Jangan Biarkan Iritasi Kuku

Perawatan kuku bertujuan adalah untuk keindahan dan kesehatan. Kebersihan kuku adalah cara paling sederhana mencegah sejumlah penyakit. Kuku yang sedap dipandang dambaan setiap orang. Kerusakan atau peradangan pada kuku, selain tak enak dipandang, dapat sebagai tanda tanda tidak sehat.

KUKU memang perlu dirawat. Tidak perlu perawatan mewah seperti di salon dengan alat dan cara khusus tapi cukup dengan rutin berkala mengguntingnya. Kuku yang panjang melebihi bantalannya akan memudahkan kotoran apa pun terselip di sana. Kotoran bisa berarti bibit penyakit. Yang dapat bisa menjadi sumber penyakit.

Anak yang terbiasa menggigiti kuku selain merusak kuku, juga berpotensi menelan bibit penyakit. Sama halnya menyantap makanan tanpa membasuh jemari tangan. Berbagai penyakit, penyakit perut di antaranya, berpotensi terjangkit apabila jemari tangan tidak bersih. Selain itu, acap terjadi infeksi kuku. Kasus ini bukan sekadar kebiasaan, tapi bisa juga sebagai tanda suatu penyakit. Sehingga merasa tidak enak kalau tidak menggigiti kuku dan merasa aman dengan menggigiti kuku (obsesif-kompulsif).

Kuku juga cermin kesehatan. Warna kuku sehat tampak kemerahan, mengkilat-bersih, dan segar. Kuku yang sakit, tampak kusam, pucat, mungkin berbercak, mudah retak, dan rapuh. Tubuh yang kekurangan vitamin dan mineral, misalnya, terlihat pula pada kuku. Sementara pada kekurangan zat besi kronis, kuku tampak pucat kebiruan, bahkan kuku bisa menjadi datar/tidak-cembung (flat/spoon nail). Penyakit-penyakit tertentu membuat kuku abnormal.

Menggunting kuku yang benar
Walaupun hanya menggunting, seolah bisa dilakukan tanpa teknik tertentu. Prinsipnya memang sesederhana, sebagai berikut;

  • Pertama gunakan hanya gunting kuku, bukan dengan gunting baju, cutter, silet, apalagi pisau dapur. Sedang dengan gunting kuku pun hendaknya memakai yang masih tajam, yang sekali kerat kuku langsung terpotong.
  • Menggunting kuku diatur tidak terlampau dalam. Masih menyisakan sedikit ujung kuku.
  • Bila sehabis digunting, kuku terasa sakit itu tanda mengguntingnya kelewat dalam. Apalagi kalau sampai ada bagian kuku yang berdarah, lalu meradang.

Menggunting sampai ke tepi kuku
Kita tahu struktur kuku jempol kaki tidak datar melainkan cembung. Cara menggunting kuku jempol kaki tidak seperti pada kuku lain; perlu perhatian khusus supaya kedua bagian tepi kuku jempol ikut tergunting. Karena jika tidak, selalu ada bagian ujung tepi kuku jempol yang luput tergunting. Bagian ini yang nantinya lebih panjang dan membentuk semacam taji.

Jika taji kuku dibiarkan, apalagi kalau sering memakai sepatu yang sempit, akan menusuk daging di tepi kuku jempol. Kuku jempol kaki sendiri belum tentu bersih, apalagi steril. Maka tusukan oleh ujung tepi kuku sendiri bisa saja menimbulkan infeksi di tepi kuku jempol kaki.

Awalnya nyeri dan rasa tidak enak di kuku jempol. Jika dibiarkan, taji kuku menembus daging di kedua tepi kuku jempol. Lalu membengkak, merah, meradang, dan nyeri menghebat. Keadaan demikian yang disebut paronochia atau cantengan.

Tak ubahnya bisul, cantengan bukan saja membuat orang tak berani memakai sepatu, tak tersentuh pun nyerinya luar biasa. Kuku mungkin bisa sampai terangkat, dan terancam terlepas dari bantalannya kalau keadaan dibiarkan berlama-lama. Nanah tampak di kedua ujung tepi daging kuku.

Dikeluarkan nanahnya
Sama dengan bisul besar atau abses, nanah yang terbentuk di tepi jempol yang terinfeksi harus dibuang. Obat saja tak mempan. Selama nanahnya masih bersarang di sana, penyakit infeksi kukunya tak akan menyembuh.

Apabila penyakitnya sudah berlangsung lama, dan struktur kuku sudah berubah, kuku tak mungkin dipertahankan lagi. Pada kasus demikian, kukunya pun harus ikut diangkat juga. Pemotongan seluruh kuku tentu memerlukan tindakan pembedahan khusus. Kukunya dicabut, dengan harapan kuku baru akan tumbuh. Tindakan diatas harus dikerjakan di rumah-sakit dengan pertolongan dokter.

Mencabut jaringan kuku
Adakalanya sumber infeksi bukan dari kuku, melainkan dari jaringan di sekitarnya. Kita acap melihat adanya lapisan kulit di sekitar kuku yang terlepas. Kita cenderung mencabutnya, atau menariknya. Bila itu kita lakukan, infeksi pun bisa terjadi di sana. Termasuk jika ada bagian kulit keras (cuticle) terkerat sewaktu kuku digunting.

Infeksi sekitar kuku akan sama gejalanya. Jaringan sekitar kuku akan membengkak, merah, dan meradang. Proses infeksi ini pun harus segera diredakan. Mintalah pertolongan di rumah-sakit.

Luka atau cedera kuku, betapapun kecilnya perlu perawatan. Termasuk bila ujung jari tertusuk duri, jarum, tulang ikan atau pisau. Ujung jemari penuh dengan pembuluh darah dan saraf. Ini memudahkan terjadi infeksi. Setidaknya segera dibersihkan dengan membubuhi antisepsis misal obat merah atau alkohol kemudian menutupnya dengan plester setelah dibersihkan dengan penyucihama.

Waspada pengidap kencing manis
Kencing manis bisa terjadi pada anak-anak, serta pada orang dewasa. Bagi pengidap kencing manis perlu perhatian ekstra dalam merawat kuku. Bukan saja perlu rutin berkala menggunting kuku, tapi bila salah menggunting kuku, bisa buruk akibatnya.

Untuk pengidap kencing manis tak boleh infeksi pada jemari, terlebih jemari kaki. Mengapa? Karena infeksi yang telanjur terbentuk sukar menyembuhnya. Sering kali awal dari pembusukan jaringan (gangrene) kaki itu memungkinkan perlunya tindakan amputasi.

Maka perlu lebih berhati-hati kala menggunting kuku. Bila sampai terluka, cegah agar tidak sampai infeksi. Bubuhi selalu antisepsis seperti alkohol 70% setiap selesai menggunting kuku. Sehingga apabila terjadi cedera paling ringan sekalipun di sana, kemungkinan terinfeksi dapat digagalkan oleh alkohol. Sekaligus mencegah terjadi luka lebih parah karena ”bawaan” diabet

Share artikel ini:

Artikel Terkait