Mencari Dokter yang Tepat Untuk Si Kecil

Apakah memang dokter harus dan perlu dicari? Adakah perbedaan dokter yang satu dengan yang lain? Juga ketika anak sedang jatuh sakit. Apa makna pencarian dokter jika itu dipandang perlu?

IBU Pras pasti harus bertemu dengan Dokter Polan setiap kali puteranya sakit. Tidak boleh tidak, dan bukan dokter yang lain. Belum minum obat pun kalau sudah ketemu dokter, langsung menyembuh. Peran psikologis ibu berimbas pada kesembuhan anak. Fanatisme ibu terhadap dokter sering terjadi begitu.

Rasa percaya pasien yang tebal, keyakinan akan sembuh yang tinggi, dan semua faktor penunjang, menentukan apakah sebuah pengobatan memberi kesembuhan. Peran sakit anak sebagian besar masih diwakili oleh ibu. Juga ketika dokter bertanya, umumnya ibu saja yang menjawab pertanyaan dokter (allo-anamnesis).

Karena dalam proses kesembuhan faktor non-medis cukup besar, kalau bukan lebih besar, khususnya untuk pasien kanak-kanak, tak sedikit peran pilihan dokter dalam berobat ikut menentukan kesembuhan. Baru dipegang profesor Anu, anak langsung sembuh. Bisa jadi karena rasa percaya ibunya begitu lekat pada karisma sang profesor.

Tentu tidak setiap dokter sama, dan cara dokter menghadapi pasien pun sebuah seni. Ada kiat, ada jam terbang, ada emosi, dan aspek lain, di luar teknis medis sendiri yang ikut membangun proses kesembuhan pasien oleh seorang dokter. Untuk anak, peran yang seperti ini jauh lebih besar.

Pada dasarnya tidak ada perbedaan penyakit anak dengan penyakit orang dewasa. Dalam hal keberagaman penyakit, hanya ada sebagian kelompok penyakit anak, yang tidak diderita setelah dewasa. Hal lainnya, pendekatan dokter terhadap pasien anak tentu tidak sama dengan ketika menghadapi pasien dewasa.

Selain bayi, anak umumnya belum mampu mengungkapkan keluhannya. Lebih sering diterjemahkan oleh ayah-ibunya yang belum tentu terungkap sesuai dengan apa yang anak rasa dan alami. Anak Indonesia umumnya tidak dibiasakan bebas mengungkapkan keluhannya sendiri kendati mampu ketika bertemu dokter. Kebanyakan malu, dan tidak dibuat terbiasa melakukannya. Dan ini keliru.

Karena keluhan anak diceritakan oleh ibu, maka dokter mungkin belum tentu lengkap dan utuh mendengar apa yang anak rasa dan alami. Padahal anamnesis dokter itu bagian penting untuk menegakkan diagnosis di kamar praktik. Buat dokter tak cukup hanya dari melihat dan memeriksa di kamar praktik. Seberapa bisa, kalau anak sudah bisa berbicara, biarkan anak sendiri mengungkapkan segala keluhan dan apa-apa yang dirasa dan alami, dan dokter bisa lebih dekat mengoreknya ketimbang kalau ibu yang menceritakannya.

Yang sering orang tanyakan, ke dokter mana sebaiknya berobat kalau anak sakit? Sebagian besar membawa anak ke dokter ahli anak (spesialis anak). Sejatinya, tidaklah demikian. Dalam sistem rujukan, semua pasien awalnya pergi ke dokter umum sebagai dokter keluarga terlebih dahulu. Sebagai dokter umum ia mempelajari semua bidang keahlian, tanpa terkecuali. Termasuk bidang kesehatan dan penyakit anak. Seturut sistem rujukan, dokter keluarga baru merujuk pasien yang sudah diperiksanya apabila menurut penilaiannya pasien memerlukan tangan ahlinya. Selama dokter-keluarga menilai pasien masih bisa ditanganinya sendiri, tak perlulah pasien dirujuk.

JADI sejatinya, anak sakit cukup dibawa ke dokter umum sebagai dokter keluarga. Hanya apabila penyakitnya memerlukan layanan medis keahlian, baik untuk suatu tindakan medis, atau taraf mendiagnosis, barulah pasien dirujuk ke dokter ahlinya.

Oleh karena dokter belum tentu sama cara dan penampilannya, hak pasien untuk jeli dan bijak menentukan sikap. Sekiranya pasien menyangsikan dokternya dalam berobat, tak salah untuk meminta pendapat kedua dari dokter lain. Termasuk untuk pasien anak. Namun perlu diingat sebagian besar penyakit sehari-hari, yang tidak tergolong berat, umumnya bukan jenis penyakit yang serius. Rata-rata jenis penyakit begini biasanya dapat diatasi oleh dokter umum, bahkan oleh perawat atau bidan sekalipun. Bisa jadi malah bisa menyembuh sendiri (self limitting diseases).

Tenaga dokter ahli kita masih sangat kurang dan terbatas. Kalau semua pasien menumpuk di dokter ahli, bagaimana dokter bisa tetap berpenampilan profesional lagi. Dari sana kemungkinan kasus malpraktik berpotensi muncul. Dokter bukan malaikat. Tenaga dan konsentrasipun dalam bekerja juga ada batasnya. Jika pasiennya menumpuk sampai lewat tengah malam, tentu dokter juga bisa alpa. Yang tidak seharusnya terjadi pada pasien yang diperiksanya, mungkin saja bisa terjadi. Kalau itu menimpa anak kita sendiri, menyesal tak lagi ada gunanya.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait