Perawatan Telinga Bagi Si Buah Hati

Telinga adalah satu dari pancaindera vital yang juga memerlukan perawatan. Tak cukup hanya melindungi telinga bagian luar dan bagian dalam, agar terlindung dari bahaya dan ancaman yang berpotensi merusaknya, melainkan pula terpelihara kebersihannya. Bagaimana cara yang tepat dan benar merawatnya?.

Di liang telinga setiap orang memproduksi kotoran telinga, yang menyerupai lemak atau lilin yang sebetulnya bukan kotoran. Tujuan utamanya menjadi pelindung agar liang telinga tidak dimasuki serangga dan benda asing. Oleh karena itu serangga tak menyukai lilin telinga.

Setiap anak memiliki kotoran telinga yang tidak sama jenis maupun laju produksinya. Ada yang kering, selain ada yang basah. Ada yang banyak produksinya, yang lain sedikit saja. Apa pun kondisi kotoran telinganya, sering menjadi perdebatan medis, apakah perlu rutin dibersihkan atau tidak?

Membersihkan Telinga
Berbeda dengan orang dahulu, sekarang liang telinga dibersihkan dengan bantuan lidi kapas (cotton bud). Cara begini tidak sepenuhnya salah, namun bisa  berbahaya jika tidak hati-hati atau terlalu ke dalam masuk kanal telinga. Membersihkan telinga anak dengan cotton bud, atau pengorek kuping jenis lainnya cukup sampai di permukaan yang tampak mata telanjang saja. Perlu di jaga pula agar kapas tidak tertinggal di kanal telinga. Pakailah korek kuping bermutu.

Yang menjadi pertanyaan, apakah kotoran telinga harus rutin dibersihkan, itulah yang masih kontroversi. Sebetulnya liang telinga bersifat membersihkan sendiri (self cleansing). Dari gerakan rahang bisa mendorong kotoran telinga yang menumpuk menuju ke permukaan kanal telinga, bahkan bisa keluar dan jatuh sendiri. Hal ini memunculkan anggapan tak perlu rutin membersihkan liang telinga. Namun, pihak lain menilai membersihkan itu perlu karena kotoran telinga bisa menghambat aliran masuknya gelombang suara.

Lepas dari pro kontra itu, membersihkan liang telinga tidak selalu untuk meniadakan kotoran telinganya, melainkan terlebih agar liang telinga kering dari kondisi basah oleh air mandi, atau sehabis berenang. Basahnya liang telinga bisa menjadi hambatan aliran suara juga.

Bagaimana dengan kotoran telinganya? Cotton bud selain mengeringkan saluran liang telinga yang basah, juga menyeka dinding saluran telinga sehingga kotoran telinga yang melekat di situ sekaligus terhapus juga.

Namun satu kelemahan pemakaian cotton bud, kemungkinan kotoran telinga malah terdorong masuk lebih dalam ke ujung saluran telinga saat cotton bud memasuki liang telinga. Kotoran telinga yang terdesak oleh dorongan cotton bud itulah yang lama-kelamaan akan menggumpal kemudian menyumpal liang telinga oleh kotoran sendiri (cerumen prop). Keluhan mendadak budek, sering terjadi akibat kondisi ini.

Maka sebaiknya memilih membersihkan liang telinga menggunakan korek kuping model zaman dulu yang menyerupai pacul dari bahan metal atau tulang. Bentuknya mirip lidi dan dibagian ujung ada pengumpilnya. Kotoran telinga dikeruk dan tersangkut di bagian cangkul alatnya, terbawa keluar, dan tidak akan terdorong ke dalam seperti kalau memakai cotton bud.

Kelemahan korek kuping orang dulu, bisa mencederai dinding telinga kalau terlampau keras atau kasar menggunakannya. Cedera dinding liang telinga berakibat infeksi yang tidak ringan (otitis externa). Nyeri telinga hebat, demam, dan anak jadi rewel memegang telinganya terus. Hal yang sama dapat terjadi pada orang dewasa. Harus dihindarkan kebiasaan mengorek liang telinga dengan jari, bulu ayan, tusuk gigi, peniti, atau apa saja. Korek kuping sebaiknya bukan dari metal, lebih baik bahan tulang atau kayu.

Bagi yang produksi kotoran telinganya cukup banyak, mungkin memang perlu rutin dibersihkan dengan benar kalau sudah mengganggu. Normalnya, kotoran telinga yang sudah mengering akan keluar sendirinya. Tidak demikian kalau kotoran telinga basah.

Infeksi dan jamur
Bila pembersih liang telinga, apa pun modelnya kurang bersih hama, bisa saja menimbulkan infeksi, apalagi kalau kebiasaan memakai korek kuping apa saja dan dari mana saja. Memakai batang rumput, atau bulu ayam, misalnya, meski dari alam bisa saja sudah tercemar bibit penyakit, termasuk jamur. Masuknya cemaran ini bisa menginfeksi dinding liang telinga.

Infeksi dan infestasi jamur sama bisa mengganggu pendengaran sebagaimana halnya bila liang telinga tersumbat oleh kotoran telinga sendiri. Bedanya, pada infeksi atau jamur kulit, ada keluhan tambahan, nyeri telinga selain kemungkinan demam, dan rasa gatal yang luar biasa.

Rasa gatal liang telinga sendiri sebetulnya bentuk mekanisme pertahanan telinga juga. Mungkin saat produksi kotoran telinga sudah berlebih, sehingga perlu dibersihkan. Atau ada sesuatu yang mengganggu, mengancam, atau membahayakan liang telinga. Pengabaian keluhan gatal tidak boleh terjadi. Itu menjadi petunjuk, perawatan liang telinga perlu ditingkatkan.

Barang tentu, selain liang telinga, daun telinga dan area di sekitarnya bukan tak perlu dirawat. Mandi yang tidak sempurna sering luput membersihkan area telinga luar. Maka jamur sering tumbuh di situ. Paling sering di belakang daun telinga.

Maka sangat penting menyabuni sampai ke semua bagian sela-sela daun telinga serta lipatannya, jangan lupa mengeringkannya. Sisa air mandi yang dibiarkan terselip di sela dan lipatan kulit daun telinga itulah cikal bakal tumbuhnya jamur kulit. Termasuk di lubang tindik telinga jika anting yang dipakai menjadi sumber infeksi, atau sarang kapang jamur kulit.

Amannya, periksakan telinga kita dan anak secara berkala ke dokter. Setidaknya setiap 6 bulan. Alat-alat bantu medis ini, ditambah keterampilan dokter, dapat membantu membersihkan telinga sekaligus mencegah agar kotoran tak terdesak kedalam. Mobil saja kita cek rutin ke bengkel, mengapa telinga tidak. Terlebih pandangan mata kita tak dapat menjangkau lubang telinga sendiri bahkan dengan bantuan cermin pun.***

 

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan


 

Share artikel ini:

Artikel Terkait