Memahami Dan Mengelola PMS

Seperti sudah umum diketahui, PMS atau Pre-Menstrual Syndrome adalah kumpulan dari berbagai gejala fisik, psikologis dan emosi pada wanita  yang berhubungan dengan siklus haid. Berdasarkan istilah yang digunakan para ahli, gejalanya sendiri punya berbagai tipe, antara lain:

PMS tipe A (Anxiety).

Tipe ini memiliki gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil (anxiety)

PMS tipe H (Hyperhydration)

Tipe ini  memiliki gejala edema (pembengkakan), perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid.

PMS tipe C (Craving)

Tipe ini ditandai dengan rasa lapar, ingin mengonsumsi makanan yang manis-manis (seperti coklat) dan karbohidrat sederhana (semisal gula).

PMS tipe D (Depression)

Tipe ini ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa putus asa yang sangat kuat.

Bagi sebagian wanita, sindrom  ini akan menghilang pada saat menstrulasi atau beberapa hari setelahnya.

Apa yang menyebabkan sindrom ini? Ternyata, tidak ada penjalasan yang definitif mengenai apa yang menyebabkan sindrom ini.

Ada sebagian ahli yang mengatakan sebabnya adalah  karena ketidakkeseimbangan hormon, gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau sebab lainnya.

Dilihat dari faktor lain, ada memang sejumlah  faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya PMS.  Ini antara lain wanita yang pernah melahirkan, wanita yang sudah menikah, usia yang bertambah, stress batin, kebiasaan makanan (seperti tinggi gula, garam, kopi, teh, coklat), kurang berolahraga, atau kekurangan zat-zat gizi (seperti kekurangan vitamin B, E, C)

Intensitas gangguan PMS pada masing-masing orang bisa berbeda. Ada yang masih bisa ditangani sendiri (terkontrol) dan ini normal, namun ada yang sudah melebihi batas kontrol kita.

Bila kita sudah merasa gangguan PMS itu telah menimbulkan hilangnya keseimbangan hidup atau sudah sulit kita tangani sendiri, maka yang perlu kita lakukan adalah berkomunikasi dengan orang-orang terdekat.

Komunikasi diperlukan agar orang-orang sekitar tidak salah paham dengan kita. Lebih-lebih jika kita sudah punya pasangan. Mengkomunikasikan apa yang kita rasakan adalah hal yang harus dilakukan agar memahami dan dapat mendukung bagaimana mengatasi.

Konsultasi ke ahli juga sangat diperlukan agar kita tahu berbagai jenis makanan dan gaya hidup yang perlu kita hindari atau yang perlu kita perbanyak untuk mengatasi keadaan. Jangan sampai kita hanya merasakan saja, tanpa ada usaha yang kuat untuk memahami dan mengontrolnya.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait