Cermat Dalam Menghukum Anak

Hukuman adalah sanksi fisik maupun psikis yang diterima seseorang karena dengan sengaja melanggar peraturan atau kesepakatan yang sudah dipahami atau disepakati sebelumnya.

Pada anak-anak balita, adanya kesalahan atau pelanggaran, tidak selalu karena adanya kesengajaan untuk melanggar. Tapi bisa saja terjadi karena masih terbatasnya kemampuan berfikir anak dalam memahami aturan-aturan yang ada. Selain itu, adanya sifat khas anak-anak usia balita yang senang bereksplorasi, seringkali juga menjadi penyebab adanya pelanggaran terhadap aturan-aturan yang sudah disepakati. Jadi dalam hal ini pelanggaran yang dilakukan anak, bisa terjadi karena untuk memuaskan rasa ingin tahunya dan menguji keberaniannya mengekspresikan diri atau mencoba suatu ketrampilan yang baru dikuasainya.

Sesuai dengan tahapan usianya, sangatlah wajar bila anak masih belum mengerti banyak hal, tugas orangtua untuk mengingatkan kembali bila anak lupa atau tidak sengaja melakukan pelanggaran.

Dengan mempertimbangkan ciri khas anak balita tersebut, maka apabila orangtua tetap memberikan hukuman pada anak, hendaknya dilakukan dengan secermat mungkin agar perkembangan moral anak dapat berkembang secara optimal.

Kecermatan dalam menghukum anak, dapat berfungsi menghambat timbulnya pengulangan tingkah laku yang tidak diharapkan (fungsi restriktif), membantu anak belajar tentang salah dan benar (fungsi edukatif) dan dapat memperkuat motivasi untuk menghindarkan diri dari prilaku yang tidak diharapkan.

Ketidak cermatan dalam menghukum anak, membuat hukuman yang diberikan tidak dapat memberikan manfaat dalam mengoptimalkan perkembangan moral anak. Bahkan sebaliknya, justru dengan adanya hukuman, timbul efek negatif pada anak, seperti membuat kenakalan anak malah menjadi-jadi, nakal, acuh tak acuh, penakut, minder, kurang inisiatif, dsb.

Untuk menghindari timbulnya efek negatif dari pemberian hukuman tersebut, berikut ini ada beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman agar kita bisa bertindak cermat dalam menghukum anak :

  1. Sebelum menghukum, pastikan dulu bahwa kesalahan yang dilakukan anak bukan karena kesengajaannya untuk melanggar aturan yang sudah diajarkan dan dipahami anak. Untuk ini perlu adanya kesepakatan dulu antara orangtua dan anak mengenai aturan yang harus dipatuhi anak atau hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak.
  2. Bersifat impersonal: hukuman tidak ditujukan kepada anak sebagai pribadi tapi lebih pada perbuatannya yang salah. Misalnya jangan katakan "ibu benci sama kamu, kamu memang anak nakal", tapi lebih baik katakan "ibu tidak senang dengan tingkah lakumu yang suka membanting-banting mainan".
  3. Pemberian hukuman dilakukan segera setelah anak melakukan pelanggaran sehingga anak bisa melihat kaitan yang erat diantara keduanya.
  4. Konsistensi perlakuan. Hukuman tetap diberikan setiap kali anak dengan sengaja melakukan tingkah laku yang tidak sesuai dengan aturan atau kesepakatan. Jangan hari ini diberikan hukuman tapi pada hari lain tidak diberi hukuman.
  5. Hindari pemberikan hukuman fisik atau psikis yang dapat melukai fisik maupun perasaan anak. Diperlukan kemampuan orangtua untuk bersabar dan mengendalikan emosi. Bila orangtua sedang dalam kondisi tidak nyaman, jangan lampiaskan kekesalan pada anak, lebih baik tinggalkan anak dahulu untuk sementara, misalnya masuk ke kamar, menarik nafas dalam-dalam atau berwudhu dulu agar bisa lebih tenang dan dapat berfikir bijaksana.
  6. Bersikap tegas dan bersungguh-sungguh dalam menegakkan aturan. Jangan karena anak merajuk, mencium atau berusaha mengambil hati anda, akhirnya membuat anda bersikap longgar atau permissif terhadap aturan yang sudah disepakati.
  7. Pemberian hukuman hendaknya juga diimbangi dengan pemberian pujian di saat lain dimana anak mematuhi aturan yang ada.
  8. Berikan hukuman sesuai dengan usia dan kondisi anak. Bila terlihat bahwa anak makin rewel dan tidak bisa diam karena hukuman yang diberikan terlalu lama, maka anda dapat memperpendek waktu hukumannya. Misalnya lima menit memberikan “time out” pada anak, mungkin merupakan waktu yang terlalu panjang buat anak, oleh karena itu begitu anak terlihat tenang, walaupun belum 5 menit, segera hentikan hukuman.
  9. Jelaskan kepada anak, alasan mengapa ia mendapat hukuman. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat belajar mengembangkan hati nuraninya sehingga kelak dapat mengembangkan kontrol dari dalam dirinya sendiri.

Share artikel ini:

Artikel Terkait