Mengatasi Penyakit Ringan Tanpa Obat, Mungkinkah?

Orang sering bertanya, mungkinkah penyakit bisa sembuh tanpa obat? Jawabannya mungkin saja. Selama penyakit itu masih ringan, dan keluhan bukan sesuatu yang terlalu mengganggu, lebih banyak keluhan yang akan mereda sendiri.

SEKADAR batuk pilek sesungguhnya tidak memerlukan obat apa pun. Orang Inggris mengatasi batuk pilek dengan beristrahat dan mengonsumsi sup ayam panas. Karena sesungguhnya memberi kesempatan tubuh melawan virus flu, merupakan solusi dalam mengatasi penyakit.

Yang sering terjadi, kita menganggap remeh flu. Flu dianggap lumrah dan biasa. Padahal harus disikapi sebagai penyakit yang memerlukan istirahat dengan membebaskan tubuh dari aktivitas rutin harian. Dengan cara mengistirahatkan tubuh, dan mengkonsumsi menu bergizi, tubuh dikuatkan untuk mampu melawan dan memenangkan perang melawan virus flu.

Tidak demikian jadinya bila tetap melakukan aktivitas harian, terpapar hawa dingin, akan menjadi letih. Masih masuk kantor, atau ke sekolah selama flu berarti mengurangi kemampuan tubuh untuk mengatasi sendiri serangan flu.

Sebagian besar bukan penyakit
Keluhan harian seseorang mungkin bukan karena suatu penyakit. Bisa jadi hanya karena kondisi tidak seimbang. Kurang tidur, kurang gerak-badan, kurang istirahat atau terlambat makan, adalah ungkapan yang kerap kita dengar.

Untuk itu perlu dibuat seimbang kembali. Beristirahat, gerak-fisik/badan, cukup tidur, dan mencukupi menu harian yang bergizi, bagian dari kembali menertibkan cara hidup sehat. Maka keluhan seperti tidak enak badan, pusing, lemah, lesu, perut kembung, mulas, atau sedikit demam, bahkan sudah batuk pilek pun, mungkin belum memerlukan obat apa pun. Sekali lagi harus istirahat dan tidur untuk memulihkan kondisi badan.

Amati pula, apakah hidup kita sudah tertib teratur setiap hari. Sudahkah terbiasa sarapan pagi? Lengkapkah sarapan pagi sebagai sumber energi untuk melakukan aktivitas harian yang produktif. Apakah menu harian tergolong sudah seimbang, tidak kelebihan lemak, tidak pula kebanyakan daging?

Apakah juga sudah bugar secara fisik? Cukupkah menyisihkan waktu buat gerak badan, atau olahraga. Banyak keluhan muncul hanya karena kurang rutin bergerak badan. Sebaliknya, keluhan menghilang setelah terbiasa bergerak badan.

Mengkonsumsi Obat Dengan Bijak
Masyarakat kita paling gampang minum obat. Kendati sekadar obat warung saja pun punya efek samping. Pemakaian obat yang bijak perlu mempertimbangkan manfaat-mudarat obat. Kalau manfaatnya lebih besar daripada resiko efek sampingnya, obat boleh dikonsumsi. Bila tidak demikian sebaiknya, tunda mengkonsumsi obat, sekalipun obat warung dan juga obat resep dokter.

Kita tahu sebagian penyakit bersifat sembuh dengan sendiri (self-limiting diseases). Dengan atau tanpa obat, seperti kebanyakan penyakit virus. Campak, demam berdarah, diare virus, dan flu, umumnya akan menyembuh sendiri tanpa obat. Obat hanya diperlukan untuk meredakan keluhan dan gejala belaka. Namun tidak setiap keluhan dan gejala perlu diobati, jika tidak dirasakan terlalu mengganggu. Maka bijaklah dalam meminum obat, jangan jadikan perut kita seperti apotek. Kalau sakit bisa mereda dengan tidur dan beristirahat kenapa harus memakai obat.

Bahkan untuk penyakit yang tidak ringan pun, pemakaian obat perlu efisien dan aman. Kalau bisa dengan dosis lebih rendah jangan memilih dosis tinggi. Darah tinggi dan kencing manis pun, misalnya, tidak selalu perlu tetap dosisnya. Dengan pantang ketat, mungkin dosis obat bisa dikurangi. Bahkan mungkin bisa tanpa minum obat, kalau dengan diet ketat ditambah olahraga penyakit bisa terkendalikan.

Demikian pula darah tinggi. Sebagian besar bisa diatasi tanpa obat, jika berat badan dibuat ideal, konsumsi garam dapur (sodium) dikurangi, dan cukup bergerak badan. Maka perlu fokus pada urusan diet, dan semua yang harus dipantang, selain mengutamakan bergerak badan atau olahraga. Baru apabila dengan cara hidup tertib dengan penyakit seperti itu masih belum mencapai kesembuhan sempurna, obat diperlukan.

Tidak boros obat
Ya, sebaiknya membangun sikap tidak boros obat. Perhitungan biaya dan khasiat (cost-effective) juga perlu dipertimbangkan. Ada obat yang khasiat sama dengan harga lebih murah, jangan memilih yang lebih mahal. Tidak perlu harus dengan obat yang lebih baru kalau obat lama sudah lebih teruji. Khasiat obat tidak pula ditentukan oleh harga. Tidak semua obat dengan harga tinggi lebih berkhasiat. Bukan karena obat generik maka substandar.

Selain bijak memakai dosis obat mungkin yang dapat memberikan efek sebesar mungkin, kalau bisa dengan tidak memakai obat, itu harus menjadi pilihan paling pertama.

Maka kita harus bijak dalam meminum obat untuk keluhan yang hanya ringan, bahkan untuk penyakit yang bisa sembuh sendiri, atas dasra pertimbangan efek samping dari obat yang diminum.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait