Cacingan Pada Anak

Penyakit cacingan masih cukup dominan di Indonesia. Ada empat jenis cacing perut yang paling sering menyerang manusia, yakni cacing gelang, tambang, kremi, dan cambuk. Keempatnya menjangkiti manusia karena faktor sanitasi dan kebersihan seseorang yang masih kurang higienis. Apa yang perlu dilakukan?

Jangan abaikan penyakit cacing. Karena cacing dalam perut yang merampas makanan menyebabkan kecukupan gizi anak tak terpenuhi.

Tak selalu berperut buncit

Anak yang terserang cacingan tidak selalu harus berperut buncit. Buncit terjadi bila jumlah cacing sudah berlimpah, dan kekurangan gizi yang diakibatkannya sudah parah. Lengan dan kakinya terlihat kurus, sedang perutnya membuncit.

Selain itu cara mendeteksi dininya adalah dengan memantau apakah ada tidak telur cacing dalam tinjanya.

Pemeriksaan telur cacing mudah dilakukan di laboratorium. Dengan secuil tinja yang diberi larutan kimiawi, lalu dilihat langsung di bawah mikroskop, akan tampak jenis telur cacing apa. Dari situ diagnosis cacingan dapat diambil.

Jadi seharusnya dipastikan dulu apakah benar atau tidak anak cacingan, baru diberikan obat cacing. Pemberian obat cacing secara rutin berkala, keputusan yang kurang tepat, karena kalau ternyata tidak ada cacingnya, sia-sia saja sudah menelan obat cacing. Selain penghamburan secara ekonomis, tubuh anak menanggung efek samping obat yang sebetulnya tidak ia perlukan.

Bukan juga karena melihat perut anak membuncit, maka obat cacing serta-merta diberikan. Anak buncit belum tentu cacingan. Kebanyakan anak kurang gizi, perutnya bisa membuncit, yang sering disebut busung lapar. Belum tentu yang mengalami kurang gizi menyimpan cacing di perutnya. Obat baru bisa diberikan jika terbukti tinjanya mengandung telur cacing.

Dari jemari tangan

Cacing perut pada manusia ditularkan melalui jemari tangan. Hanya cacing tambang yang larvanya (bayi cacing) menembus kulit (kaki). Telur cacing umumnya tersebar secara luas di permukaan tanah. Sebagian besar bertahan hidup lama, bahkan mampu berbulan-bulan. Telur cacing akan mengering dan kemudian terbang terbawa angin menyebar ke mana-mana, termasuk ke wilayah pemukiman.

Bila anak-anak dibiasakan bermain di atas tanah, sebagaimana lazim anak-anak di perkampungan dan pedesaan, maka risiko terjangkit cacingan sangatlah besar. Anak memegang tanah yang sudah tercemar telur cacing. Bila jemari bertelur cacing ini dimasukkan ke dalam mulut, maka dengan cara begitu telur cacing memasuki perut anak.

Di dalam usus, cacing menetas menjadi cacing dewasa, lalu berbiak lagi, kemudian telurnya keluar bersama tinja.

Cacing kremi sekeluarga

Berbeda dengan jenis cacing lainnya, cacing kremi ditularkan di lingkungan rumah. Kalau ada satu anggota keluarga yang mengidap cacing kremi, umumnya semua anggota keluarga ikut tertular. Bagaimana caranya?

Cacing kremi bertelur malam hari saat pengidapnya tertidur. Biasanya cacing kremi bertelur sekitar liang dubur dan menimbulkan rasa gatal. Garukan pada liang dubur menggugurkan telur cacing dari tempat melekatnya dan dapat berserakan di sekitarnya. Telur yang berserakan ini yang karena tidak terlihat oleh mata telanjang akan terpegang, lalu mencemari jemari tangan orang serumah.

Dengan cara demikian cacing kremi menjangkiti seluruh anggota keluarga bila tidak membasuh tangan sebelum memegang makanan atau jika membiarkan anak dengan kebiasaan menggigiti kuku jemari tangan.

Cacing tambang mencuri darah

Cacing tambang mengisap darah dari dinding usus. Bila jumlahnya makin banyak, darah yang diisap makin banyak. Pada kasus cacing tambang yang parah bisa menyebabkan anemia berat dan berujung pada pembengkakan jantung. Jantung kemudian menjadi lemah lantaran kadar Hb (haemoglobin) darah sudah amat rendah. Bila lebih rendah dari 5 G%, maka jantung akan melemah fungsinya.

Berbeda dengan cacing lainnya, cacing tambang memasuki tubuh dengan cara menembus kulit telapak kaki. Disebut cacing tambang, lantaran umumnya terjadi di tanah pertambangan. Setelah menembus kulit kaki, cacing akan menembus paru-paru lalu tiba di usus juga.

Mudah diobati

Apa pun jenis cacing perutnya, semua bisa dan mudah diobati. Sekarang ada obat cacing yang bisa menumpas semua jenis cacing yang lazim menyerang manusia. Pengobatan harus sampai tuntas agar cacing tidak berkembang biak lagi.

Untuk memastikan apakah sudah bebas cacing dapat dilakukan dengan cara memeriksa tinja kembali. Selama masih ditemukan ada telur cacingnya di dalam tinja, obat cacingnya perlu diberikan ulang sampai tinja sudah betul-betul bersih dari telur cacing.

Kekambuhan penyakit cacing kerap terjadi lantaran obat sudah dihentikan sebelum telur cacingnya habis di dalam usus. Obat cacing selain melumpuhkan dan membasmi cacing dewasanya, juga meniadakan telurnya.

Paling sulit menyembuhkan cacing kremi karena penyebaran telurnya lebih luas di dalam rumah, maka harus seluruh anggota keluarga disembuhkan sampai tuntas. Hanya menyembuhkan satu dua penderita saja, dan yang lainnya belum tuntas sembuh, mereka dapat menjadi sumber penular ulang. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan pemeriksaan ulang tinja untuk melihat masihkah ada telur cacingnya menjadi penting.

Cacingan merugikan proses tumbuh-kembang anak. Maka tidak boleh membiarkan anak “beternak” cacing di perutnya. Bila pertumbuhan anak terhambat, tampak pucat, selera makan terganggu, dan mungkin perutnya membuncit, pikirkan kemungkinan cacingan. Segera konsultasikan anak ke dokter, bawa juga tinjanya  ke laboratorium, dan diperiksa , adakah telur cacing yang berkembang biak di dalamnya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait