Agar Anak Tak Mengalami Obesitas Saat Dewasa

Agar Anak Tak Mengalami Obesitas Saat Dewasa

Kelebihan berat badan atau obesitas menjadi hal menakutkan bagi hampir seluruh manusia. Faktanya, hampir 30 persen penduduk di dunia atau sekitar 2,1 miliar orang terkena obesitas.

Masalah utama bagi penderita obesitas bukan soal enak dipandang. Tetapi yang utama adalah bahaya penurunan kesehatan dan daya tahan tubuh. Akibatnya, berbagai macam penyakit menghantui orang-orang yang mengalami kelebihan berat badan.

Penderita obesitas biasanya mengalami kegemukan sejak kanak-kanak. Data dari WHO, menyebutkan 60 persen anak-anak yang kelebihan berat badan pada usia tiga tahun, dua pertiganya akan gemuk lagi pada dewasa. Anak gemuk memang terlihat lucu. Namun dari sisi kesehatan, gemuk itu tidak baik.

Menjadikan anak tidak gemuk memerlukan pemahaman yang bijak. Sebab, saat anak telanjur kelebihan berat badan, perkembangan tubuh selanjutnya sulit dikoreksi.

Tubuh anak secara tidak langsung dibentuk oleh orang tua. Lewat sentuhan orang tua, asupan terhadap anak menjadi dasar perkembangan tubuh anak. Makanan dan minuman yang disediakan orang tua menentukan apakah anak menjadi gemuk atau tidak.

Anak yang gemuk lazim tumbuh dari keluarga yang gemuk. Selain faktor keturunan, pola makan juga mempengaruhi. Makan serba berlebih, menu kaya lemak, dan konsumsi gula terlalu banyak, menjadi sumber masalahnya. Hal ini biasa diawali ketika bayi diberikan asupan melebihi kebutuhan tubuhnya.

Gemuk sejak bayi bukan hanya menunjukkan jumlah sel-sel yang melebihi normal. Yang lebih berbahaya adalah ukuran sel-sel tubuhnya lebih besar dari ukuran sel anak dengan berat badan ideal. Sel yang berukuran besar inilah yang membentuk patron tubuh gemuk sampai dewasa. Lantas bagaimana cara mengetahui anak tersebut mengalami kelebihan berat badan.

Baca Juga : Kenapa Ya Si Kecil Doyan Makan?



Berat badan ideal
Berat anak sebelum lahir diharapkan tak lebih dari 3 kilogram. Sebab, jika beratnya lebih dari 3 kg, bayi tersebut sulit keluar dari rahim ibu. Bila berat saat lahir 3 kg, saat berusia 6 bulan idealnya bayi tersebut memiliki berat dua kali saat lahir alias 6 kg. Sedangkan jika berumur setahun, berat idealnya 3 kali berat lahir atau cukup 9 kg. Sedangkan jika usianya lebih dari setahun, berat ideal bisa dihitung secara kasar dengan rumus 8 + (2 x umur) Kg. Balita 5 tahun idealnya memiliki berat maksimal 18 kg.

[NNS1] World Health Organization (WHO) mempunyai perhitungan tertentu soal berat ideal anak usia 5-19 tahun yang juga dibedakan dari jenis kelamin anak. Misalnya, berat ideal anak laki-laki usia 12 tahun berkisar antara 17-20 kg. Sedangkan untuk anak perempuan berkisar 18-21 kg. Sebelum menilainya terlalu gemuk atau kurus, lihat tabel di bawah ini untuk mengetahui berat badan ideal anak berdasarkan usianya:

Anak yang memiliki kelebihan berat badan umumnya memiliki selera makan yang tinggi. Untuk mengatasinya, anak tersebut perlu dibatasi mengkonsumsi menu serba manis, camilan gurih, gorengan, dan berlemak tinggi, karena berkalori tinggi. Harus dipahami jika bobot kalori sepotong kecil keju (5-7 gram) saja setara dengan 3 umbi ubi jalar, sebuah pisang goreng sedikitnya mengandung 5 cc minyak goreng atau 45 Kkal. Apalagi donat dan pizza.

Membentuk pola makan sehat

Kalori tubuh setiap hari sebagian besar diperoleh dari makan pagi, siang, dan malam. Hanya sebagian saja yang seharusnya diperoleh dari camilan. Namun yang sering terjadi total kalori yang diperoleh dari camilan sering sama, atau bahkan lebih besar dari total kalori tiga kali makan.

Jika total kalori tiga kali makan saja sudah melebihi kebutuhan kalori, ditambah dengan total kalori dari camilan, bukan mustahil asupan yang dikonsumsi setiap hari nyaris dua kali kebutuhan tubuh. Kelebihan kalori yang besar untuk waktu lama itu, dalam tempo singkat akan disimpan menjadi gajih di bawah kulit. Ini pula yang menjadi lemak yang membungkus organ tubuh.

Selain menu harian yang seimbang, yakni lebih banyak karbo ketimbang lemak dan protein, batasi makanan yang serba manis dan gorengan. Untuk camilan, disarankan mengkonsumsi makanan yang rendah kalori seperti ubi jalar rebus, talas, atau sukun rebus. Lidah anak perlu dibiasakan merasakan camilan tradisional yang rendah kalori namun menyehatkan. Contoh ekstrem, donat tidak lebih menyehatkan daripada ubi rebus karena dua hal. Terigu, mentega, gula, minyak dalam donat tidak semuanya menyehatkan. Bandingkan dengan ubi rebus yang kaya serat dan memiliki manis alami. Karena itu, donat bisa membikin lekas gemuk.

Baca Juga: Bahaya Konsumsi Gula Berlebihan Bagi Anak



Menekan kebiasaan makan di luar rumah dan menambah aktiivtas fisik

Berat badan kita ibarat neraca. Naik turunnya berat badan ditentukan oleh besaran total asupan kalori dari menu harian dan camilan dan output berupa aktivitas fisik yang dilakukan. Berat badan akan senantiasa stabil bila asupan kalori sama besarnya dengan kalori yang terpakai untuk beraktivitas fisik. Kelebihan berat badan terjadi jika asupan kalori melebihi kalori yang dipakai. Karena itu, agar berat badan tetap, kurangi asupan kalori dari makanan dan terus melakukan aktivitas secara konstan. Jika porsi asupan kalori tetap, sebaiknya aktivitas fisik ditambah. Berat badan yang terus bertambah menunjukkan neraca kalori yang masuk selalu melebihi kalori yang terbakar saat beraktivitas.

Selain itu, kurangi kebiasaan makan di luar rumah dan biasakan makan di rumah dengan menu yang menyehatkan. Perlu diingat, kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Sesekali makan di restoran tidak mengapa. Tetapi utamakan makan di rumah dengan menu makanan sehat. Nenek moyang bangsa Indonesia punya warisan menu pilihan yang sehat: sepiring nasi (atau ubi atau jagung atau sagu), sepotong ikan atau daging, sekerat tempe-tahu, semangkuk sayur lodeh atau sayur asam, dan 4 porsi buah serta sayur-mayur (seporsi setara segelas 200 cc).

Semua itu tergantung peran orang tua membentuk tubuh anaknya. Apakah menjaga anak tetap memiliki berat badan ideal atau kelebihan berat badan yang menjadi momok bagi masyarakat di dunia sekarang ini.

Share artikel ini:

Artikel Terkait