Bila Si Kecil Suka Menggigit

Apakah balita Anda suka menggigit? Menggigit bagi anak-anak yang usianya 1 ½ sampai 3-4 tahun-an bisa ditafsirkan dari tiga sisi. Pertama, kalau menurut teorinya Freud, menggigit termasuk bagian dari proses perkembangan. Ia menyebutnya dengan istilah Periode Oral (Oral Stage).

Pada periode ini, anak-anak menikmati atau menemukan kesenangan dari kegiatan yang terkait dengan mulutnya, misalnya menggigit, mengunyah atau menghisap. Orangtua sangat disarankan mendampingi dan mengawasinya karena tidak jarang mereka mengunyah benda-benda yang berbahaya atau tidak bersih.

Kedua, menggigit perlu dilihat sebagai ekspresi emosi. Karena dia belum menemukan ungkapan atau bentuk ekspresi yang pas untuk menumpahkan ledakan emosinya, misalnya marah, tidak puas, frustasi, bingung, atau apa, mereka menggigit kita, temannya atau orang yang di dekatnya.

Ketiga, menggigit perlu dilihat dari cara dia dalam mempertahankan-diri (hak-haknya). Misalnya, mainan dia diambil kakaknya atau siapa. Untuk merebut haknya atau mempertahankan dirinya, caranya adalah menggigit orang yang dianggapnya mengancam atau merugikan.

Dari sini bisa kita pahami bahwa kebiasaan menggigit pada balita itu perlu kita pahami sebagai hal yang wajar lebih dulu. Memang itu masanya. Tapi kalau sudah berlebihan, berbahaya, atau berlanjut sampai usia masuk sekolah, mulai kita melihatnya sebagai kebiasaan yang perlu diluruskan, tak bisa dibiarkan. Caranya antara lain:

  1. Memberi pemahaman mengenai efek perilakunya bagi orang lain
  2. Mengajarkan cara mengungkapkan emosi yang baik atau yang tidak berbahaya, misalnya menggigit bantal atau boneka
  3. Menyuruh dia untuk meminta maaf atas perilakunya agar timbul empati
  4. Beri imbalan yang sangat mendidik ketika dia berhasil menyelesaikan masalah tanpa menggigit temannya dan berilah pengertian
  5. Gunakan metode pengandaian dengan tujuan untuk mendidik pada saat ia tenang

Metode pengandaian itu misalnya dia kita cubit untuk bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sejauh itu kita lakukan dalam suasana yang dialogis, untuk tujuan edukatif, dan pada saat dia sedang tenang, biasanya anak-anak cepat memahaminya.

Tapi, bila itu kita lakukan sebagai reaksi amarah kita menyikapi kebiasaannya, lebih-lebih bila kondisinya tidak siap untuk menerima masukan, misalnya sedang ngambek, biasanya ini kurang efektif. Bahkan bisa saja dia belajar hal yang tidak baik dari kita. Dia belajar menyelesaikan masalah dengan orang lain seperti kita menyelesaikan masalah dengan dirinya.

Semoga bermanfaat.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait