Saluran Cerna Sehat = Anak Sehat

Banyak hal perlu diperhatikan agar anak sehat. Termasuk di dalamnya saluran cernanya. Sejak lahir, sistem kekebalan tubuh sudah disiapkan di dalam saluran cerna. Pada dinding selaput lendir usus sudah tersedia sistem kekebalan tubuh yang lengkap. Mengapa? Karena saluran cerna adalah bagian tubuh yang paling sering tercemar bibit penyakit yang berasal dari luar, khususnya yang dari makanan dan minuman.

SUDAH pasti makanan yang kita konsumsi tidak selalu dalam kondisi steril. Tergantung berapa banyak, dan seganas apa bibit penyakit yang yang masuk ke dalam saluran cerna dan seberapa kuat kekebalan pencernaannya terbentuk menghadapi risiko terinfeksi.

Sejak lahir, saluran cerna membawa kekebalan dari ibu di dalam kandungan, selain yang sudah dipersiapkan di saluran cerna sendiri. Jika kekebalan warisan ibu sudah habis, atau sistem kekebalan belum sempurna terbentuk, pencernaan anak jadi rentan terserang infeksi. Termasuk terinfeksi oleh kuman yang terikut dalam makanan-minuman yang dikonsumsi.

Water-borne disease
Infeksi pencernaan tergolong water-borne disease. Artinya segala bibit penyakit yang mencemari air, baik yang dari makanan maupun minuman sendiri, berpotensi menginfeksi saluran cerna. Adapun sumber bibit penyakitnya umumnya berasal dari air limbah (baca: tinja).

Kuman jenis coli yang paling sering mencemari apa yang manusia konsumsi. Oleh karena itu kuman ini dijadikan patokan bersih tidaknya suatu makanan dan minuman. Air minum khususnya. Semakin besar kandungan kuman coli semakin tidak bersih apa yang kita konsumsi.

Tentu tidak setiap kali bibit penyakit memasuki pencernaan, tubuh jadi sakit. Hanya jika tubuh lemah, atau diperlemah, maka serangan infeksi selalu membuat orang yang terserang jatuh sakit infeksi.

Kurang gizi, sedang sakit menahun, baru sembuh sakit, pascabedah, adalah kondisi-kondisi tubuh yang lemah. Hadirnya penyakit HIV/AIDS memperlemah tubuh juga, sehingga rentan ditumpangi infeksi lain. Termasuk infeksi saluran cerna.

Selain menjaga kebersihan makanan-minuman, mencuci tangan sebelum makan atau memegang makanan, beberapa cara dasar mencegah infeksi pencernaan. Termasuk tidak jajan sembarangan, atau mengonsumsi jenis menu yang sudah basi atau tercemar bahan berbahaya (racun). Keracunan makanan berarti ada bibit penyakit mencemari makanan, selain kemungkinan tercemar bahan kimiawi berbahaya, seperti pupuk kimia, pestisida, atau bahan kimiawi berbahaya lainnya.

Memilih air minum sehat, menjerang air sebelum diminum, waspada menu mentah (lalap, asinan, karedok), upaya lain agar pencernaan terhindar dari ancaman terinfeksi. Termasuk membebaskan pencernaan dari gangguan jenis menu merangsang, seperti pedas, masam, keras, duri ikan, atau alergi makanan tertentu.

Kesehatan pencernaan
Tak cukup hanya melindungi pencernaan dari ancaman bibit penyakit atau menu tak menyehatkan yang berasal dari luar. Pencernaan juga harus terpelihara kesehatan, dan keutuhannya. Caranya, dengan memberi kecukupan bakteri-baik.

Pencernaan yang normal itu bukannya steril sama sekali. Usus kita membutuhkan sejumlah jenis bakteri-baik dalam jumlah memadai. Gunanya untuk melindungi usus dari ancaman bibit penyakit jahat dari luar menjadi ”pasukan” penjaga dan pelindung permukaan usus, selain membantu mencerna makanan / minuman, menyerap gizi dan mengeluarkan residu (sisa) misal membuang tinja.

Usus yang normal itu memiliki banyak kuman-baiknya, dan tak ditemukan kuman jahatnya. Kuman jahat yang lolos memasuki usus akan ditumpas oleh kuman baik yang tumbuh sehat di usus. Maka kuman-baik atau flora usus ini harus terus dipelihara. Lebih dari itu, perlu dibuat subur. Semakin subur kuman di usus, semakin menyehatkan.

Agar kuman-baik dapat bertambah, usus membutuhkan bala-bantuan jenis kuman baik dari luar jika dalam keadaan kekurangan. Misal, setelah minum antibiotika, umumnya usus kehilangan sejumlah besar kuman-baiknya. Dalam keadaan demikian perlu pasokan kuman-baik, yakni probiotik, untuk menambah kembali flora usus. Termasuk keadaan sehabis diare lama, pada keadaan sebagian kuman usus ikut hanyut terbuang keluar.

Bayi baru lahir yang segera diberi air susu ibu (ASI) flora ususnya lebih baik. Itu maka jangan menunda memberi ASI dan tidak memberi makanan selain ASI pada usia 6 bulan pertama (ASI eksklusif) agar kuman-baiknya dominan dalam ususnya dan saluran cernanya sehat. Tentu saja daya tahan tubuhnya jadi kuat.

Jumlah kuman-baik dalam usus yang memadai saja belum cukup kalau tidak subur. Untuk selalu subur, kuman usus butuh makanan juga dari luar. Jenis bawang-bawangan, buah-buahan, kacang-kacangan, ubi-ubian, berperan sebagai pemberi makan kuman-baik atau prebiotic. Agar sehat dan subur ususnya, menu harian anak dan semua orang dewasa juga perlu lebih beragam, dan lengkap.

Gangguan dalam flora usus, bukan saja menjadikan tinja tidak berbentuk normal, melainkan juga lebih kerap kejadian terserang infeksi usus. Selain itu penyerapan sari makanan oleh usus juga ikut terganggu, mungkin ada gangguan dalam buang air besar, selain perut jadi gampang bermasalah.

Jika pencernaan sering terinfeksi, bukan saja fungsinya yang terganggu, melainkan struktur ususnya ikut berubah juga. Jonjot usus terpangkas atau berkurang, mungkin terluka, dan cedera, selain sistem kekebalan usus sendiri menurun. Maka perlu lekas menyembuhkan setiap kali terserang infeksi pencernaan. Dengan mengkonsusmsi cukup probiotik dan prebiotik, inilah cara alamiah yang baik untuk mencegah kerusakan saluran cerna lebih berlanjut, yang akan kian melemahkan ketahanan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait