Mengenal Istilah Medis Yoyo Effect | Sahabat Nestlé

Buat dunia medis, istilah "yoyo effect" bukanlah hal baru. Sudah lama dikenal ketika orang mencoba untuk kembali menurunkan berat badan. Salah satu cara pilihan menguruskan badan dengan berdiet, ternyata bisa menimbulkan efek yang belum tentu selalu menguntungkan. Dan efek itu dikenal mengutip mekanisme permainan yoyo, yakni ada saatnya berada di atas, dan ada saatnya berada di bawah. Demikian pula mengenai metode menguruskan badan yang memiliki efek yang tidak selalu menguntungkan ini.

KEGEMUKAN di dunia kini menjadi wabah. Generasi sejak baby boomers muncul dengan gejala "dagu berlipat", justru akibat pola makan yang berlebihan dan pilihan menu yang salah. Menjadi gemuk lalu sesuatu yang tak terelakkan. Semua sudah gemuk sejak kecil.

Gemuk sejak kecil sukar diatasi karena bukan saja jumlah sel tubuhnya yang berlebih, melainkan ukuran sel juga lebih besar dari normal. Karena sulit mengempiskan sel berukuran lebih besar itulah, sehingga berdiet saja tidak cukup. Juga bila menjalankan diet yang sangat ketat.

Maka selalu lebih baik tidak membuat anak tidak telanjur gemuk sejak kecil. Kesalahan mencitrakan bahwa anak yang gemuk itu yang sehat harus segera dihapus. Kini anak yang tidak gemuk, tapi juga tidak kuruslah yang tergolong anak sehat.

Karena gemuk sudah terbentuk sejak kecil, maka ketika dewasa bakat itu akan terus terbawa. Ada beberapa cara dan metoda menguruskan badan yang dikenal. Tidak semua mendapat restu dunia medis. Sebagian bahkan dinilai membahayakan kesehatan. Gejala bulimia, yakni memuntahkan kembali segala apa yang sudah ditelan, salah satunya.

Bukan sekadar berdiet
Logika medisnya, untuk menjadikan tubuh lebih kurus dapat ditempuh dengan berdiet. Prinsipnya mengurangi asupan kalori lebih dari sebatas di bawah kebutuhan belaka. Kita tahu bahwa agar berat badan stabil, yang dimakan diatur senantiasa sama banyaknya dengan kalori yang dipakai. Neraca kalori yang masuk dengan kalori yang dipakai harus senantiasa sama. Namun tidak cukup hanya demikian bila tujuannya berat badan ingin diturunkan.

Berat badan berangsur-angsur akan turun bila asupan kalori dari yang dimakan setiap hari selalu lebih sedikit dibanding yang terpakai oleh aktivitas harian. Artinya, kekurangan kalori untuk beraktivitas diambil dari cadangan tubuh. Cadangan itu berasal dari otot, hati, di bawah kulit. Lebih besar aktivitas harian, lebih banyak menguras cadangan kalori tubuh. Metabolisme tubuh berlangsung secara berubah, karena tubuh memakai kalori dari cadangan makanannya.

Namun untuk tepatnya seberapa besar porsi makan dalam berdiet bisa dihitung agar tubuh tidak menjadi menderita. Perlu ditakar rasio kehilangan lemak dengan kehilangan massa otot akibat mengurangi kalori menu harian. Seimbangkah aktivitas harian dengan asupan makan dan terkurasnya cadangan makanan tubuh akibat berdiet.

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Akibat diet kelewat ketat
Tanpa menghitung keseimbangan asupan kalori, menimbang terkurasnya cadangan makanan tubuh, dan seberapa besar aktivitas harian, akan terjadi ketidakserasian. Metabolisme tubuh jadi kacau, Muncul efek menagih bila cadangan makanan tubuh terkuras habis-habisan. Dan itu terjadi bila berdiet kelewat ketat.

Diduga, salah satu sebab munculnya "yoyo effect" itu akibat pilihan berdiet yang kelewat ketat. Tubuh sudah sampai titik terendah kehabisan cadangan makanan, sehingga muncul efek menagih sebagai respon, dan makan lebih banyak sesudahnya. Akibatnya bukan saja berat badan kembali ke kondisi semula, bahkan malah bisa berlebihan. Yang begini sebaiknya tidak boleh terjadi.

Itu maka, sebaiknya berdiet ala kadarnya. Tidak perlu drastis dan berlebihan. Oleh karena itu menjadi kurus dadakan tidaklah menyehatkan. Berat badan menurun secara berangsur-angsur untuk waktu yang lebih lama itu prinsip. Tubuh tidak boleh dikagetkan langsung menjadi kurus.

Cara di atas bukan saja mengacaukan metabolisme tubuh yang normal, sering terjadi berdiet ketat secara berlebihan berakhir dengan kekurangan gizi. Tak hanya porsi makan, banyak zat gizi tak lagi memadai diterima oleh tubuh. Gejala kekurangan gizi bukan kasus jarang pada mereka yang memilih berdiet yang salah.

Percuma badan menjadi kurus kalau lalu menjadi anemia, lesu, letih, dan lemah. Masuk akal kalau ada kasus sudah kurus lalu kelihatan pucat, tak bergairah, dan lekas letih. Pilihan begini tidak dianjurkan dunia medis karena merusak kesehatan. Prinsipnya menjadi kurus namun tetap bugar. Untuk itu perlu memilih cara yang tepat di mata medis.

Mengenal jenis makanan
Banyak kasus kegemukan menjadi salah kaprah karena tidak mengenal jenis makanan. Mereka yang sudah telanjur gemuk atau kegemukan mengaku porsi makannya sedikit, tapi lupa kalau total camilannya melebihi makanan hariannya. "Saya hanya makan beberapa suap nasi, Dok, tapi kok tetap gemuk?" Lupa berapa mangkuk mi, es krim, kue, teh manis, permen, cokelat, keripik, gorengan dikonsumsi setiap harinya. Karena kalau dihitung kalorinya semua camilan itu pasti melebihi tiga kali makan sehari. Belum kalau camilan itu serba manis dan serba digoreng.

Teh manis, es krim, misalnya, setara dengan sepiring nasi. Demikian pula nilai kalori pisang goreng, lapis legit, yang dianggap “cuma” itu justru lebih besar kalorinya dari sepiring nasi takaran yang sama. Jadi percuma tidak makan nasi kalau masih tetap camilan sejenis yang itu.

Untuk menjadi tidak gemuk lagi tak perlu mengubah tidak makan tiga kali sehari. Tetap pola makan tiga kali karena lambung membutuhkannya tiga kali makan dalam sehari. Tetap makan malam juga. Namun porsi makannya dibatasi, bukan sama sekali tidak makan. Batasi dan memilih camilan yang rendah kalori seperti serba yang direbus. Pisang rebus, ubi rebus, atau kacang rebus jauh lebih menyehatkan selain rendah kalorinya ketimbang donat, atau es krim, atau gorengan.

Sekali lagi, lebih penting, khususnya bagi anak, cegah supaya tidak gemuk sejak kecil, Menjadi tidak gemuk sejak awal tentu tidak juga sampai harus mengalami “yoyo effect” di kemudian hari.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait