Kecakapan Emosi Si Buah Hati

Apa yang dilakukan orang tua bila menghadapi sang buah hatinya menangis, berteriak, atau menjerit di depan umum? Apakah akan marah, diam saja atau bahkan ikut berteriak?

Anak biasanya selalu ingin menjadi pusat perhatian. Jadi, apabila mereka tidak mendapatkan yang mereka inginkan, mereka merasa dengan berteriak, menjerit, dan menangis, mereka akan mendapatkan perhatian anda.

DR. Frieda Mangunsong, MSi dalam acara talkshow yang diadakan Dancow Parenting Center dan Delta Radio 99.1 FM pada Kamis, 12 February 2009, mengatakan,” apabila berprilaku seperti itu di tempat umum, menandakan bahwa anak tersebut belum cakap atau cerdas secara emosi.”

Kecerdasan atau kecakapan emosi seorang anak memang tidak dilahirkan, melainkan dibentuk oleh lingkungannya, yang dalam hal ini adalah keluarganya.

LATIHLAH

Menurut Frieda, orang tua haruslah menjadi role model yang baik bagi buah hatinya. Orang tua yang cakap secara emosi, juga akan membentuk anak yang cakap secara emosi pula. Hal ini adalah karena anak adalah peniru ulung.

Sebelum melatih untuk mengendalikan emosi, anak harus mengetahui 2 hal yakni kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan anak harus dipenuhi oleh orang tuanya. Kebutuhan ini berupa kasih sayang, perasaan aman dan nyaman, dsb. Sebaliknya, keinginan belum tentu akan dipenuhi oleh orang tuanya. Dan anak harus mempelajari dan mengetahui bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi.

Yang pertama dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan membantu anak untuk mengenali emosinya, sehingga mereka dapat mengetahui apa yang mereka rasakan, misalnya perasaan sedih, marah, senang, dll. Untuk membantu mengenal emosi ini kita dapat membantunya dengan memberikan contoh, misalnya apabila mereka tidak mau makan, maka kita sedih dan sebaliknya bila si kecil mau makan, maka kita akan senang. Ungkapkan kepada si kecil sehingga mereka dapat mengetahuinya.

Dan, setelah mereka mulai dapat mengenali emosinya, kita mulai dapat melatih mengelola emosi mereka. Yang dapat kita lakukan pada saat ini adalah dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengungkapkan dan mengekspresikan perasaan mereka.

Namun yang terpenting menurut Frieda adalah orang tua harus tetap tenang dalam menghadapi segala tingkah laku si kecil. Orang tua yang tenang dan mampu mengendalikan emosinya, biasanya juga akan membentuk anak yang tenang dan mampu mengendalikan emosinya pula.

Bentuk latihan yang lain misalnya adalah dengan menciptakan permainan yang menggunakan suatu peraturan atau batasan. Ajari anak untuk bermain bersama dan bersaing secara sehat. Dan tekankan bahwa dalam setiap permainan atau pertandingan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Jelaskan pada mereka bahwa bagi yang menang tidak boleh sombong dan yang kalah harus bersikap sportif. Bentuk permainan seperti ini menggambarkan kepada sang buah hati bahwa hidup penuh dengan persaingan dan tidak semua keinginan dapat diperoleh oleh mereka. Latihan seperti ini juga dapat membantu mengendalikan emosi mereka.

Frieda menjelaskan bahwa bila si kecil marah atau mengamuk karena menginginkan sesuatu, kita sebagai orang tua harus tetap konsisten. Kita harus melihat apakah yang diinginkan oleh si kecil memang diperlukan atau tidak. Kalau tidak diperlukan, kita harus menjelaskan kepada mereka tentang alasan mengapa kita tidak mengabulkan keinginan sang anak.

MAKAN DAN CAKAP EMOSI

Dra. Rienani Mahadi, seorang praktisi gizi dari PT. Nestle dalam acara yang sama juga menjelaskan ada kaitannya antara makan dengan emosi seorang anak.

”Anak yang terpenuhi kebutuhan gizinya dengan baik, maka kesehatannya juga akan terjaga dengan baik pula. Sebaliknya, bila anak tidak terpenuhi kebutuhan gizinya akan mempengaruhi emosinya. Misalnya dalam keadaan lapar, maka anak akan rewel dan cengeng,” demikian jelas Rienani.

Anak yang cakap emosi dapat dilihat yakni apabila mereka dalam keadaan lapar, mereka pasti akan mengatakan bahwa mereka lapar. Anak seperti ini sudah mampu mengenali emosinya. Namun, sebaliknya bila ada anak yang hanya menangis bila mereka lapar, berarti mereka belum mampu mengenali emosi mereka sendiri.

Menurut Rienani, seorang anak yang berusia 1 tahun biasanya mulai mengenali dan selalu ingin menyentuh setiap makanan yang diberikan kepadanya, sehingga seorang ibu atau pengasuhnya harus memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati makanan tersebut, menurut caranya sendiri. ” Pada usia ini, dimensi mata anak biasanya belum sempurna, sehingga bila menggunakan alat makan seperti sendok, belum bisa masuk ke mulutnya dengan baik, dan orang tua harus melatih hal ini,” lanjutnya.

”Untuk anak yang berusia 3 tahun, biasanya anak mulai menikmati makan bersama dengan teman-temannya. Sedangkan pada anak usia 5 tahun, anak mulai dapat memanage makanan sesuai dengan kebutuhannya. Dan ini merupakan kesempatan kita melatihnya untuk menunda keinginannya itu bila memang tidak diperlukan. Hal ini juga merupakan latihan untuk membentuk kecakapan emosinya,” demikian papar Rienani.

Pendidikan makan ini sebaiknya dikenalkan sejak usia dini. Hal ini akan mempengaruhi pola makan anak di kemudian hari. Anak harus diberikan makanan yang beragam dan seimbang. Makanan yang sebaiknya diberikan terdiri dari makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, lauk pauk sebagai sumber protein dan lemak, sayur dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral, dan yang terpenting adalah susu. Susunan ini dikenal dengan 4 sehat 5 sempurna.

Rienani mengingatkan agar tetap memberikan susu kepada sang buah hati karena susu mengandung nutrisi lengkap yang sangat dibutuhkan si buah hati, terutama pada masa pertumbuhannya. Selain itu, susu juga membuat penyerapan beberapa zat gizi yang lainnya menjadi lebih mudah. Dan pemberian susu ini harus tetap dipenuhi sampai mereka dewasa.

Bila anak tidak menyukai susu, maka orang tua, khususnya ibu dituntut untuk lebih kreatif dalam memberikan makanan lain yang menggunakan susu di dalamnya, seperti es krim, nasi gurih yang dibuat dengan susu, puding, dll.

Share artikel ini:

Artikel Terkait