Jenis Makanan Sapihan

Yang dimaksud makanan sapihan bukanlah berhenti memberi air susu ibu (ASI) kepada bayi namun pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) setelah 6 bulan pertama pemberian ASI eksklusif. ASI hendaklah terus diberikan sampai usia anak dua tahun atau lebih.

Masa penyapihan anak bukan saja soal waktu, melainkan juga apa jenis makanan yang perlu, dan harus diberikan bila waktu tiba. Hari depan lidah anak juga ditentukan oleh bagaimana orang-tua menyikapi masa penyapihan anak. Tidak semua selera makan anak diwariskan dari ayah-bundanya. Sebagian dibentuk oleh pengalaman pertama anak menerima makanan sapihannya.

JENIS menu manusia terlihat dari susunan dan jenis gigi-geliginya. Mengamati gigi-geligi manusia, mestinya manusia tergolong "pemakan segala". Ada gigi seri untuk mengerat makanan, ada pula gigi taring untuk mengoyak makanan (carnivora atau pemakan daging), selain ada pula gigi geraham untuk mengunyah atau memamah (herbivora atau pemakan sayur-mayur).

Melihat enzim pencernaan manusia, juga lengkap tersedia untuk memetabolisme jenis makanan protein, lemak, selain karbohidrat. Berarti tubuh manusia bukan seperti sapi, yang makanan pokoknya cukup mengonsumsi rumput, bisa menghasilkan susu. Tubuh kita juga membutuhkan daging, ikan, telur, unggas, tempe, (kacang-kacangan) minyak, selain makanan pokok nasi.

Sejalan dengan tahap pertumbuhan, kebutuhan akan makanan berjenjang sesuai dengan kematangan organ dan kemampaun metabolisme tubuh, serta kesiapan perkembangannya (readyness). Oleh karena tubuh belum lengkap dapur tubuhnya, cukup mendapat ASI saja sampai anak berusia enam bulan (ASI Eksklusif). Karena hanya ASI yang mampu diolah oleh dapur tubuhnya untuk bertumbuh optimal sampai berumur enam bulan. Memberinya makanan selain ASI akan membebani mesin tubuhnya, khususnya organ pencernaannya. Maka bila kelewat dini memberi anak makanan padat, sekali lagi, tidaklah dianjurkan. Selain berisiko "merusak" kelak setelah dewasa, bayi berisiko kelebihan kalori, lalu menjadi kegemukan.

Sebaliknya, apabila sudah tiba masa penyapihan, bila anak tidak cukup menerima porsi maupun keaneka-ragaman menu hariannya, sama tidak menyehatkannya. Maka arifnya memberi makanan sebagaimana yang ada di meja makan rumahnya setelah anak memasuki usia setahun.

Pemberian makanan sapihan sebaiknya berangsur-angsur mulai dari yang paling lembut sampai yang lebih keras. Demikian pula dengan keaneka-ragaman bahan makanan, tekstur, rasa, dan bentuk menunya. Semakin beragam bentuk tekstur, dan rasa, semakin menguntungkan anak. Cita rasa anak bertumbuh dari perkenalan makanan yang lebih beragam.

Satu hal yang tak boleh dilupakan. Setelah anak mulai disapih, pemberian ASI masih terus diberikan. Kalau memungkinkan, pemberian ASI dapat diteruskan sampai umur anak 2 tahun atau. Selain anak diuntungkan oleh pemberian asupan terbaiknya, dengan memberikan ASI sekaligus sebagai salah satu cara ikut Keluarga Berencana. Karena selama masih tetap menyusui bayi, sel telur tidak gampang terbentuk.

Bentuk menu harian perlu lebih lembut, dan sebaiknya tidak memberikan jenis menu yang merangsang, seperti pedas, masam, berbumbu kental (kelewat spicy). Yang perlu diingat pula, menu hariannya senantiasa beragam dan tidak monodiet (bolak balik hanya menu yang itu-itu saja lagi dari hari ke sehari).

Ada anak yang mengalami kesukaran menelan atau perlu waktu lebih untuk terampil menikmati makanan padatnya pada masa sapihan. Itu berarti dari jenis menu yang sama beranekaragamnya, bentuknya saja yang dibuat lebih lembut (dilumatkan dulu). Karena memang tidak semua anak sama kapasitas kerongkongan maupun volume lambungnya. Ukuran sendok juga perlu disesuaikan dengan kapasitas menelannya.

Perkenalan anak pada menu makanan sapihan acap menimbulkan kesan pertama yang tidak elok. Tidak jarang buruknya kesan pertama anak terhadap sejenis menu, terbawa sampai usia dewasa. Misal karena merasa dipaksa, dijejal makanan yang belum dikenalnya.

Rasa putus asa ibu, atau pengasuhnya terhadap selera makan anak yang jelek, berpulang dari bagaimana memperkenalkan makanan padat pertama. Ibu yang kurang sabar hanya membiarkan anak memilih selera menunya sendiri yang belum tentu lengkap sesuai kebutuhan tubuhnya, menentukan kecukupan gizi anak kelak. Menjadi anak yang hanya suka makan yang kering-kering, dan menolak sayur-mayur. Atau anak yang hanya memilih makan mi, dan menolak lauk-pauk. Lebih dilematis lagi, bila anak telanjur hanya memilih minum ASI saja padahal sudah memerlukan makanan padat.

Maka masa penyapihan selain harus mulus memperkenalkan segala jenis menu keluarga, perlu kiat agar anak tercipta menjadi pemakan segala sejak kecil mula. Untuk itu anak harus berkesan saat perkenalan pertama kalinya dengan menu baru, selain harus terbangun pula rasa laparnya.

Jadwal makan yang tidak tertib, mengganggu bangkitnya rasa lapar anak. Terlebih jika kebiasaan camilan mendominasi jadwal makannya. Jenis camilan yang serba manis mengacaukan nafsu makan, sebab tubuh tidak mengenal lagi kapan saatnya harus makan. Kesulitan makan anak sering bermuasal dari munculnya kondisi begini.

Jenis makanan sapihan yang bijak itu, jenis menu yang menjadikan anak pemakan segala. Selain anak terhindar dari kemungkinan kekurangan gizi, pertumbuhannya pun bisa ideal. Tubuh anak yang ideal ialah yang tidak gemuk, tidak pula kurus. Dan itu hanya mungin diperoleh jika jenis menu sapihannya cukup bijak, dan masa penyapihan pun berlangsung mulus.

Share artikel ini:

Artikel Terkait