Cegah Penyakit Kronis Selagi Muda

Hampir 400 juta orang diproyeksikan akan kehilangan nyawa dalam sepuluh tahun ke depan kalau gaya hidupnya tidak diubah (Sydney Resolution, 2009). Kunci penyebabnya ada di rumah. Rumah yang membentuk gaya hidup sehat.

DUNIA harus berubah. Orang juga harus berubah. Itu seruan A Call to Action yang diimbau oleh Sydney Resolution. Satu perubahan terpenting datang dari rumah. Besarnya peran orangtua, ibu khususnya, menentukan nasib kesehatan anak-anaknya kelak. Semua berawal dari meja makan ibu, termasuk apakah anak akan membawa bibit penyakit metabolik lainnya, seperti kencing manis, darah tinggi, jantung, atau stroke.

Budaya tidak gemuk
Awalnya budaya juga yang membawa orang kepada paradigma bahwa gemuk itu adalah lambang kemakmuran. Sejatinya itu keliru, karena gemuk akan menjadi ‘bom waktu’ berbagai jenis penyakit setelah dewasa. Bukan anak gemuk yang mewarisi bonus kesehatan setelah dewasa, melainkan anak yang tidak gemuk, tapi juga tidak kekurangan gizi.

Singapura tidak membiarkan anak-anak menjadi gemuk. Sekolah ikut campur agar anak tidak gemuk. Kenaikan berat badan mewajibkan anak untuk berlari, bergiat fisik lebih banyak sampai tercapai berat badan ideal. Bahwa tidak gemuk juga sebuah investasi agar sumber daya manusia negara tidak mati muda, dan tetap produktivitas sampai puncak prestasi.

Kalau sejak kecil gemuk, tidak mudah menjadikannya kembali kurus. Pada tubuh yang gemuk, selain jumlah sel tubuh bertambah, sel juga lebih besar dari normal. Sel besar ini yang sukar dikempiskan kembali. Maka agar dewasanya tidak menjadi gemuk, cegah sel tubuh agar tidak lebih besar dari normal.

Nutrisi salah
Kesalahan terbesar mengapa lebih banyak anak kelebihan berat badan sekarang ini tiada lain lantaran yang dimakan melebihi kebutuhan tubuhnya, sehingga kelebihan kalori ditimbun menjadi lemak. Ditambah dengan aktivitas harian yang kurang gerak seperti bermain games dan nonton televisi yang menyita waktu lebih banyak hanya dengan duduk.

Neraca tubuh kita, kalori yang masuk lewat makanan harus senantiasa seimbang dengan kalori yang dibuang lewat aktivitas fisik selain berpikir. Hanya apabila keseimbangan makan dan bergerak selalu terjaga, berat badan akan stabil. Neraca tubuh menjadi tak seimbang terlihat dari tak tercapainya berat badan ideal.

Anak harus dirancang berat badannya sejak masih dalam kandungan. Idealnya lahir sekitar  3 – 3,5 Kg saja. Waktu berumur 5 bulan mencapai dua kali lipatnya, dan menjadi tiga kali lipat saat berumur setahun. Selanjutnya secara kasar dan memudahkan dapat dipakai rumus penghitungan 8 + (2 X umur) Kg semasa masih usia kanak-kanak.

Jaga agar berat badan anak senantiasa dalam kisaran berat badan ideal itu. Bila melebihi idealnya, berarti asupan makannya perlu dikurangi. Jenis menu berlemak dan manis itulah penyumbang kalori yang lebih besar dari makanan pokok. Pisang atau kacang rebus tidak lebih tinggi kalorinya dibanding kue donat.

Bukan berarti sama sekali harus memusuhi menu berlemak, minyak goreng, daging, atau telur; tubuh tetap membutuhkannya. Kesalahan terjadi karena jenis menu itu yang mendominasi menu harian. Sejatinya jenis menu itu hanya seper-berapa saja dari total menu harian.

Membiasakan Anak mengkonsumsi menu rumah, baik makan di rumah atau bawa bekal adalah upaya mengendalikan agar makanan tak sehat dari restoran tidak disantap anak. Pepes ikan, bothok teri-tempe, urap sayur, semur tahu, orak-arik telur dengan buncis dan wortel cincang salah satu contoh masakan sehat. Susunlah dalam menu harian. 

Nasi sepiring, sepotong tahu atau tempe ditambah ikan, atau daging tanpa lemak, segelas susu, semangkuk lodeh, atau sayur asam, dan bebuahan, itulah menu seimbang seturut Ilmu Gizi. Menu sehat bisa bikin panjang umur. Nelayan Okinawa, Jepang, contohnya. Mereka orang berumur terpanjang di dunia sekarang ini karena menunya serupa menu nenek moyang kita.

Pola hidup sehat bersih dan sehat (PHBS)
PHBS telah menjadi program pemerintah untuk menjaga kesehatan. Antara lain jaga berat badan ideal, kebersihan diri & lingkungan, tidak merokok, teratur bergiat fisik (olah-raga), konsumsi ragam makan sesuai kebutuhan. Terbiasa menerapkan pola hidup sehat bersih dan sehat (PHBS) sejak usia dini adalah upaya untuk mencegah penyakit kronis dikemudian hari.***

 

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait