Kapan Anak Bisa Diajarkan Tata Krama?

Bagi anak, tata krama bisa jadi membingungkan. Misalnya saja di rumah, anak memegang kepala ayahnya, hal ini mengandung makna kasih sayang atau kedekatan. Orangtua pun biasa (bahkan sangat dianjurkan) mengelus / mencium / memegang kepalanya. Tapi bagaimana kalau di luar rumah, misalnya kepada orang yang tidak memiliki kedekatan langsung. Walaupun mungkin bisa dipahami, tetapi hukum tata kramanya akan mengatakan itu  dianggap kurang sopan.

Bagaimana mengajarkan hal ini? Apa bisa anak membedakan antara memegang kepala yang dibolehkan dan yang tidak dibolehkan? Apa bisa anak kita ajari untuk membedakan antara berprilaku di rumah sendiri dan berprilaku di luar rumah.

Secara kognitif (perkembangan pikiran), anak sudah mulai bisa diajari untuk berpikir ketika memasuki usia 2 tahun. Berpikir di sini maksudnya adalah mampu menangkap apa yang kita ucapkan. Tapi tentu masih sangat terbatas pada hal-hal kongkrit / nyata, yang sanggup ia jangkau, berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya.

Kemampuan berpikir anak sudah memiliki dasar yang sangat sempurna untuk dikembangkan ketika usianya 11 tahun. Menurut teorinya Piaget, pada saat itu anak sudah berkemampuan untuk diajak berpikir abstrak, semacam tata krama sosial yang ukurannya tidak bisa dijelaskan secara detail.

Lalu, dalam rentang waktu antara 2-11 tahun itu, apa yang perlu kita lakukan?  Selain tentunya perlu memberikan penjelasan dan pengetahuan, entah dari bacaan atau tayangan, yang juga penting adalah memfasilitasi anak dengan pengalaman, dibiarkan bersosialisasi dengan teman sekolah dalam batas yang bisa kita amati, dan lain-lain.

Dari pengalaman dia itulah kita berkesempatan memberikan evaluasi, mana yang baik dan mana yang perlu diperbaiki. Inilah yang disebut evaluasi konstruktif atau evaluasi yang memotivasi anak untuk memperbaiki diri, bukan yang mengkritik atau menyalahkan.

Yang juga penting adalah melatih anak bagaimana mengatur hidup berdasarkan perkembangannya di rumah. Anak yang telah dibiasakan untuk hidup secara teratur dan tanggungjawab di rumah akan secara tak sadar mempraktekkannya di luar.

Yang perlu dihindari adalah mengucapkan kata "jangan" sehingga menanamkan ketakutan untuk berekspresi dan berkreasi. Lebih-lebih jika frekuensinya tinggi atau kuantitasnya banyak tanpa ada penjelasan ang mendorong dia untuk perbaikan. Tugas kita  adalah mengajari bukan membatasi. Semoga bermanfaat.

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait