Waspadai Penyakit Saat Liburan

Masa liburan dapat mengubah pola dan jadwal harian anak. Bukan saja waktu senggang yang lebih banyak dari biasa, lokasi kegiatan juga lebih banyak bukan di sekolah, bukan juga di sekitar rumah. Perubahan ini yang bisa berpotensi menjangkitkan penyakit pada anak. Apakah saja penyakitnya?

Semasa liburan anak mungkin lebih banyak menghadapi ancaman sejumlah penyakit. Ada yang ringan, namu bukan tak mungkin tergolong penyakit yang berat.

Penyakit menular
Bahaya paling mengancam pada anak, jika sampai terjangkit penyakit yang tergolong menular. Hampir kebanyakan penyakit yang berasal dari faktor lingkungan, tergolong penyakit menular antara lain demam berdarah dengue (DBD).

Demam berdarah dengue atau DBD itu memiliki daerah endemiknya sendiri. Ada daerah-daerah tertentu di negeri kita yang ”langganan” terjangkit DBD. Maka daerah endemik itu yangharus dihindari, dan kalau pun dikunjungi, perlu lebih mewaspadainya.

Sekarang boleh dibilang tiada wilayah yang terbebas penuh dari jangkitan DBD. Kalau dahulu DBD tergolong ”penyakit kota”, karena lebih sering berjangkit di perkotaan, kini sudah ”masuk desa”.

Dengan kian lajunya trasnportasi dan mobilisasi manusia, dengan cepat nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus, pembawa (vector) virus DBD, dan derasnya penderita DBD memasuki wilayah yang masih perawan DBD.

Muncul demam, apalagi demamnya khas DBD, yakni demam tinggi tiga hari, kemudian demam turun, lalu demam bangkit lagi pada hari ke empat, harus diamati, karena itu mungkin demam dengue.

Selain DBD ialah Chikungunya, penyakit nyamuk yang sama bisa membawa virus Chikungunya juga. Gejalanya sama-sama demam. Namun gejala yang menonjol berupa serangan ”kelumpuhan” sekujur tubuh. Otot-otot tubuh seakan kehilangan tenaga, karena nyeri yang hebat.

Kejadian kecelakaan hal lain yang mungkin terjadi selama liburan. Risiko anak mengalami kecelakaan lebih sering selama berlibur. Bisa di perjalanan, di lokasi tujuan berlibur, atau saat bermain di rumah. Maka perlu siap siaga meghadapi segala bentuk cedera yang mungkin terjadi. Untuk itu persiapan kotak P3K hendaknya selalu tersedia setiap saat. Jangan abaikan muntaber dan diare. Usia kanak-kanak rentan terhadap kekurangan cairan. Diare lebih dari lima kali sehari atau yang buang bersifat cairan walau baru sekali dua kali, harus diwaspadai karena dapat mengancam keseimbangan cairan tubuh anak. Waspadai bahaya dehidrasi. Jangan sampai kekurangan cairan telanjur memberat. Maka perlu membawa oralit, selain obat penghenti diare.

Traveller’s diarrhae
Gangguan pencernaan karena tidak cocok jenis menu yang bukan biasanya disebut traveller’s diarrhae. Diare selama liburan sering muncul selama berada di daerah baru. Bukan hanya lantaran makanan dan minuman tidak bersih saja, melainkan bisa juga sebab tidak cocok terhadap menu setempat.

Anak dan orang dewasa yang perutnya terbiasa sangat steril, lebih rentan terhadap makanan jajanan di daerah tempat tujuan liburan piknik, atau tempat berkunjung.

Maka perlu menghindari jenis makanan dan minuman yang diduga riskan mencemarkan bibit penyakit. Pilihlah yang serba panas seperti soto, sup, dan minuman hangat.

”Masuk angin”
Ya, paling lazim terjadi apa yang dijuluki sebagai ”masuk angin”. Gejala pegal, tidak enak badan, demam, itulah yang orang maksud dengan ”masuk angin”.

Perjalanan ke luar rumah, apalagi menempuh untuk waktu lama, terpapar hawa dingin, mungkin terkena air hujan, tidak setiap anak tahan mengahadapi. Yang daya tahannya lemah, kurang darah (anemia), rentan terserang keadaan ”masuk angin”.

Maka usahakan agar badan anak tetap hangat, misal dengan mandi air hangat, memakaikan baju hangat. Badannya pun perlu dibuat hangat, dan memberi makanan serta minuman yang serba hangat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait