Cacingan Juga Mengenai Anak Kota

Penyakit cacing umumnya penyakit masyarakat dengan kondisi sanitasi yang masih buruk. Ada beberapa jenis cacing yang hidup di usus manusia. Telur cacing hidup di permukaan tanah yang mampu bertahan lama berada di sana. Sebagian ada di selokan, dan sungai yang tercemar tinja orang cacingan. Bagaimana bisa mengenai anak dan orang kota juga?

SUDAH pernah ada penelitian di supermarket, kalau sebagian sayur-mayur sudah tercemar telur cacing. Sayur-mayur di Jakarta dan sekitarnya berasal dari daerah Puncak, Cipanas, atau Sukabumi yang sering memakai pupuk tinja (binatang dan atau manusia). Kebiasaan membersihkan sayur-mayur yang baru dipanen, di air selokan atau air sungai itulah yang menjadi sumber penyebabnya.

Kita tahu, penyakit cacing diidap sebagian besar masyarakat (pedesaan). Hampir sebagian besar masyarakat pernah, atau masih mengidap salah satu penyakit cacing. Kalau bukan cacing gelang, dan ini jenis cacingan terbanyak, mungkin mengidap cacing cambuk, cacing kremi, atau cacing tambang. Sedikit saja yang mengidap cacing pita.

Kita pun tahu, sebagian besar penyakit cacing ditularkan lewat telur cacingnya. Cacing yang habitatnya di usus manusia, bertumbuh dan berkembang biak, lalu bertelur. Telur sebagian akan dikeluarkan, atau ikut keluar bersama keluarnya tinja. Maka di dalam tinja penderita cacingan, apa pun jenis cacingnya, akan mengandung telur cacingnya. Sehingga tinja orang cacingan merupakan sumber penular penyakit cacing.

Oleh karena kebiasaan buang air besar masyarakat di pedesaan masih belum seluruhnya higienis. Maka, penyakit cacing masih menduduki posisi atas di antara penyakit menular. Buang air besar di comberan, di permukaan tanah, di kandang hewan, di selokan, atau sungai harus dilarang. Dengan demikian lingkungan pemukiman tidak akan tercemar oleh telur cacing.

Telur cacing dapat bertahan hidup lama di alam bebas, khususnya di permukaan tanah, air sungai, dan semua tempat yang tercemar tinja pengidap cacingan. Berbulan-bulan telur cacing berserakan di mana-mana di sekitar pemukiman. Apabila tangan tercemar oleh telur cacing, dan telur cacing terbawa masuk bersama makanan, maka orang akan tertular penyakit cacingan.

Anak yang biasa bermain di tanah, atau bermain kelereng, termasuk bayi merangkak, yang tangannya memegang tanah, berisiko tercemar telur cacing. Jika telur cacing pada kuku dan jemari tangannya memasuki mulut, kemudian tertelan, maka penyakit cacing ditularkan.

Oleh karena itu kebiasaan membasuh tangan secara benar, sampai pada setiap wilayah permukaan tangan, termasuk sela jemari kuku, adalah cara paling efektif menekan angka penyakit cacing nasional. Kebanyakan anak tidak dibiasakan membasuh tangan sebelum makan, sehingga berisiko tertular penyakit cacing oleh jemari tangannya sendiri. Hal yang sama terjadi pada orang dewasa yang tidak memiliki kebiasaan cuci tangan sampai bersih dengan sabun dan air mengalir sebelum makan. Cara makan tanpa sendok bersih menambah besar risiko tertular cacingan.

Orang Indonesia, khususnya orang Sunda, gemar sekali mengonsumsi lalapan, termasuk lalap mentah. Apabila lalap mentah sudah tercemar telur cacing, dan tidak dibasuh sempurna sampai terbebas dari telur cacing, orang dapat tertular penyakit cacing. Oleh karena itu sayur dan daun apa pun yang bakal dijadikan lalap, perlu dibasuh helai demi helai, untuk memastikan sudah tidak ada telur cacing yang mungkin masih terselip di sana.

Tidak gampang menekan angka penyakit cacing nasional, oleh karena gejala cacingan sering tidak begitu mengganggu, sehingga tidak mendorong orang untuk pergi berobat. Pengidap cacing merasa badannya tidak ada yang kurang. Baru terdeteksi jika dilakukan pemeriksaan tinja di laboratorium.

Apabila orang terkena cacing tambang maka gejalanya lebih berat yaitu kekurangan darah (anemia). Akibat kekurangan darah yang bertahun-tahun, tanpa menyadari kalau cacingan, bisa berkomplikasi jantung. Jantung membengkak karena Hb (haemoglobin) sangat rendah. Cacing jenis lain, hanya membuat anak kurang gizi, kerempeng, dan kemungkinan perutnya membuncit saja.

Yang mendorong pengidap cacingan datang berobat, adalah bila cacingnya jenis cacing kremi. Cacing kremi bertelur di sekitar liang dubur pada waktu malam hari. Saat cacing bertelur di sekitar liang dubur, muncul rasa gatal hebat, sehingga tidur terganggu dan pasien pergi berobat.

Kasus kremi biasanya menular ke semua anggota keluarga. Satu terkena, semua anggota keluarga kremian. Cacing gelang yang sudah kelewat banyak populasinya, bisa keluar sendiri dari liang dubur, atau dari mulut pengidapnya.

Untuk memeriksa tinja, ongkosnya ringan, dan caranya sederhana. Bisa dikerjakan di puskesmas. Modalnya hanya mikroskop dengan kaca khusus, dan pelarut khusus, telur cacing mudah ditemukan, sehingga pengobatan bisa langsung diberikan.

Jika semakin banyak orang cacingan, dan buang air besarnya sembarangan, semakin tercemar lingkungan pemukiman, selokan, dan sungai oleh telur cacing. Maka upaya memperbaiki sanitasi lingkungan yang harus dipilih untuk mengobati serta menekan angka penyakit cacing nasional. Termasuk tidak membiarkan membersihkan sayur-mayur di selokan atau sungai yang besar kemungkinan sudah tercemar telur cacing.

Share artikel ini:

Artikel Terkait