Manfaat Makanan Anti Oksidan untuk Wanita

Menjadi awet muda dan tetap cantik merupakan dambaan setiap wanita. Anda tidak perlu melakukan perawatan dengan biaya mahal untuk tetap cantik dan awet muda. Dengan mengkonsumsi sumber pangan kaya antioksidan, tubuh Anda akan sehat dan sekaligus mendapatkan paras yang menawan.

Sel tubuh secara permanen dan alami akan mengalami kerusakan. Memasuki usia 40 tahun, sekitar 30 persen protein sel akan mengalami kerusakan akibat radikal bebas. Penumpukan kerusakan sel ini akan menyebabkan proses penuaan dini. Di dalam tubuh, penumpukan radikal bebas dapat dikurangi dengan menjalani gaya hidup sehat. Seperti dengan mengonsumsi makanan yang tinggi antioksidan, cukup minum air putih, menghindari minuman beralkohol, tidak merokok, olahraga teratur dan cukup istirahat.

Sumber Radikal Bebas

Paparan radikal bebas dari polusi, sinar ultraviolet, bahan kimia, makanan tidak sehat, dan asap rokok dapat menyebabkan penuaan dini. Kondisi yang sangat menakutkan bagi seorang wanita. Penuaan dini biasanya ditandai dengan menurunnya elastisitas kulit, kulit terlihat kusam, kering dan kendur. Selain faktor usia, penyebab penuaan dini bisa disebabkan oleh radikal bebas.

Radikal bebas adalah molekul dalam tubuh yang kehilangan elektron. Akibatnya molekul menjadi tidak stabil dan mengambil molekul atau elektron sel lain di sekitarnya. Reaksi ini akan menyebabkan rusaknya molekul atau sel tubuh. Jangka panjangnya tubuh akan mengalami kerusakan sel atau Deoxyribo Nucleic Acid (DNA). Bayangkan jika paparan radikal bebas kita alami setiap hari, tentu akibatnya akan menyebabkan penuaan dini dan menumbulkan beragam masalah kecantikan kulit. Seperti timbulnya flek hitam, kulit kusam, kering, bahkan risiko kanker kulit.

Cegah Penuaan Dini

Agar tubuh terlindung dari serangan radikal bebas dan mencegah terjadinya penuaan dini, kita perlu mengonsumsi antioksidan (penangkal oksidasi). Antioksidan adalah sebutan untuk zat yang berfungsi melindungi atau penangkal tubuh dari serangan radikal bebas. Sel-sel tubuh sebenarnya mengandung molekul antioksidan. Seperti vitamin C, vitamin E, karotenoid, dan selenium. Antioksidan juga perlu di pasok dari luar tubuh, yaitu melalui zat gizi bahan pangan yang berperan sebagai antioksidan alami. Seperti Vitamin A, E, C, Riboflavin, seng, mangan, selenium, tembaga dan karotenoid.

Sebagian besar antioksidan dapat diperoleh dari makanan secara alami.  Terutama pada sayuran, buah dan biji-bijian.

Berikut beberapa sumber bahan pangan yang kaya akan antioksidan alami.

Alpukat – Buah alpukat kaya akan glutation, zat antioksidan yang berfungsi menetralkan lemak jahat dari makanan lain. buah alpukat juga kaya akan kalium, zat yang melindungi sel darah. Kandungan vitamin E yang tinggi di dalam alpukat juga menjaga kelembaban kulit.

Berry – Golongan buah berry seperti blueberry, strawberry, raspberry, dan cranberry mengandung antosianin dan vitamin C yang berbungsi sebagai antioksidan. Selain sebagai antioksidan, vitamin C juga melindungi tubuh dari serangan penyakit akibat virus.

Anggur –Mengandung sekitar 20 zat antioksidan, salah satunya adalah quercetin. Quercetin berfungsi sebagai pencegah penggumpalan darah, dan menghambat proses oksidasi kolesterol LDL.

Jeruk - Keluarga jeruk, seperti jeruk bali, jeruk manis, jeruk mandarin dan jeruk lemon kaya akan karotenoid, flavonoid, terpene dan vitamin C yang merupakan zat antioksidan. Dengan mengonsumsi buah jeruk, tubuh akan terhindar dari serangan penytakit akibat virus serta menjaga kesehatan kulit.

Tomat - Buah tomat mengandung likopen. Likopen ini merupakan antioksidan yang sangat kuat dan membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Kandungan likopen di dalam tomat akan meningkat jumlahnya ketika buah tomat dimasak atau dipanaskan.

Brokoli - Kandungan antioksidan di dalam brokoli berupa vitamin C, beta-karoten, quercetin, indol, lutein dan glutation. Brokoli dipercaya dapat menetralkan hormon estrogen yang berlebihan.

Wortel - Wortel kaya akan beta-karoten dan vitamin C pencegah radikal bebas. Manfaatnya dapat menurunkan kolesteroldan meningkatkan daya tahan tubuh.

Kubis - Kubis mengandung antioksidan indol-3-karbinol. Zat ini akan mempercepat pembuangan estrogen dan sangat cocok dikonsumsi para wanita.

Bayam - Sayur bayam mengandung zat antioksidan berupa beta-karoten dan lutein. Kedua antioksidan ini dapat melindungi tubuh dari kanker, tekanan darah tinggi dan stroke.

Bawang - Keluarga bawang, seperti bawang putih, bawang bombay dan bawang merah mengandung antioksidan, seperti allicin dan quercetin. Antioksidan ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh, anti bakteri dan anti jamur.

Teh - Antioksidan di dalam teh berupa senyawa polifenol, quercetin dan katekin. Zat ini dipercaya dapat merangsang enzim di hati untuk mengeluarkan radikal bebas dari dalam tubuh.

 

Tip Mengolah Makanan Sumber Antioksidan

Proses pengolahan, penyimpanan dan perlakuan yang salah terhadap bahan pangan dapat menyebabkan menurunnya kualitas antioksidan. Agar kualitas nutrisi dan antioksidan tetap baik, perhatikan tip mengolah bahan makanan berikut;

1.      Beberapa senyawa antioksidan justru terletak di lapisan kulit buah, karenanya hindari mengupas buah berkulit tipis seperti apel, pir, peach, dan anggur. Cukup dicuci bersih dengan air mengalir untuk melarutkan kotoran dan kuman.

2.      Jangan merebus sayuran terlalu lama, ini akan mengurangi evektifitas antioksidan. Merebus sayuran terlalu lama juga akan merusak komponen vitamin, seperti vitamin C yang mudah rusak jika terkena panas tinggi.

3.      Memotong sayuran sebaiknya dilakukan setelah sayuran di rebus. Memotong sayuran sebelum direbus, apalagi jika potongan terlalu kecil akan melarutkan golongan vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C yang memiliki sifat antioksidan.

4.      Memasak sayuran dengan cara digoreng kurang disarankan, karena vitamin yang berfungsi sebagai antioksidan seperti vitamin A dan E akan larut di dalam lemak dan terbuang percuma. Akan lebih baik memasak sayuran dengan metode tim, kukus atau rebus.

5.      Konsumsi sayuran dan buah dalam keadaan segar. Seperti diolah menjadi jus buah atau jus sayuran.

Jika memungkinkan konsumsi sayuran, buah dan kacang-kacangan organik. Bahan pangan organik tidak mengandung pestisida yang merupakan radikal bebas bersifat karsinogen (pemicu kanker).

Share artikel ini:

Artikel Terkait