Waspada Obesitas

Manakala kecenderungan penyakit infeksi di dunia menurun, angka obesitas terus meningkat. Disproporsi berat badan terhadap tinggi badan yang diukur dengan indeks masa tubuh (body mass index) kini menjadi epidemi sejak umur balita. Dan itu menjadi masalah, karena berat badan berlebih di tiap kurun berarti menyimpan bom waktu untuk meledaknya sejumlah penyakit di kemudian hari. Kapan perlu diwaspadai?

ANAK maupun orang dewasa digolongkan kelebihan berat badan jika indeks masa tubuh atau BMI (body mass index) lebih dari 25. Idealnya antara 20-25.
*) berdasarkan standard WHO
IMT dihitung dari: Berat badan (Kg) dibagi Tinggi badan kuadrat (M)

Berat-badan (Kg)
Tinggi-Badan2 (M)


Kategori IMT
Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,4
Normal   18,5 – 25,0
Gemuk Kelebihan berat badan (overweight) 25,1 – 29,9
Sangat Kelebihan berat badan ( obese ) > 30
Contoh: Bila tinggi badan 160 cm dan berat badan 70 kg. Maka IMT:

        70         =       70       = 27,4
(1,6 X 1,6) m        2,56

IMT 27,4 berarti dalam keadaan kelebihan berat badan à dianjurkan menurunkan berat badan dalam kisaran 48 - 63 kg agar mencapai IMT 18,5 – 25,0.

Perlu diperhatikan bila IMT telah 25,0 harus berhati-hati agar berat badan tidak naik.

Di dunia, kini kelebihan berat badan bukan lagi hanya masalah orang dewasa. Anak dilahirkan dengan berat badan lebih dari normal, dan berlanjut dengan BMI di atas indeks normal, dianggap lumrah.

Anak balita Amerika Serikat dengan obesitas sekarang sudah mencapai 22 juta. Biaya masalah kesehatan terkait dengan obesitas kini sudah melebihi masalah akibat merokok. Perkiraan uang yang dihabiskan di AS per tahun mencapai 93 juta dollar AS. Pemborosan anggaran kesehatan yang setara dengan itu dipikul kelompok obesitas kita. Maka kapan pun kecenderungan obesitas muncul, harus dan perlu diwaspadai.

Awalnya sudah gemuk sejak kecil. Kita tahu kecenderungan itu sudah ada sejak perekonomian dunia semakin maju. Ketika anggapan bayi sehat itu bayi yang montok dibenarkan orang. Maka sebagian besar bayi menjadi lebih gemuk dari seharusnya. Juga bagi masyarakat yang beranggapan kalau gemuk itu simbol status kemakmuran.



Jangankan obesitas, berat badan berlebih pun sudah harus diwaspadai. Sudah semenjak usia remaja, rata-rata anak-anak AS sudah mengidap kelebihan lemak darah (hyperlipidemia), akibat kelebihan berat badan sedari kecil. Kelak bakat itu yang akan mengantarkannya memikul sejumlah penyakit metabolik.

Lebih dari sekadar bakat menjadi gemuk, kekeliruan dalam memberi makan, porsi dan pilihan menu menjadikan rata-rata anak sekarang lebih berat dari normal. Bagai nasi sudah menjadi bubur, tak gampang dikoreksi.

Bukan saja jumlah sel-selnya yang bertumbuh lebih banyak dibanding anak normal, gemuk sejak kecil berarti ukuran sel-selnya juga lebih besar dari yang dimiliki anak normal. Dan di situ letak masalahnya.

Jumlah sel dapat dikurangi, namun tidak dengan ukuran sel. Maka jika sudah kelebihan berat badan, apalagi bila sudah tergolong obesitas, tak ada cara gampang menurunkan berat badan di hari kemudian. Artinya, kecenderungan untuk tetap gemuk, atau obesitas sudah terbawa sampai usia dewasa. Pada tubuh yang demikian sejumlah penyakit mengancam. Maka ongkos kesehatan pribadi maupun yang harus ditanggung pemerintah menjadi bengkak apabila populasi lebih banyak yang kelebihan berat badan.

