Sebagai Minuman Alternatif Si Kecil, Jus Perlu Dibatasi

Ada banyak pilihan makanan dan minuman alternatif buat si kecil. Tidak semuanya menyehatkan dan aman untuk dikonsumsi. Lebih-lebih begitu banyak dilaporkan produk jajanan yang kurang mengindahkan aturan, bahan pemanis buatan , pengawet, pewarna, dan penyedap yang tidak diperbolehkan dikonsumsi, atau dipakai dengan takaran yang melebihi ketentuan. Bagaimana hal nya dengan Jus?

HAMPIR setiap anak menyukai jus. Apalagi jika cita rasa dan aromanya memikat lidah anak. Cita rasa yang sangat manis, aroma gula, dan kemasan yang menarik. Rata-rata produk jus, menyihir anak untuk lebih memilih produk jajanan ketimbang bahan aslinya, yakni buah segar.

Kita menyadari, tidak banyak, produk jus yang murni buah aslinya. Sebagian barang tentu dicampur, tidak penuh kandungan buah aslinya. Bisa jadi bahkan ada pula yang hanya berisikan air yang ditambahkan bahan esens. Untuk membuatnya lebih awet, sering ditambahkan bahan pengawet.

Perlu kita ingat mengkonsumsi buah segar jauh lebih baik dibanding yang sudah diproses. Apalagi bumi kita sendiri memiliki beraneka ragam jenis bebuahan. Bahkan kita masih mungkin memperolehnya masih segar baru petik pohon, dan boleh jadi kita memetiknya di kebun rumah sendiri.

Bebuahan dalam jus siap minum umumnya produk skala masal. Selain itu, kadang-kadang sejak di pohon buahnya sudah diberi bahan kimiawi pada lapisan kulitnya agar tahan hama. Seperti kecenderungan sekarang orang mengejar sayuran organik, nasib buah produksi industri juga tidak lebih sehat dibanding buah yang ditanam secara alami belaka.

Maka tidak berlebihan jika kita memang perlu menyangsikan kualitas jus yang kita beli, bukan saja akan keutuhan kandungan buahnya, melainkan juga bahan apa saja yang sudah ditambahkan ke dalamnya. Apakah semuanya menyehatkan, dan aman dikonsumsi.

Beberapa jenis pemanis buatan ada yang tidak boleh dipakai lagi. Jenis yang boleh untuk orang dewasa belum tentu aman buat dikonsumsi anak-anak. Mengkonsumsi pemanis buatan sesekali tentu berbeda efek buruknya terhadap tubuh dibanding dengan apabila dikonsumsi untuk jangka waktu lama. Termasuk jika sudah ditambahkan pengawet, dan kualitas buahnya sendiri bukan produk alami.

Padahal kini orang semakin berpikir untuk ”kembali ke alam”. Demikian pula ketika memilih buah yang akan dikonsumsi. Lalu kalau begitu mengapa tidak memilih buah segar saja ketimbang terus memilih jus?.

Pilihan jus bukanlah milik tradisi bangsa kita. Jus dibuat untuk pertimbangan kepraktisan orang negara maju. Ketika semua dijadikan serba instant, demikian pula dalam memperlakukan buah sebagai komoditi untuk memenuhi kecukupan zat gizi keluarga.

Taruhlah kita membuat jus sendiri di rumah. Lalu apa kekurangannya kebiasaan kita mengkonsumsi jus dibanding memilih mengkonsumsi buah segar? Tentu saja ada lebih dari satu.

Pertama, dalam membuat jus, tentu kita menambahkan gula pasir. Kita tahu mengkonsumsi gula pasir tidak lebih menyehatkan ketimbang mengkonsumsi air tebu, madu, atau gula alam dari pohon enau, atau pohon kelapa (gula merah). Itu berarti konsumsi gula harian keluarga menjadi lebih banyak.

Kedua, dengan membuat jus, berarti kulit buah dibuang dan tidak terkonsumsi. Padahal dalam kulit buah sebagian vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya, ada di sana. Itu berarti tidak semua vitamin dan mineral buah kita manfaatkan.

Lain dari itu, bahwa dengan membuat jus, serat (fiber) jenis yang tidak larut dalam ampas buah juga tidak termanfaatkan. Padahal usus kita juga membutuhkan lebih banyak serat dalam ampas buah. Itu sebab buah yang diblender lebih menyehatkan ketimbang buah yang dibuat jus.

Sebaliknya, apabila buah segarlah yang kita konsumsi, kita mendapatkan beberapa kelebihan. Pertama, kita dapat bebas memilih buah yang kelihatan segar, matang di pohon, dan berkualitas tinggi. Dan ketika mengkonsumsi buah, kita tidak menambahkan gula apa pun, betapa pun rasa buah kurang begitu manis. Lain dari itu dengan cara mengkonsumsi buah langsung secara utuh, sekujur buah kita konsumsi tanpa kecuali, termasuk ampas buahnya.

Selain itu mengerogoti buah juga menyehatkan gigi-geligi. Bahkan sudah menjadi keharusan gigi anak sejak kecil dibiasakan dilatih mengunyah buah sejenis jambu, kedondong, atau umbi bengkuang untuk mengokohkan konstruksi gigi-geliginya.

Jadi ditilik dari sudut mana pun, mengkonsumsi jus bagi anak dan orang dewasa, tidak lebih menyehatkan ketimbang memilih mengkonsumsi buah segar. Maka demi membangun kesehatan yang menguntungkan dirinya, lidah anak jangan dibiasakan begaul lebih akrab dengan jus sejak kecil mula.

Biasakan selera anak justru menjadi bersahabat dengan buah segar yang memiliki cita rasa alami, tanpa tambahan bahan buatan apa pun, kecuali yang diberikan bumi yang bukan hasil produk mesin jus.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait