Prediksi Tinggi Badan dan Pentingnya Kalsium untuk Pertumbuhan Tulang

Pertumbuhan anak adalah sebuah proses. Setiap anak dapat berbeda satu dengan lainnya. Menurut dr. Aman B Pulungan, SpA(K), dalam acara talkshow yang diadakan oleh DANCOW Parenting Centre dan Radio Delta, 99.1 FM pada Kamis, 06 Desember 2007, setiap anak akan mengalami 3 fase, yakni :

  1. Fase bayi, yakni sejak lahir sampai berusia 2 tahun Pada fase ini yang berperan adalah nutrisi ibu dan kondisi ibu selama hamil dan menyusui.
  2. Fase anak, yakni usia 2 tahun sampai dengan usia puber Akhir usia pada fase ini bisa berbeda setiap anak. Pada fase ini hormon pertumbuhan, yakni growth hormone akan mulai berperan. Uniknya, puncak sekresi (produksi) hormon ini pada saat anak tidur lelap dan akan berperan maksimal jika anak melakukan aktivitas fisik yang cukup
  3. Fase pubertas
    Pada fase ini hormon pertumbuhan akan bekerja sama dengan hormon seks, yakni testosterone untuk laki-laki dan estrogen untuk perempuan. Ditandai dengan percepatan pertumbuhan, yakni tinggi badan anak akan melaju dengan cepat dan kemudian secara perlahan akan berhenti. Pertumbuhan organ pun terjadi, misal pada remaja perempuan terjadi pertumbuhan payudara.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Badan
Menurut Ibu Ririen, praktisi gizi dari PT. Nestlé Indonesia dalam acara yang sama, penambahan tinggi badan anak adalah multi aspek. Artinya, tinggi badan tidak hanya dipengaruhi oleh satu aspek saja, melainkan beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah:

  1. Faktor Genetik
    Faktor ini adalah elemen dasar penentu tinggi badan seseorang. Seorang anak akan mencapai tinggi badan sesuai dengan gen penentu tinggi badan yang diwarisi oleh orang tuanya. Menurut dr. Aman B Pulungan, SpA(K), tinggi badan anak dapat diprediksi dari tinggi badan orang tuanya. Berikut rumus tinggi badan:
    Anak perempuan:(((tinggi ayah – 13) + tinggi ibu)/2) ± 8,5 cm

    Anak laki-laki: (((tinggi ibu + 13) + tinggi ayah)/2) ± 8,5 cm

  2. Aktivitas
    Aktivitas fisik yang cukup pada anak akan membantu mengoptimalkan pertumbuhan tinggi badan anak serta akan merangsang hormon fungsi & kerja pertumbuhan dan akan mendukung tinggi badan menjadi optimal.

    Sinar matahari yang cukup akan mengolah pro-vitamin D, menjadi vitamin D, yakni vitamin yang sangat berperan untuk penggunaan/penyerapan kalsium tubuh yang penting untuk pertumbuhan tulang menjadi maksimal.

  3. Tidur
    Tidur pada anak sering dikaitkan dengan proses tumbuh, karena hormon pertumbuhan banyak diproduksi tubuh bila anak tidur lelap dan cukup, khususnya tidur siang, hormon pertumbuhan akan bekerja optimal, demikian menurut dr. Aman B Pulungan SpA(K).
  4. Nutrisi
    Tidak ada satu nutrisi lebih penting dari yang lain, demikian Ibu Ririen menekankan, sebab laju pertumbuhan berat mapupun tinggi badan si Kecil sangat ditentukan oleh cukup atau tidaknya seluruh zat-zat gizi dalam menu hariannya. Meskipun ada nutrisi “spesifik” untuk tulang antara lain: Kalsium, fosfor magnesium, vitamin D juga protein.

Bagaimana mencukupi kebutuhan kalsium harian?
Mencukupi kebutuhan kalsium, paling ringkas adalah dengan mengkonsumsi susu 2-3 gelas setiap, karena kalsium dari segelas susu (200ml) setara dengan dari 5 kilo nasi, atau 2½ kilo daging atau 1¼ kilo ikan segar yaitu ±250 mg kalsium). Umumnya hanya dapat tercapai sekira 50% kebutuhan harian akan kalsium, bila tidak minum susu.

Bagaimana bila si kecil tidak suka susu?
Bila si Kecil tidak suka susu para ibu dapat mensiasatinya dengan:

  • Jangan pernah memaksa atau marah karena anak tak mau susu
  • Orang tua memberi contoh minum susu, tunjukkan ekspresi bahwa susu itu enak.
  • Buat makanan dengan susu misalnya: puding, krim sup, campurkan susu dengan buah-buahan sebagai ”koktail” warna-wari buah, milk shake dsb. Resep-resep dapat ditemukan pada situs web: www.sahabatnestle.co.id
  • Libatkan anak dalam penyajian

Jika tidak dapat mengkonsumsi susu karena kondisi tertentu, misal lactose intolerance, demikian ketika ada pertanyaan dari pendengar melalui telepon, maka Ibu Ririen memberikan tips sebagai berikut:

  • Berikan susu pada anak sampai dengan batas yang dapat ditolerir anak. Misal bila anak hanya dapat mengkonsumsi 1/3 gelas susu, bagilah segelas susu menjadi 3 kali minum. Tambah porsi secara bertahap selama dan tidak menimbulkan dampak lactose intolarance yang biasanya menimbulkan diare.
  • Usahakan mengkonsumsi susu segera setelah mengkonsumsi tepung-tepungan (nasi, roti, mie, ubi, kentang), agar susu di serap pelan-pelan.
  • Yoghurt dapat juga mengurangi gejala intoleran karena probiotik membantu memecah lactosa ketika proses fermentasi (proses susu menjadi yoghurt)

Bagaimana dengan susu kedelai?
Pertanyaan lain dari pendengar melalui SMS. Menurut Ibu Ririen: Boleh saja di konsumsi, namun protein kedelai memiliki asam-amino yang tidak lengkap, jadi harus dipastikan kelengkapan sumber protein dari makanan hewani lain misal: telur, daging, unggas, ikan. Karena senyawa protein dalam produk hewani lebih lengkap dibandingkan produk nabati.

Selain itu, dr. Aman B Pulungan, SpA(K) juga memberikan tips yang harus diketahui orang tua agar pertubuhan anak sesuai dengan umur yaitu;

  • Pantaulah tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala anak sampai akhir masa remaja sehingga dapat diketahui secara dini bila ada keterlambatan pertumbuhan.
  • Cermati tanda-tanda pubertas pada anak.

Kondisi fisik anak sangat mempengaruhi kualitas hidup anak. Oleh karena itu orangtua perlu berupaya agar tumbuh kembang si Kecil optimal.

Share artikel ini:

Artikel Terkait