Episode Pertumbuhan Gigi Balita

Bagian terpenting dalam episode perjalanan hidup seseorang adalah masa balita. Di situ bukan saja masa fondasi fisik dan jiwa dibangun, melainkan juga menentukan kualitas bangunannya di kemudian hari. Termasuk episode bertumbuh gigi-geligi yang sering menimbulkan rasa tak nyaman bahkan sakit, sering juga disebut growing pain.

Setiap anak yang lahir normal, tanpa cacat dan kelemahan, proses bertumbuhnya menempuh pola yang kodrati sesuai dengan tahapan umurnya. Termasuk pembentukan gigi-geligi, serta kemampuan menggunakannya, yang semula hanya menghisap kini bisa mengunyah dan menggigit lantaran gusi makin kuat dan giginya makin bertambah.

Proses bertumbuh anak menjadi tidak normalnya apabila dukungan untuk itu kurang. Bentuk dukungan itu harus datang dari faktor gizi yang didapat anak, sikap pengasuhan orangtua, selain kondisi lingkungan yang bersesuaian.

Faktor gizi terhadap pembentukan gigi-geligi, apakah sejak dalam kandungan asupan gizi ibu cukup memadai untuk terbentuknya benih gigi anak yang normal. Cukupkah protein, kalsium, fosfor, dan fluor dalam menu harian ibu?

Bahan baku itu yang akan membuat sosok benih gigi anak dalam kandungan ibu. Adakah penyakit atau bibit kelainan genetik pada ibu sehingga mengganggu pembentukan benih gigi anak? Adakah pula kesalahan ibu dalam mengonsumsi obat tertentu selama hamil?

Jika bahan pembentuk gigi memadai, ibu tidak mengidap penyakit, atau kelainan gen tertentu, tidak pula mengonsumsi obat tertentu, maka akan terbentuk benih gigi anak yang tergolong normal.

Namun benih gigi yang terbentuk normal saja belum jaminan anak bakal memiliki gigi-geligi yang sehat sampai dewasa. Ada sejumlah faktor lain lagi yang ikut menentukan apakah gigi anak akan terpelihara kenormalannya.

Merawat gigi sejak balita
Ada waktunya bagi masing-masing jenis gigi untuk muncul atau erupsi. Umur enam bulan sudah mulai muncul gigi susu pertama pada rahang bawah, dan mencapai gigi yang lengkap penuh setelah anak berumur 10 tahun. Kesehatan dan bentuk gigi susu juga dapat sebagai penghantar jejak gigi permanen kelak.

Setiap gigi susu punya umurnya sendiri untuk tanggal. Hanya apabila gigi dirawat dan dipelihara secara benar, maka gigi akan tanggal sesuai dengan umurnya. Tidak kelewat cepat, tidak juga terlambat.

Perawatan gigi bukan sekadar membersihkannya dari lapisan sisa makanan di rongga mulut, dan membuang lapisan permukaan gigi dari segala yang melekat dengan menggosok gigi. Gigi membutuhkan makanan sehat agar sejak benih gigi terus bertambah kokoh.

Untuk itu gigi tetap masih membutuhkan protein, kalsium, fosfor, selain fluor juga. Hanya apabila menu harian anak lengkap dan seimbang, yang berarti anak perlu doyan mengonsumsi jenis menu apa saja, kecukupan zat gizi prima bagi gigi tersebut, maka kesehatan giginya terjaga.

Waktu balita, ketika anak belum mampu menggosok giginya sendiri orangtua yang perlu menolongnya. Sejak usia bayi, anak dibiasakan selalu membersihkan gigi-geliginya. Kebiasaan yang sama untuk hal kebersihan diri lainnya.

Menggosok gigi setiap kali habis minum susu, dan sebelum tidur dengan kapas basah, misalnya. Lalu mulai mengajarinya menggosok gigi sendiri secara tepat dan benar setelah anak dapat melaukannya sendiri.

Yang sering terjadi, akibat gigi tidak dirawat secara tepat dan benar, gigi susu sudah rusak sebelum umurnya. Gigi sudah keropos, bolong, dan goyang sebelum waktunya tanggal. Itu berarti, gusi sudah kehilangan gigi sebelum gigi tetap yang akan menggantikannya siap untuk muncul. Apa jeleknya jika ini terjadi?

Akibatnya, kemunculan gigi tetap tidak melalui jalan yang lurus sebagaimana kalau gigi susu tanggal pada waktunya. Maka susunan gigi-geligi tetap di rahang mulut menjadi tidak rata dan rapi.

Selain merawat gigi latihlah pula anak menggunakan giginya, gusi dan rahangnya. Misalkan dengan memberinya makanan yang bertekstur secara bertahap. Jika sudah setahun umurnya jangan lagi melumat (mem-blender) makanannya, berilah makanan lunak yang dapat digigit dan di kunyah. Sup sayur daging cincang dengan wortel dan labu sebagai contoh makanan yang dapat dikunyah dan digigit.

Selain memberi nutrisi, memberi anak apel yang diiris sebesar geggaman tangannya, juga cara melatih anak mengunyah agar rahang, gusi dan giginya makin kuat dan anakpun terampil makan

Share artikel ini:

Artikel Terkait