Waspadai Infeksi Perut Balita

Infeksi perut masih banyak di Indonesia. Bukan saja pada orang dewasa, angka diare masih tinggi pada kelompok balita. Memotong rantai penularan infeksi dari makanan atau tangan masuk ke mulut (fecal-oral) memerlukan sikap perilaku sehat. Di antaranya, kebersihan perorangan dengan mencuci tangan yang benar.

Angka diare yang terbilang tinggi, sebagian besar penyebabnya lantaran kebersihan perorangan yang lemah, selain sanitasi lingkungan yang buruk. Jika sanitasi lingkungan buruk, dengan mudah limbah berisi bibit penyakit dari sampah dan kotoran manusia itu berpindah ke mulut sekiranya tangan pun belum dibiasakan bersih.

Penyebab utama penularan infeksi saluran cerna masih didominasi karena menelan bibit penyakit akibat jemari kotor, selain karena penyajian makanan yang tidak bersih dan sehat. Termasuk saat menyajikan susu bagi anak.

InfeksiB domestik
agi kelompok balita, yang belum tercemar oleh jajanan, infeksi perut lebih disebabkan oleh kuman yang berada di rumah sendiri. Bagaimana makanan dan susu disajikan ikut menentukan kesehatan anak di rumah.

Betul peralatan minum dan makan  harus dicuci bersih dengan sabun dan dibilas dengan air mengalir (kran) bila perlu disiram dengan air mendidih, namun bila diambilnya dengan tangan dan jemari tak bersih yang basah, dapat berisiko tercemar bibit penyakit jari tangan juga. Terlebih bila tidak menyadari kalau sebersih apa pun jemari tangan, tanpa membasuhnya terlebih dulu dengan sabun, niscaya berbibit penyakit.

Angka diare akibat infeksi secara nyata berkurang bila kebiasaan mencuci tangan diterapkan dalam rumah tangga. Hanya karena tidak tertib menjaga higienis peralatan makan dan minum, termasuk penyajiannya, angka diare dan infeksi saluran pencernaan sukar ditekan.

Sekurang-kurangnya ada puluhan penyakit infeksi perut yang bisa dicegah dari hanya sekadar membiasakan mencuci tangan. Setidaknya cucilah tangan setiap kali sebelum makan, sehabis dari kamar kecil, dan setiap kali habis memegang uang, dan sehabis bepergian ke luar rumah. Dan satu yang paling penting, yakni sebelum membuat susu dan menyiapkan makanan anak.

Diare dan Demam
Tidak semua diare berarti infeksi saluran pencernaan. Ada jenis diare yang non-infeksi, seperti bila makanan tidak terserap (mal-absorbtion) atau tidak bisa menerima gizi tertentu misal: protein atau fat malabsorbtion (tidak dapat menyerap protein atau lemak), lactose intolerance (tidak dapat menerima laktosa/ karbohidrat susu), atau mencerna makanan yang belum waktunya, atau bila terjadi kelebihan gerakan usus (hyperperistaltic). Ini jenis diare yang steril. Diare yang bila tinjanya diperiksa tidak ada bibit penyakitnya.

Kita menyebut kejadian buang air besar sebagai diare apabila: bentuk tinja encer seperti bubur atau air mengucur terus, frekuensinya lebih sering dari biasanya atau lebih dari lima kali sehari. Baru setelah mengelompokkan ini sebagai kejadian diare, diamati apakah masuk ke dalam kelompok diare non-infeksi, ataukah sebab infeksi.

Diare oleh infeksi, tentu akan ditemukan bibit penyakitnya di dalam tinjanya. Penyebabnya mulai dari virus, kuman, parasit, dan jamur. Dan apa pun bibit penyakit sebagai penyebab diarenya, sifat tinjanya juga khas, yakni selain bentuknya juga berbau busuk. Bau busuk tinja ini yang menunjukkan ada infeksi di saluran pencernaan.

Selain itu, kemungkinan disertai dengan rasa mulas. Pada disenteri, mulas disertai dengan rasa tidak enak di liang dubur (tenesmus), dan tinja bercampur dengan lendir dan kadang bercampur darah.

Oleh karena penyakit infeksi, gejala kebanyakan biasanya disertai dengan demam. Sedang diare non-infeksi umumnya tanpa demam. Apapun penyebab infeksi tentu perlu pemeriksaan lanjutan, antara lain memeriksa tinjanya di laboratorium untuk mengungkap apa bibit penyakitnya. Bila perlu dilakukan pemeriksaan darah. Kedua hal itu biasanya sudah mendukung diagnosis akan adanya suatu infeksi tertentu pada pencernaan.

Infeksi tifus misalnya, tentu tak sama sifatnya dengan infeksi oleh amoeba disenteri. Begitu juga bila infeksi oleh kolera, atau kuman yang sering ada dalam makanan dan minuman berbeda dengan infeksi perut lainnya. Diare non-infeksi tidak selalu berbahaya. Dengan menjauhkan jenis makanan dan minuman yang tidak cocok, diare akan mereda dengan sendirinya.

Pada anak, diare bisa juga manifestasi dari gejala awal flu. Infeksi saluran napas atas (ispa) pada anak, biasanya disertai dengan gejala diare juga. Diare di sini tak perlu diobati. Dengan meredakan infeksi saluran napas atasnya, diarenya akan hilang.

Apapun penyebab diare, pertolongan pertama, perlu diimbangi dengan masukan cairan (minum) yang sekiranya lebih banyak atau setidaknya sama banyak dari jumlah yang keluar. Meminum cairan oralit setiap kali diare, akan meredam efek buruk kehilangan cairan.

Kapan Perlu Antibiotika?
Tidak demikian bila diare tergolong infeksi non-virus. Tak cukup hanya obat antidiare dan menambahkan oralit belaka, karena tubuh membutuhkan antibiotika penumpas bibit penyakitnya.

Diare oleh infeksi virus tidak selalu ada penangkalnya. Namun kebanyakam penyebabnya adalah kuman. Maka pemberian antibiotika menjadi wajib begitu dokter mendiagnosis infeksi non-virus pada saluran pencernaan.

Tanpa memberikan antibiotika pada diare infeksi kuman, penyakit bakal berkepanjangan. Bukan tak mungkin telanjur tiba pada komplikasi. Dengan meminum obat penghenti diare belum tentu menyelesaikan diare bila diare tergolong infeksi. Oleh karena itu sebaiknya diberikan obat antibiotika. Sebaliknya bila bukan diare infeksi menjadi mubazir bila diberi antibiotika.

Diare sebetulnya reaksi tubuh untuk mengenyahkan bibit penyakit yang berada di usus. Dengan terjadinya diare, bibit penyakit dikeluarkan, sehingga tidak tertahan lebih lama di dalam usus. Atas dasar petimbangan itulah, ada baiknya tidak setiap diare diberikan obat penghenti diare. Dokter yang menentukan kapan suatu serangan diare perlu segera diberikan obat penghenti diare.

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait