Fakta Kesehatan di Balik Toilet Duduk

51be9a3423c9fade85fcd819800d11b8c6c5ffca.jpeg

Sepanjang mata memandang hampir sebagian hotel, mal maupun fasilitas umum modern menggunakan toilet duduk. Tak sedikit juga rumah-rumah masa kini yang sudah menggunakan toilet duduk. Dahulu toilet duduk memang diidentikkan dengan kehidupan orang kaya.  Namun seiring dengan pemahaman masyarakat dan juga pengaruh gaya hidup, penggunaan toilet duduk kini semakin banyak ditemukan.

Toilet duduk banyak disetel dalam kondisi kering, sehingga ruangan lebih bersih dan nyaman saat proses buang air. Bagi ibu hamil dan lansia, toilet duduk sangat membantu karena tidak perlu repot-repot jongkok yang bisa jadi membuat mereka merasa kurang nyaman lantaran tarikan otot pada area lutut.

Terlepas dari simbol modernnya, ternyata toilet duduk tak lebih baik dari toilet jongkok. Kenapa bisa begitu? Berikut ini fakta lengkapnya.

Menularkan Beragam Bakteri

Saat sedang berada di toilet duduk, mau tak mau bagian kulit paha dan pantat menyentuh bagian toilet. Belum lagi toilet duduk tersebut adalah toilet umum, sudah barang tentu akan lebih mudah menularkan bakteri pada tubuh. Ahli Mikrobiologi Amerika sekaligus presiden direktur American Society for Microbiology (ASM), Abigail Salyers, PhD, mengatakan toilet duduk berpotensi lebih besar menularkan bakteri Streptococcus dan Staphylococcus ke tubuh.

Jarak toilet dan lubang anus lebih dekat pada posisi duduk, sehingga percikan air toilet lebih mudah untuk terbawa masuk ke anus. Bila masuk ke dalam tubuh, Abigail menerangkan bakteri tersebut dapat menyebabkan diare dan beragam gangguan pencernaan. Sementara pada toilet jongkok, posisi anus lebih tinggi dan tidak sampai membuat percikan masuk air toilet yang banyak mengandung bakteri masuk ke anus.

Menyebabkan Buang Air Besar Tidak Maksimal

Posisi buang air di toilet bukan sebatas gaya-gayaan. Lebih lanjut, posisi saat buang air ternyata bisa berpengaruh pada kesehatan. Saat membuang air besar dalam kondisi duduk, kotoran tidak tidak bisa terbuang secara maksimal. Menurut Judy Daly, PhD, profesor patologi klinik dari University of Utah, pada posisi duduk otot yang ada disekitar anus tidak bisa mendorong kotoran yang ada di usus keluar. Sebaliknya, posisi duduk justru menyebabkan otot kurang bisa melakukan kontraksi dan membuat proses ekskresi tidak berjalan optimal.

Sementara pada posisi jongkok, otot perut lebih mudah melakukan kontraksi. Lewat kontraksi yang kuat inilah, tenaga untuk mengejan lebih besar sehingga membuat proses buang air besar cenderung lebih cepat daripada dengan posisi duduk. Lebih lanjut, Dr. Philip Tierno, direktur mikrobiologi klinis dan imunologi New York University Medical Center, mengatakan proses buang air besar yang cepat bisa memperkecil risiko ambien dan infeksi saluran kecing.

Sebaliknya duduk yang terlalu lama saat buang air besar, bisa menekan pembuluh darah hingga menyebabkan aliran darah dari bawah ke atas terhambat. Inilah alasannya kenapa proses buang air besar dengan menggunakan toliet duduk juga berlangsung lebih lama. Pada akhirnya, Anda sendirilah yang akan memutuskan untuk menggunakan toilet duduk atau tidak?