Cermat Menumbuhkan Keberanian Pada Anak

Keberanian itu memang bisa baik dan bisa buruk, tergantung mau digunakan untuk apa dan bagaimana menggunakannya. Tapi, kalau konteksnya anak-anak, kita tentu lebih menginginkan si anak menjadi pemberani ketimbang kurang berani.

Semua anak memiliki potensi untuk menjadi pemberani dan potensi ini bisa dikeluarkan dimunculkan dari pola pengasuhan. Pertanyaannya, pengasuhan seperti apa yang mendukung? Dari kajian dan praktek, model pengasuhan yang mendukung itu antara lain:

Pengasuhan yang banyak memberikan dorongan/ stimulasi, misalnya mendorong anak untuk mencoba hal baru dan memberi ruang untuk bereksplorasi di rumah atau di lingkungannya, seperti bermain dan berinteraksi dengan alam. Artinya, pengasuhan yang lebih banyak menggunakan kata "jangan", "awas", atau larangan lainnya, akan kurang mendukung keberanian si anak. Anak akan terhantui oleh rasa takut.

Model pengasuhan yang mendukung juga adalah yang banyak memberikan pengarahan (direction) ketika anak melanggar, menyimpang, atau melakukan kesalahan.

Pengasuhan yang banyak memberikan serangan atau hanya menyalahkan saja, sangat kurang mendukung. Ketika anak sedang bereksplorasi melalui aktivitas bermain, tentunya banyak kesalahan dan kekurangan. Mungkin bikin gaduh atau bikin berantakan rumah. Jika kita bertindak sebagai pengarah untuk menunjukkan mana yang baik dan mana yang tidak, maka si anak akan pede dan berani dengan inisiatifnya.

Tapi kalau sudah main menyerang si anak dengan kata-kata, sikap, maupun tindakan, atau melarangnya tanpa pengarahan, bisa-bisa anak menjadi kurang berani atau justru beraninya tanpa arah.

Model pengasuhan yang mendukung lagi adalah pengasuhan yang suportif dan respek terhadap pilihan si anak. Pengasuhan yang sedikit-sedikit memberikan kritikan dan koreksi tajam agar dia harus begini dan begitu sesuai standar subjektif kita sangatlah kurang mendukung. Misalnya memilih baju. Mau kita designer kondang atau apa, anak kita mungkin punya inisiatif sendiri yang tidak sama dengan kita soal selera. Begitu kita terus kritik dan koreksi, dia akan mengembangkan rasa takut atau minder.

Jadi? Yang perlu kita lakukan bukan mengoreksi habis-habisan pilihannya, tetapi membekali pengetahuan dan pengalaman mengenai hal-hal yang kita anggap dia perlu tahu. Tapi, hindari terlalu sering mengkritik atau menggagalkan.

Apa mudah menjadi pendorong, pengarah dan pendukung? Pastinya tidak mudah. Terkadang kita perlu mengabaikan praktek seperti di atas untuk memperoleh hasil yang cepat dan tepat, misalnya saat bertamu.

Di samping itu, supaya keberanian dia tidak kebablasan, kita perlu menanyakan alasan pilihannya, melatih dia untuk memperhitungkan risiko, membiarkan dia untuk merasakan konsekuensi yang terukur, dan membekali dia dengan nilai.

Idealnya, kita perlu membekali "courage" (keberanian) si anak dengan "consideration" (pertimbangan). Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait