Jaga Jantung Sejak Dini

Kesehatan jatung dipengaruhi juga oleh kualitas pemeliharaannya sejak dini. Bila pola hidup sejak kanak-kanak sudah tidak sehat dapat memberikan andil terjadinya penyakit jantung saat dewasa.

Begitu vitalnya fungsi jantung dalam tubuh manusia, namun kita kerap lalai menjaga kesehatannya. Demikian pula untuk menjaga kesehatan jantung anak, kesadaran orangtua umumnya masih sangat minim. Dr. Najib Avani SpAK. Mmed.Paed, ahli jantung anak dari RSCM/FKUI, memaparkan bahwa jumlah anak yang menderita penyakit jantung bawaan memang hanya 1 persen. Akan tetapi penyakit jantung lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan karena pola makan dan gaya hidup tidak sehat.

Penyakit jantung koroner (PJK) memang umumnya munculnya pada orang dewasa, bukan anak-anak. Dr. Ganesja M. Harimurti, spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Harapan kita menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, terjadilah proses arteriosclerosis (penyempitan pembuluh darah). Hal itu bisa dipacu oleh beberapa faktor risiko, antara lain kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, kegemukan, kencing manis, merokok, dan faktor bawaan. PJK dapat dicegah dengan menurunkan faktor resiko ini sejak dini.

Atur Pola Makan Anak
Faktor pertama yang perlu diperhatikan. Orangtua demi menjaga kesehatan jantung anak adalah dengan mengatur pola makan. “Jenis makanan anak sekarang semakin kurang sehat, contohnya hamburger, French Fries, Ayam Goreng dll” kata dr Najid. “Pola makan ini cenderung mengadung tinggi lemak jenuh dan trans”. Dr Najib mengingatkan, orangtua harus memperhatikan keseimbangan komposisi nutrisi anak. Serat alami dari sayur mayur dan buah-buahan, misalnya, saat ini sangat kurang dikonsumsi anak-anak. Padahal serat sangat bermanfaat untuk menurunkan total kolesterol.

“Kolesterol yang tinggi dalam darah dapat memacu timbulnya plak pada arteri koroner” jelas dr Najib. Plak tersebut semakin lama semakin banyak dan menyumbat pembuluh koroner jika pola makan dan gaya hidup tidak diperbaiki. Hal ini dapat mengganggu sirkulasi darah dan oksigen dan menimbulkan serangan jantung ” tegasnya. Mengatur pola makan dan kompisisi gizi seimbang sejak dini merupakan langkah preventif yang efektif.

Dr Ganesja yang merupakan ketua departemen kardiologi dan kedokteran vaskuler FKUI juga menyoroti mengenai kurang sehatnya camilan atau jajanan anak di Indonesia. “di Malaysia dan Negara-negara lain, jumlah garam pada snack dibatasi, mereka memeperhatikan betul komposisi bahan untuk camilan yang biasa dikonsumsi anak” paparnya.Mengingat hal ini belum diatur di Indonesia, orangtuanyalah yang mesti cermat memilih jenis camilan untuk anak. “Biasanya anak memang paling suka yang kadar garamnya tinggi, karena rasanya gurih dan enak. Jadi harus hati-hati” tegas Dr Ganesja.

Selain itu yang perlu diwaspadai juga tingginya kadar lemak yang tekandung dalam camilan anak, misalnya pada cokelat. Menurut Dr Ganesja, salah satu kesulitan bagi orangtua untuk menjaga jenis jajanan anak, juga dipengaruhi oleh gencarnya promosi yang dilihatkan dan didengar oleh anak-anak.” Saat diajak ke supermarket, misalnya anak akan memilih dan mengambil sendiri snack yang dilihatnya dari iklan di televisi atau di billboard” paparnya.

Lagi-lagi hal ini menjadi PR untuk para orangtua. Bagaimana Anda mengatur keseimbagan gizi dalam makanan dan camilan anak, sekaligus memberikan pendidikan Nutrisi pada anak.

Perbanyak Olahraga dan Gerak Aktif
Faktor selanjutnya yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung anak adalah dengan memperbanyak olahraga dengan gerak aktif anak. Dalam hal ini dr Najib juga memperhatikan adanya pergeseran pola aktifitas seiring perkembangan zaman, ”Saat ini tentu sebagian besar anak-anak pergi ke sekolah dengan diantar mobil atau motor. Kalau dulu masih banyak yang berjalan kaki atau naik sepeda.”

