Mencegah Anak Kekurangan Mikronutrien

Anak akan menjadi sehat bila kecukupan seluruh zat gizinya terpenuhi. Bukan hanya sesuai porsi terhadap tingkatan usianya, melainkan juga lengkap semua yang dibutukan tubuhn dari waktu ke waktu. Selain karbohidrat, lemak, dan protein, ada puluhan jenis zat gizi atau nutrien lainnya yang besar perannya untuk ”mesin” tubuh. Nutrien esensial adalah zat gizi yang tak dapat dibuat oleh tubuh sendiri. Sebagian nutrien esensial hanya dibutuhkan sedikit saja namun tanpa kehadirannya,”mesin” tubuh tidak lancar berputar. Termasuk di dalamnya peranan vitamin dan mineral.

KECUKUPAN nutrisi bayi baru lahir tergantung dari konsumsi ASI. Ibarat perut bumi, ASI memberikan seluruh kebutuhan tubuh bayi bukan saja untuk hidup, melainkan untuk bertumbuh dan berkembang. Tumbuh jasmaninya, berkembang mentalnya termasuk keterampilan dan kepandaiannya. Maka ASI harus menjadi pilihan utama.

Oleh karena tumbuh-kembang bayi bergantung pada ASI, maka ASI sudah harus berkualitas sejak sebelum mulai menyusui. Untuk memproduksi ASI yang berkualitas itulah, asupan nutrisi ibu selama hamil perlu dipersiapkan. Kendati bukan untuk menambah dua kali lipat lebih banyak, agar ASI-nya berkualitas, ibu hamil membutuhkan porsi makanan tambahan.

Adapun yang perlu ditambahkan itu, tambahan energi harian sebesar 550 kalori atau sepertujuh dari kebutuhan total harian. Tambahan protein sekitar 20 G/hari. Untuk masing-masing vitamin dan mineral perlu dosis tambahannya juga. Umumnya vitamin dan mineral ini dapat diperolah dari lauk-pauk, sayuran dan bebuahan.

Bagi yang memilih membuat menu sendiri, cukup dengan jadwal makan tiga kali sehari, dengan menambah porsi nasi dan lauk-pauknya, serta menambahkan sendiri ekstra multivitamin-mineral yang biasanya dianjurkan oleh dokter, bidan. Dengan menu sedemikian nantinya ibu bisa memproduksi 800-1.000 ml ASI dalam sehari.

Sesaat setelah bayi dilahirkan, tempelkan bibir bayi ke puting payudara ibu, bahkan ada yang melalukannya sebelum talipusatnya dipotong. Ini adalah upaya awal mengenalkan bayi dengan ASI. Isapan bibir bayi pada puting ibu, selain memberi gizi terbaik untuk bayi, sekaligus untuk mempercepat pemulihan rahim ibu kebentuk semula sebelum hamil.

Dalam dua hari pertama, produksi ASI belum banyak, sehingga cukup menyusui beberapa menit saja sekali menyusui. Baru pada hari-hari berikutnya bayi diberi ASI selama 15-20 menit setiap kalinya. Normalnya bayi memilki naluri sendiri kapan lapar dan ”minta” ASI dan kapan harus berhenti setelah kenyang, oleh sebab itu, di awal-awal bulan kehidupannya, berikan ASI kapan bayi mau atau minta (on demand). Hanya asupan ASI sampai bayi berumur 6 bulan (”ASI Eksklusif”) tanpa minuman atau makanan tambahan apa pun.

Pada umur 6 bulan perkenalkan bubur secara bertahap baik porsi, variasi, dan teksturnya, juga jus buah dan biskuit, dan teruskan memberi ASI sampai anak usia 2 tahun atau lebih. Selain dari ASI kecukupan mikronutrien atau vitamin dan mineral juga didapat dari makanan pendampingnya. Jus buah, lauk-pauk, sayuran, yang ada dalam buburnya. Boleh membuat bubur sendiri, namun bubur industri buatan pabrik lebih terukur porsi dan gizinya termasuk vitamin dan mineral. Relatif hemat, karena dapat disajikan sebanyak porsi yang diminta bayi (tidak tersisa/terbuang).

Setelah berumur setahun, anak mulai diberikan menu orang dewasa, yang biasa dikonsumsi keluarga. Masa penyapihan anak bergantung pada kelengkapan menu meja makan ibu. Semakin lengkap ragam makanan dan cukup porsinya, semakin tercukupi seluruh kebutuhan nutrisinya juga mikronutrien-nya. Tanda anak keckupan makan, selain sesuai kenaikan berat dan tinggi badannya sesuai umurnya, tak ada gejala penyakit kekurangan gizi yang muncul, seperti rabun senja, pucat anemia, kelainan tulang, atau penyakit gondok.

Untuk memonitor kecukupan nutrisi anak, dilakukan penimbangan berat badan berkala yang terungkap dalam KMS (Kartu Menuju Sehat). Secara kasar anak dinilai kecukupan nutrisi, apabila kenaikan berat badannya memadai sesuai dengan pertambahan umurnya. Untuk mudahnya dapat dipakai rumus sebagai berikut: 8 + (2 X umur) Kg untuk berat badan idealnya, dan 80 + (5 X umur) Cm untuk panjang badan.

Namun sekarang dipakai penghitungan BMI (Body Mass Index) = berat badan (Kg) dibagi pangkat dua dari tinggi badan (M). Idealnya berindeks antara 18-25, dengan catatan anak tidak memperlihatkan gejala dan tanda kekurangan gizi seperti sudah disebut di atas.

Mikronutrien selain terkandung dalam lauk-pauk, banyak berasal dari sayur mayur dan bebuahan segar. Cara mengolah ala restoran cenderung menghilangkan sebagian mikronutrien yang terkandung dalam bahan baku makanan, sehingga menu harian semakin miskin kandungan nutriennya.

Maka memilih menu olahan di dapur rumah sendiri, dinilai lebih menyehatkan. Selain bahan baku makananan barang pilihan yang lebih segar (dari pasar tradisional), bahan yang baru dipanen, dan bukan sudah sekian lama disimpan, diawetkan, cara mengolahnya pun tidak terlalu panas (overcooking) seperti kalau di rumah makan, itu yang menambah sehat menu harian keluarga. Dengan cara demikian bahaya kekurangan mikronutrien anak bisa dicegah pula.

Share artikel ini:

Artikel Terkait