Perlukah Bayiku Mengkonsumsi Vitamin Tambahan?

Orang sekarang cenderung berisiko kekurangan vitamin dan mineral. Begitu juga bayi dan anak. Pola menu, gaya makan, dan pilihan bahan makanan yang salah, menambah besar risiko kekurang zat gizi mikro. Rasa takut kekurangan vitamin, menyebabkan orang merasa harus untuk minum vitamin setiap hari. Demikian pula halnya pada bayi dan anak, perlukah diberikan vitamin tambahan?

Alam menyediakan semuanya
Dunia medis mengajak tidak perlu minum vitamin. Semua zat gizi sudah tercukupi dari menu harian. Bumi kita sudah menyediakan segala zat gizi yang tubuh butuhkan, tanpa ada satu pun yang mungkin kekurangan. Apalagi bumi Indonesia nan subur. Segala jenis sayur-mayur dan bebuahan lengkap tumbuh di sini.

Berbeda dengan orang di negara maju, yang jauh dari perkebunan dan sawah, kita beruntung bisa memetik hasil alam kapan saja. Bahkan semasih di tangkai pohon. Kita bisa mudah memperoleh sayur dan bebuahan yang masih amat segar. Kalau saja itu kita manfaatkan, mestinya tidak harus sampai kekurangan satu pun zat gizi.

Tubuh membutuhkan 40 jenis zat gizi
Selain gizi utama, tubuh membutuhkan sekitar 40 jenis zat gizi setiap hari. Tiada hari boleh kekurangan satu pun zat gizi. Terlebih yang bersifat esensial. Ada asam amino (gugus protein) esensial, selain ada juga asam lemak esensial, yang mengisi separuh jumlah zat gizi yang harus dipenuhi setiap hari.

Selama pola makan, pilihan menu, dan tidak salah menentukan bahan mentahnya, tubuh akan selalu terpenuhi kecukupan zat gizinya. Pola dan gaya makan nenek moyang kita dulu juga tidak pernah mengenal minum ekstra vitamin.

Tidak selalu bergejala
Tidak setiap kekurangan zat gizi tentu muncul gejala, tanda, atau keluhannya. Kekurangan yang masih sedikit, mungkin tidak disadari, kecuali bila dilakukan pemeriksaan darah. Namun kekurangan yang sedikit saja pun sudah bisa mengganggu kerja mesin tubuh.

Mesin tubuh yang pincang kerjanya, menurunkan kinerja dan penampilan seseorang. Bagi bayi dan anak, tentu berisiko menghambat proses pertumbuhan dan perkembangannya. Karena berbeda dengan peran gizi pada orang dewasa, pada bayi dan anak lebih untuk membangun ketimbang untuk pemeliharaan tubuh. Apalagi kalau kualitas menunya tidak lengkap, seadanya, dan kurang beragam dari hari ke sehari.

Susah makan dan monodiet
Anak sekarang lebih banyak yang susah makan. Kemungkinan lantaran jenis dietnya yang cenderung tinggi kalori. Lebih banyak mengonsumsi makanan manis dan berlemak, selain jajanan. Sinyal rasa lapar dan rasa kenyang anak menjadi kacau.

Susah makan juga berisiko kekurangan ragam zat gizi yang masuk, sehingga bisa kekurangan satu atau lebih zat gizi. Belum kalau banyak tidak sukanya. Kesalahan memperkenalkan makanan baru pada masa penyapihan menentukan selera makan anak terhadap keberagaman pilihan menu di kemudian hari.

Bagi anak yang makannya normal, namun bila meja makan ibu kurang beraneka jenis menunya dari hari ke sehari, anak akan sama berisiko kekurangan gizi juga. Jenis menu yang bolak-balik itu-itu saja lagi dari hari ke sehari (mondiet), mengantarkan anak menjadi kekurangan gizi, kendati mungkin berat badannya sudah berlebih.

Takaran asupan baru
Dalam ilmu gizi ada daftar asupan harian yang dianjurkan untuk mencukupi seluruh kebutuhan gizi tubuh atau recomended daily allowances (RDA). Namun dengan berubahnya keadaan, termasuk kondisi yang sudah disebut di atas, kebutuhan tubuh akan zat gizi perlu diperbaharui. Sekarang kita mengenal dietary reference intakes (DRI).

DRI bukan saja disusun atas dasar ilmiah mutakhir, melainkan memasukkan juga perhitungan asupan tertinggi (upper intake level) yang masih bisa ditoleransi bagi beberapa zat gizi, mengingat berubahnya pola makan, jenis sumber makanan yang dipilih masyarakat. Dalam DRI tercakup juga perhitungan asupan yang memadai atau adequate intake.

Pihak badan obat dan makanan AS (FDA) sendiri menggunakan perhitungan daily value (DV), berupa anjuran yang lebih luas untuk populasi umumnya. Ke depan DV sendiri direncanakan akan diperbaharui untuk disesuaikan dengan DRI.

Anak bukan orang dewasa mini
Bahwa kebutuhan gizi anak spesifik. Bukan dihitung dengan takaran orang dewasa yang dikecilkan. Kebutuhan gizi anak, termasuk kecukupan vitamin dan mineral memerlukan dosis khusus milik anak.

Bahaya kekurangan gizi pada anak lebih berdampak luas terhadap tumbuh-kembang ketimbang bila itu terjadi pada orang dewasa. Tidak boleh sampai kekurangan, jangan pula sampai kelebihan.

Setiap anak membutuhkan semua jenis vitamin dan mineral dalam takaran memadai. Pada anak yang makannya normal, dan menu meja makan ibu selalu beragam dari hari ke hari, dan selera makan anak bagus, kecukupan seluruh zat gizi masih mungkin diandalkan hanya dari menu harian. Maka pada kelompok ini tambahan vitamin dan mineral belum diperlukan.

Jenis makanan jadi (pabrikan) sekarang umumnya sudah dilengkapi dengan tambahan vitamin dan mineral, sehingga kekurangan gizi, mestinya tidak perlu terjadi.

Vitamin dan mineral tambahan hanya diberikan pada alamat yang tepat, dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan anak. Ekstra vitamin-mineral dijadikan lini kedua mencegah kemungkinan anak mengalami kekurangan yang berisiko bakal timbul. Pada anak sehabis sembuh dari sakit,pascabedah,berat badan rendah, dan selera makan kurang.

Satu hal, bahwa vitamin-mineral bukan indikasi untuk menambah nafsu makan. Ada jenis obat lain untuk mengkatrol selera makan anak. Kekurangan vitamin dan rendahnya selera makan dua hal yang berbeda.

Share artikel ini:

Artikel Terkait