Hati-hati, Anak Selalu Melihat Anda!

Anak harus bersikap santun, hormat, dan pandai membahagiakan orangtua. Tapi, bagaimana cara orangtua mendapatkan itu tanpa harus meminta pada anak?

Tanpa diminta orangtua akan memberikan yang terbaik bagi anaknya tanpa berpikir balasan yang diperoleh. Sangat tak mudah sesungguhnya bagi orangtua untuk meminta balasan dari anak. Apalagi bila harus mengeluarkannya lewat kata-kata. Melihat anak bahagia saja sudah menjadi surga bagi orangtua. Namun, tak satu pun orangtua yang tak merasa senang dan bahagia bila anak bisa bahkan pandai "membalas" pada orangtuanya. Entah itu sikap dan perilaku yang santun dan hormat, rajin menjenguk orangtua, memberi hadiah atau persembahan lain atau memenuhi semua kebutuhan hidup orangtuanya. Mungkinkah semua ini dapat diperoleh orangtua tanpa memintanya pada anak?

Sebagai pasangan muda yang sedang menyusun rencana masa depan, Doni dan Yoan, sibuk bekerja merintis karir dan usaha. Pulang ke rumah mencapai tengah malam tak jarang terjadi. Beban pekerjaan ditambah kemacetan lalu lintas Jakarta menjadi alasan sering. Namun, selelah apapun bila mendengar kabar orangtua sedang tak enak badan keduanya tak menunda waktu bergegas menjumpai orangtuanya untuk memastikan keadaannya. "Lewat telepon sih sebenarnya bisa tanya tentang keadaan Papa atau Mama, tapi saya tetap merasa perlu untuk menengok," tutur keduanya. Yoan mengungkapkan, hal yang dilakukannya biasa saja seperti dia biasa melihat orangtuanya memperlakukan kakek neneknya.

Orangtua pasangan ini mungkin tak pernah menyangka kalau anak-anak mereka mengikuti apa yang telah mereka lakukan. Transfer nilai dan perilaku terjadi begitu saja, namun sangat membekas di hati dan benak anak-anak mereka. Keikhlasan dan perilaku orangtua yang ditangkap tampak bahagia membuat anak tak menolak untuk melakukan hal yang sama pula.

Perilaku Orangtua Membentuk Perilaku Anak
Mengharapkan suatu atau bahkan banyak hal dari anak adalah wajar. Menurut psikolog keluarga Rosdiana Tarigan Mpsi, harapan itu mungkin sekali terealisasi bila orangtua punya hubungan baik dengan anaknya. "Jadi anak dan orangtua mempunyai hubungan yang timbal balik. Dengan hubungan seperti itu anak tetap berat pada orangtuanya, walaupun sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri," katanya.

Rosdiana memaparkan, sejak anak masih kecil orangtua harus membangun hubungan emosi yang positif dengan mereka. Jika anak lebih sering mendapatkan sikap orangtua yang tak bersahabat padanya, anak cenderung tak ingin dekat dengan orangtuanya dan mencari sosok lain. Kemudian hubungan anak dan orangtua pun bisa berkembang hanya pada masalah pemenuhan kebutuhan. "Jika demikian, akan sulit bagi orangtua untuk mengharapkan anaknya akan berperilaku tertentu, karena hubungannya sudah tidak dekat," jelasnya.

Elly Risma Musa Mpsi, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, melihat keinginan orangtua untuk dibahagiakan anaknya sebagai hal yang memang benar dan wajar. Namun, katanya, apa yang diharapkan orangtua sering tak dibarengi perlakuan atau pola asuh yang benar pada anaknya. "Harapannya benar, perlakuannya yang salah," ujar Elly. Dalam pengamatannya, orangtua sekarang sering bersikap terlalu memanjakan anak. "Sehingga, bagaimana mungkin anak dapat bertanggung jawab pada orangtuanya kelak bila bertanggung jawab pada dirinya sendiri saja tidak bisa" papar Elly.

Perlakuan tersebut juga akan membuat anak bersikap demanding terus terhadap orangtua. Sikap ini dapat terjadi karena orangtua sering menciptakan situasi yang membuat anak menuntut pada orangtuanya.

Sebaliknya, jika anak dididik dengan tepat, menurut Elly, maka orangtua dapat memperoleh perilaku atau sikap yang sesuai harapannya. Tapi syaratnya, "ibunya harus tega mendidik anaknya. Artinya, kalau anak sudah bisa makan atau mandi sendiri, biarkan anak melakukannya sendiri. Tidak perlu segala dibantu dan disediakan," ujarnya.

Teladan lebih dari berjuta kata
Perilaku anak terhadap orangtua kelak juga sangat dipengaruhi bagaimana dia melihat pola perilaku orangtua pada kakek neneknya. "Karena bagaimana pun anak banyak belajar dari meniru. Kalau seseorang memperlakukan orangtuanya dengan tidak baik, maka hubungan anaknya terhadap dia pun mungkin akan tidak baik," kata Rosdiana. Jika anak terbiasa melihat orangtuanya jarang menengok kakek-neneknya, ada kemungkinan anak juga akan jarang menengok orangtuanya. Dalam hal ini anak melihat contoh dari orangtuanya. "Perilaku tersebut bisa terjadi, karena anak tumbuh dalam lingkungan yang membentuk seperti itu, bahwa mengunjungi orangtua sendiri, bukan menjadi hal yang terlalu penting untuk dilakukan," jelas Rosdiana.

Elly menekankan, orangtua sering tidak sadar kalau sikap mereka terhadap orangtua atau mertuanya bisa membawa pengaruh pada anaknya kelak. Psikolog pendidikan anak Ani Khairani Mpsi menyebutkan, anak memiliki kapasitas ingatan yang tak terhingga, ia merupakan kamera terdetil, alat perekam canggih yang siap menerima apapun dengan penglihatan, pendengaran dan indera perasanya, dan semua hasil rekaman itu akan tersimpan rapi dan menetap.

Sesuai dengan hasil penelitian Henker pada 1983 bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan antara orangtua-anak (termasuk emosi, reaksi dan sikap orangtua) akan membekas dan tertanam secara tak sadar dalam diri seseorang. Itu sebabnya, tambahnya, orangtua jangan sampai memperlihatkan situasi negatif yang mungkin akan direkam oleh anak.

Elly mengatakan, sulit rasanya jika orangtua mengharapkan sesuatu dari anak, tetapi dia sendiri tidak melakukan itu. "Apalagi jika anak tidak memiliki pendidikan agama yang baik. Karena semua agama mengajarkan agar anak berbakti pada orangtuanya."

Demonstrasikan
Hal-hal positif, menurut Rosdiana, memang perlu didemonstrasikan pada anak sebagai contoh belajar berperilaku. Misalnya, orangtua jarang sekali bisa bersikap ekspresif untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Tak banyak orangtua yang dengan mudah memberikan pelukan, ciuman ataupun kata-kata seperti i love you sebagai ekspresi cinta. Sementara untuk rasa marah atau jengkel pada anak orangtua bisa lebih ekspresif. Tak jarang malah dengan kata dan sikap yang berlebihan.

"Padahal anak-anak juga perlu didemonstrasikan langsung oleh orangtuanya mengenai hal positif yang seharusnya dapat dilakukan anak, bukan yang negatif saja," jelasnya. Salah satunya dengan ekspresif menunjukkan kasih sayang terhadap orangtua dan mertua, sehingga anak pun dapat melihat sebagai suatu teladan yang dapat dilakukannya kepada orangtuanya sendiri.

Menjadi teladan (role model) bagi anak, menurut Elly, merupakan metode penting mendidik anak. "Teladan itu lebih dari seribu kata. Orangtua bisa saja ngomong, tetapi kalau tidak mengerjakan, anak tidak akan mendengarkan apa yang Anda katakan, tetapi justru lebih mendengarkan apa yang Anda lakukan," tuturnya. Jadi, agar hal-hal yang diharapkan orangtua dari anaknya bisa terwujud, Elly menyimpulkan tiga hal penting, yaitu keteladanan, pengasuhan yang benar dan landasan agama.

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Inspired Kids)

Share artikel ini:

Artikel Terkait