita, karena kosakatanya masih terbatas untuk mengajarkan sikap ini sebaiknya disertai dengan memberi contoh langsung dengan kata-kata yang mudah dimengerti. Begitu usianya bertambah, kosa kata si Kecil pun makin kaya dengan perbendaharaan kata, hal ini akan membuatnya lebih mudah diajari untuk bersikap asertif.

Jadi, salah satu kunci sikap asertif ini adalah komunikasi, di samping juga kemandirian anak. Dengan berkomunikasi, anak dapat dengan mudah menyampaikan keinginan maupun mempertahankan haknya. Hidupkan komunikasi Anda dan si Kecil, misalnya selalu meminta ia untuk bercerita atas kejadian yang ia alami, misalnya selama satu hari Anda tinggal kerja atau pengalaman bermain dengan teman sebayanya.

Kemandirian anak juga dibutuhkan agar anak mampu mengerjakan segala sesuatu serta mengatasi masalahnya sendiri, tanpa bergantung orang lain. Misalnya dalam hal makan, pakai baju, sampai dalam hal sosoalisasi dengan teman-temannya.

Inspirasi Bunda
Salah satu ciri anak yang kreatif adalah berani mengambil resiko dan mencoba hal yang baru. Hal yang dapat Anda lakukan untuk memotivasi si kecil adalah pada saat ia ragu-ragu, katakan kepadanya, “Kamu tidak akan pernah tahu kalau tidak mencoba.”

Share artikel ini:

Artikel Terkait