Satu yang perlu diwaspadai. Yakni kecenderungan lemak darah yang meninggi. Belajar dari pengalaman remaja AS yang sudah kelebihan lipid (baca: trigliserida dan kolesterol), bisa jadi remaja perkotaan kita pun sudah seperti itu. Sudah harus memikul risiko untuk terserang penyakit jantung koroner, dan stroke sejak usia masih sangat belia.

Umumnya, zaman dahulu baru setelah umur kepala empat bahkan lima, krisis penyakit orang modern baru muncul. Kini serangan jantung koroner dan stroke sudah mengancam mereka yang berumur kepala tiga, karena risiko untuk terkena itu sudah ada sejak usia remaja, bahkan bibitnya ditanam ketika masih balita. Maka pemeriksaan darah untuk melihat kadar lemak dalam darah harus rutin dilakukan.

Memiliki berat badan berlebih juga menyimpan risiko terkena diabetes, kendati tidak punya turunan kencing manis. Insulin dalam tubuh menjadi resisten karena melayani lebih banyak sel-sel tubuh, sehingga terjadi kencing manis. Bakat semacam begini dibawa oleh mereka yang berat badannya berlebih. Untuk itu, pengukuran kadar gula darah juga perlu dilakukan rutin berkala sekurang-kurangnya setiap tahun oleh mereka yang obese.

Berat badan berlebih juga menimbun lebih banyak gajih. Selain di bawah kulit, gajih juga menyelimuti organ-organ dalaman, termasuk jantung dan hati. Perlemakan pada organ tubuh bisa mengganggu fungsi. Maka pemeriksaan jantung dan hati perlu dilakukan juga, terlebih apabila sudah ada gangguan sesak napas yang sering, atau fungsi metabolisme pencernaan mulai tidak beres.

Kecenderungan meningginya tekanan darah pada yang berat badannya berlebih, termasuk yang obesitas juga perlu diwaspadai. Maka pemeriksaan tekanan darah juga perlu dilakukan rutin. Tekanan darah yang meninggi sejak kecil, tentu buruk akibatnya setelah dewasa dan berusia lanjut.

Kemungkinan lain, apabila kadar asam urat (uric acid) juga cenderung lebih dari nilai normal (7,0). Kendati tidak berbakat mengidap asam urat berlebih, oleh karena kualitas menunya cenderung tinggi purin (gugus protein penghasil asam urat), maka risiko mengidap kelebihan asam urat (hyperuricemia) dapat saja terjadi.

Ketika beban tubuh sudah tak mampu disokong oleh kedua tungkai sehingga pergerakan badan menjadi tidak lagi normal dan seimbang, perlu diwaspadai kondisi motorik tubuh. Risiko terjatuh, terkilir, perlu diantisipasi.

Untuk menghadapi semua risiko di atas, mereka yang sudah obese tubuhnya perlu dikuatkan, paling tidak dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan buruk yang kelak berpotensi untuk dipikulnya. Untuk itu jantungnya perlu dilatih sejak kecil.

Ada perbedaan jantung yang terlatih dengan yang tidak terbiasa bergiat. Otot jantung menjadi lebih tebal jika terbiasa terlatih. Gunanya, agar bekerja lebih efisien, dan sekiranya nanti harus memikul beban pemompaan yang berat, saat terancam sumbatan koroner misalnya, jantung tidak mudah melemah.

Seiring dengan itu, pola makan dan pilihan menu juga perlu lebih bijak. Batasi semua yang berlemak, dan kurangi porsi makan berkarbohidrat, termasuk yang serba manis. Oleh karena kebutuhan kalori akibat obesitasnya cenderung di atas rata-rata, maka menghadapi diet sering tidak mudah. Tuntutan selera makan berlebih harus dikawal oleh porsi makan yang terus harus sesuai kebutuhan normal yaitu tidak kekurangan dan jangan sampai kelebihan.

Gerak badan dan olahraga adalah penyeimbang yang membantu proses menuju berat badan yang tidak terus membengkak. Dengan cara membatasi diet, dan porsi bergiat yang terus ditingkatkan, berpotensi untuk menyusutkan berat badan. Bonus dari kegiatan itu, sekaligus menguatkan jantung, paru-paru, sendi, serta otot juga, selain menekan ancaman diabetes.


Share artikel ini:

Artikel Terkait