Permainana anak zaman dulu juga relatf lebih banyak gerak, banyak beladiri, melompat dan berlari. ”Anak sekarang lebih senang bermain play station atau games di komputer”, kata dr Najib. Televisi dan komputer tentunya bukan musuh anak, melalui media-media tersebut, anak bisa belajar banyak hal dan terbuka wawasannya. Akan tetapi seyogyanya kegiatan Anak tidak hanya di dominasi oleh aktivitas pasif yang minim gerak. Ajaklah anak untuk bermain dan bergerak aktif, terutama di alam terbuka.

Dr Ganesja turut menyayangkan minimnya sarana anak untuk bermain aktif sekarang ini.”Dimana lagi anak-anak bisa bermain? Tidak semua rumah memiliki perkarangan yang luas, kalau di depan rumah langsung jalan raya tentu sangat berbahaya bagi anak. Belum lagi taman-taman kota sudah diubah menjadi gedung-gedung bertingkat” ujarnya.

Orangtua juga tidak bisa semata-mata mengandalkan jam pelajaran olahraga di sekolah sebagai kegiatan aktif anak. ”Pelajaran olaharga itu biasanya hanya sekali seminggu, itupun hanya beberapa jam, tidak akan cukup memenuhi kebutuhan gerak anak” kata dr Najib. Dr Ganesja mengharapkan juga adanya perhatian dari pemerintah maupun sekolah-sekolah terhadap hal ini. ”Sebaiknya pemerintah memiliki standar lapangan olahraga bagi sekolah yang akan dibangun. Jadi bukan hanya ruang kelas yang diperbanyak, tetapi tempat olahraga dan bermaian juga diperluas” sarannya.

Cegah Anak Obesitas
Selain memicu kerja jantung, bergerak aktif juga dapat berfungsi mencegah anak obesitas. Anak yang seharian menghabiskan waktu di depan televisi atau komputer, ditambah lagi dengan suplai banyak makanan dan snack, sangat rentan menjadi obesitas. Ironisnya, kalau sudah gemuk anak jadi semakin malas bergerak dan akibatnya terus bertambah gemuk” jelas dr Najib. ”Akhrinya menjadi siklus yang seperti lingkaran setan, semain lama semakin parah” serangnya.

Dr Najib mengibaratkan kasus obesitas sama halnya dengan memelihara harimau, saat masih kecil memang lucu dan menggemaskan, namun ketika sudah dewasa bisa menerkam. Begitu pula pada tubuh yang terlalu gemuk bisa berimplikasi pada berbagai jenis penyakit, sebut saja tekanan darah tinggi serta diabetes. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kedua jenis penyakit ini juga merupakan faktor resiko gangguan kesehatan jantung. ”Darah tinggi lama-kelamaan bisa mengakibatkan gagal jantung’ jelas dr Najib.

Kegemukan atau obesitas memang dapat juga terjadi karena faktor turunan. Tetapi lebih harus diwaspadai dan dijaga lagi jika orangtua atau keluarga besar memiliki berat badan gemuk, menurut dr Najib, bagi anak yang sudah kegemukan atau obesitas maka langkah yang perlu dilakukan adalah mengatur kembali asupan makanan anak dan perbanyak kegiatan aktif.

“Anak berada dalam masa pertumbuhan, sehingga memang tidak disarankan untuk menghilangkan salah satu jenis nutrisi, misalnya puasa karbohidrat atau tidak makan lemak sama sekali” kata dr Najib. Semua jenis asupan gizi penting bagi anak, yang perlu diatur adalah kompisisi dan porsi masing-masing.

MENCEGAH LEBIH BAIK DARI MENGOBATI
Pencegahan penyakit jantung sejak dini sangatlah penting untuk disadari dan dipahami betul oleh orangtua, tapi dalam berapa kasus, meski jumlahnya tidak signifikan, ada anak-anak yang mengalami penyakit jatung bawaan atau genetik. Dalam kasus seperti ini, menurut dr Najib, akan dilakukan berbagai langkah penagangan dan pengobatan sesuai kondisi anak. “Obat tidak bisa menyembuhkan penyakit jantung 100% yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi dampak buruknya atau mencegah komplikasi yang parah” katanya. Oleh sebab itu, sebisa mungkin lakukanlah tindakan preventif, karena mencegah jelas lebih baik daripada mengobati.

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait